Cuma Karena Sandal, Mimpi Kuliah Thomas Berakhir di Kamar Jenazah
Rumah duka Thomas Julianus Kristianto (19) di Manukan Kulon, Tandes, Kota Surabaya. (sumber: kompas.com)
JAWA TIMUR, SabangMerauke News - Kasus kekerasan remaja kembali terjadi di Surabaya. Korbannya seorang pelajar kelas XII. Namanya Thomas Julius Kristianto. Usianya baru 19 tahun.
Thomas meninggal dunia setelah dikeroyok. Peristiwa itu terjadi pada Minggu dini hari. Korban sempat menjalani perawatan intensif. Nyawanya tak tertolong setelah lima hari koma.
Thomas akhinya menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Dr Soetomo Surabaya, Kamis, 4 Juni 2026. Cedera berat terjadi pada kepalanya. Kondisinya terus memburuk setelah operasi.
Keluarga menduga pemicunya sangat sepele. Perselisihan bermula dari masalah sandal. Persoalan tersebut sebenarnya sudah diselesaikan. Korban bahkan sudah mengganti sandal tersebut.
Kakak korban, Hana Novia Kristiani, mengaku terpukul. Keluarga mengira masalah sudah selesai. Tidak ada lagi konflik terbuka. Semua terlihat baik-baik saja. "Adik saya sudah mengganti sandalnya," kata Hana Novia Kristiani.
Menurut Hana, sandal pengganti sudah diberikan. Akan tetapi, diduga tidak sesuai keinginan pelaku. Perselisihan lama kembali muncul. Situasi kemudian memburuk.
Hana tidak menyangka konflik sederhana berubah tragis. Ia kehilangan adiknya untuk selamanya. Keluarga juga kehilangan harapan besar. Thomas dikenal memiliki banyak cita-cita. "Cuma karena sandal, nyawa adik saya hilang," ujar Hana.
Peristiwa bermula pada Minggu, 31 Mei 2026. Saat itu Thomas keluar dari rumah. Ia hendak membeli minuman ringan. Toko dekat rumah ternyata tutup.
Thomas berjalan menuju lokasi lain. Tujuannya mencari toko yang masih buka. Lokasinya berada dekat sekolahnya. Ia pergi seorang diri.
Di tengah perjalanan, situasi berubah. Empat remaja menghampirinya. Mereka diduga langsung melakukan pengeroyokan. Thomas tidak mampu melawan.
Menurut informasi keluarga, pengeroyokan terjadi mendadak. Korban mengalami banyak pukulan. Kondisinya mulai melemah. Kekerasan tidak berhenti di lokasi pertama.
Sekitar pukul 02.00 WIB, korban dibawa paksa. Lokasinya berpindah ke Jalan Tengger. Kawasan tersebut relatif sepi. Di sana kekerasan kembali terjadi.
Korban mengalami luka serius. Bagian kepala menjadi sasaran utama. Thomas akhirnya tidak sadarkan diri. Kondisinya semakin kritis.
Melihat korban tidak bergerak, pelaku panik. Mereka mencoba membawa Thomas. Tubuh korban dibonceng menggunakan motor. Perjalanan tidak berlangsung lama.
Di kawasan Jalan Manukan Tengah, korban terjatuh. Tubuhnya ambruk ke jalan. Kondisinya sudah tidak sadar. Para pelaku kemudian menghentikan perjalanan.
Korban lalu ditinggalkan di emperan toko. Lokasinya berada dekat toko sembako. Tidak ada keluarga di tempat itu. Thomas terbaring tanpa daya.
Tetangga korban, Nia Sanjaya, mengetahui cerita tersebut. Informasi didapat dari keluarga korban. Ia mengikuti perkembangan sejak awal. Kondisi Thomas membuat warga terpukul. "Korban sempat jatuh dari motor," kata Nia Sanjaya.
Salah satu pelaku lalu menghubungi teman korban. Informasi tersebut diteruskan ke keluarga. Mereka langsung bergerak ke lokasi. Waktu menjadi sangat penting.
Kakek korban, Margono, masih mengingat malam itu. Thomas sempat berpamitan keluar rumah. Tidak ada tanda mencurigakan. Semua terlihat biasa. "Pamit keluar sebentar," kata Margono.
Keluarga menemukan Thomas di klinik. Kondisinya sudah sangat lemah. Luka terlihat di bagian kepala. Korban sempat sadar sesaat.
Saat ditanya oleh tenaga medis, Thomas menjawab. Ia masih mengenali keluarganya. Akan tetapi, kondisinya terus menurun. Kesadaran korban perlahan menghilang.
Karena fasilitas terbatas, korban dirujuk. Ambulans membawanya ke RSUD Dr Soetomo. Rumah sakit tersebut memiliki fasilitas lengkap. Penanganan darurat langsung dilakukan.
Dokter menemukan cedera serius. Tempurung kepala korban retak. Pembengkakan terjadi pada otak. Kondisi tersebut sangat berbahaya.
Korban langsung menjalani operasi. Tim medis berusaha menyelamatkan nyawanya. Harapan keluarga masih ada. Semua menunggu keajaiban.
Hana mengatakan operasi berjalan sulit. Cedera yang dialami sangat berat. Kondisi korban terus memburuk. Lima hari kemudian ia meninggal. "Otaknya bengkak dan kondisinya parah," kata Hana.
Sebelum meninggal, keluarga membuat laporan polisi. Laporan masuk ke Polrestabes Surabaya. Proses hukum langsung berjalan. Polisi bergerak cepat.
Empat terduga pelaku berhasil diamankan. Penangkapan dilakukan dalam waktu singkat. Polisi masih mendalami kasus tersebut. Pemeriksaan terus berlangsung.
Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Hadi Ismanto, membenarkan penangkapan tersebut. Empat orang sudah diamankan. Mereka menjalani pemeriksaan. Penyidik mengumpulkan keterangan tambahan. "Benar, empat orang sudah diamankan," kata Hadi Ismanto.
Ketua RT setempat, Wijayanto Raharjo, juga angkat bicara. Beberapa pelaku diketahui mengenal korban. Sebagian masih berstatus pelajar. Informasi itu memperdalam keprihatinan warga.
Di balik tragedi ini, tersimpan kisah lain. Thomas bukan remaja biasa. Ia dikenal berprestasi. Masa depannya terlihat cerah.
Sejak SMP, Thomas hidup tanpa orang tua. Ia diasuh kakek dan tantenya. Kondisi ekonomi tidak mudah. Akan tetapi, ia tetap berjuang.
Thomas baru lulus dari SMAN 11 Surabaya. Kelulusan diumumkan pada Mei 2026. Ia ingin melanjutkan kuliah. Program beasiswa sudah menanti.
Menurut Nia Sanjaya, Thomas sangat antusias. Ia menyiapkan berkas pendaftaran kuliah. Bahkan sudah mencetak pasfoto. Semua dilakukan demi masa depan. "Fotonya untuk kuliah. Akhirnya jadi foto duka," kata Nia.
Kabar kematian Thomas membuat sekolah terpukul. Waka Humas SMAN 11 Surabaya, Istiawati, mengaku terkejut. Korban dikenal baik dan tertib. Tidak pernah membuat masalah. "Anaknya baik dan tidak bermasalah," kata Istiawati.
Ironisnya, sekolah akan menggelar penyerahan ijazah. Acara dijadwalkan pada 11 Juni 2026. Banyak siswa bersiap merayakan kelulusan. Kursi Thomas akan kosong selamanya.
Kasus ini juga mendapat perhatian DPRD Surabaya. Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya, Anas Karno, mendatangi rumah duka. Ia meminta kasus diusut tuntas. Keadilan harus diberikan. "Negara harus hadir memberi keadilan," kata Anas Karno.
Anas menilai kejadian tersebut tidak boleh dianggap biasa. Korban memiliki masa depan panjang. Ia penerima beasiswa. Cita-citanya belum sempat terwujud.
Kini keluarga hanya menyisakan kenangan. Foto kuliah yang baru dicetak tersimpan rapi. Ijazah sekolah tinggal menunggu dibagikan. Akan tetapi, pemiliknya sudah tiada.
Sebuah sandal menjadi awal konflik. Sebuah nyawa menjadi akhirnya. Surabaya kembali diingatkan. Kekerasan remaja bisa menghancurkan masa depan dalam satu malam. R-02

