Seminggu Terbakar, 20 Hektare Sawit Hangus! Api Masih Bertahan di Kandis
Dua petugas berjibaku memadamkan Karhutla di Pencing Bekulo, Kandis, Siak, Selasa (2/6/2026). (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News — Karhutla Siak kembali menjadi sorotan setelah sekitar 20 hektare lahan terbakar di Kecamatan Kandis. Kebakaran terjadi di kawasan kebun sawit Kampung Pencing Bekulo. Api masih bertahan meski pemadaman berlangsung selama beberapa hari. Tim gabungan terus berjuang mencegah kebakaran meluas ke area sekitar.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius pada musim kemarau. Asap sempat terlihat membumbung dari kawasan perkebunan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga sekitar lokasi. Apalagi, kebakaran sudah berlangsung sejak sepekan terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, mengatakan laporan kebakaran diterima beberapa hari lalu. Lokasi terdampak berada di kawasan kebun sawit PT Agrinas. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare. Hingga Selasa, 2 Juni 2026, proses pemadaman masih terus berjalan.
“Lokasi kebakaran berada di kawasan kebun sawit PT Agrinas di Kampung Pencing Bekulo. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare dan hingga laporan terakhir masih dalam penanganan,” kata Novendra Kasmara, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak.
Kobaran api memang tidak terlihat di banyak titik. Data Pusdalops BPBD Siak bahkan tidak mencatat hotspot satelit pada hari tersebut. Namun, tim lapangan menemukan satu titik firespot aktif. Temuan itu langsung ditindaklanjuti untuk mencegah kebakaran semakin besar.
Pertarungan melawan api berlangsung di medan yang cukup berat. Vegetasi kering membuat bara mudah berpindah tempat. Angin yang berembus juga berpotensi mempercepat penyebaran api. Karena itu, pengawasan dilakukan selama proses pemadaman berlangsung.
Sejumlah unsur turun langsung ke lokasi kejadian. Manggala Agni Daops Pekanbaru ikut memperkuat barisan pemadam. Damkar BMI, Damkar Desa Pencing, Damkar Desa Jambai dan Koramil juga terlibat. Babinsa dari wilayah sekitar turut membantu pengendalian kebakaran.
Tim gabungan tidak hanya memadamkan api. Petugas juga membuat sekat pembatas di sejumlah titik rawan. Langkah tersebut bertujuan menghentikan laju api sebelum menjalar lebih jauh. Strategi itu menjadi salah satu cara paling efektif di lapangan.
“Tim gabungan melakukan pemadaman dan pembuatan sekat agar api tidak menyebar ke area yang lebih luas,” ujar Novendra Kasmara.
Meski begitu, pekerjaan para petugas tidak berjalan mudah. Kendala terbesar berasal dari minimnya sumber air. Lokasi kebakaran cukup jauh dari pasokan air yang memadai. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga ekstra.
Saat api terus menyala di beberapa bagian lahan, petugas harus bekerja lebih keras. Air yang tersedia harus dimanfaatkan seefisien mungkin. Setiap titik api dipantau secara bergantian. Upaya itu dilakukan agar kobaran tidak kembali membesar.
Kesulitan di lapangan membuat BPBD Siak mengambil langkah tambahan. Bantuan helikopter water bombing sudah diajukan. Dukungan udara dinilai mampu mempercepat pengendalian api. Terutama pada area yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Kehadiran water bombing diharapkan memberi hasil maksimal. Ribuan liter air dapat dijatuhkan langsung ke titik panas. Cara ini sering digunakan saat kebakaran lahan meluas. Tim lapangan pun menunggu keputusan terkait permohonan tersebut.
Sementara itu, sumber api masih menjadi misteri. Petugas belum menyimpulkan penyebab kebakaran yang menghanguskan puluhan hektare lahan tersebut. Proses penyelidikan masih terus berjalan. Berbagai kemungkinan masih didalami secara bertahap.
Karhutla menjadi ancaman tahunan di sejumlah wilayah Riau. Saat cuaca mulai mengering, risiko kebakaran meningkat drastis. Lahan perkebunan dan semak belukar menjadi area paling rentan. Karena itu pengawasan harus diperketat sejak dini.
Novendra mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar lebih waspada. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihentikan. Langkah pencegahan jauh lebih penting dibanding penanganan. Kebakaran kecil dapat berubah menjadi bencana besar dalam waktu singkat.
“Kami mengimbau masyarakat dan perusahaan tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran,” kata Novendra Kasmara.
Data harian BPBD Kabupaten Siak menunjukkan kejadian di Kandis menjadi satu-satunya kasus karhutla yang tercatat pada Jumat, 29 Mei 2026. Meski hanya satu kejadian, dampaknya cukup besar. Luas area terdampak mencapai sekitar 20 hektare. Tim gabungan kini masih berjaga agar api benar-benar padam.
Hingga Selasa sore, perjuangan melawan api masih berlangsung. Petugas bergantian menyisir area yang terbakar. Asap tipis masih terlihat dari beberapa titik. Semua berharap hujan atau bantuan udara segera datang untuk mempercepat pemadaman. R-02

