Penyerangan di PT Sinar Belilas Perkasa di Inhu, 6 Karyawan Menderita Luka Tembak dan Bacok
Insiden penyerangan karyawan terjadi di PT Sinar Belilas Perkasa (SBP), Indragiri Hulu, Riau pada Senin (1/6/2026). Sebanyak enam pekerja perusahaan mengalami luka bacok dan tembak akibat serangan sekelompok orang. Foto: Istimewa
RIAU, SabangMerauke News - Insiden penyerangan karyawan terjadi di PT Sinar Belilas Perkasa (SBP), Indragiri Hulu, Riau pada Senin (1/6/2026). Sebanyak enam pekerja perusahaan mengalami luka bacok dan tembak akibat serangan sekelompok orang.
Menurut korban, aksi penyerangan ini berlangsung secara mendadak. Saat pekerja sedang berkumpul di lokasi kerja, namun sekelompok orang mendatangi mereka.
"Saat kami pekerja sedang berkumpul dan sarapan, tiba-tiba mereka datang. Ada sekitar 100 orang banyaknya," kata seorang pekerja Ediyanto dikutip, Senin malam.
Ediyanto menjelaskan, para pekerja tidak sempat berdialog dengan sekelompok penyerang tersebut. Mereka justru langsung mendapat serangan menggunakan senjata tajam.
"Saya langsung dikapak hingga mengenai tangan, lalu ditembak dari belakang dan mengenai paha," katanya.
Tak hanya mendapat serangan senjata tajam, para pekerja mengaku mereka sempat ditembaki oleh pelaku. Akibatnya, mereka lari terbirit-birit, bahkan sebagian masuk ke dalam parit untuk menyelamatkan diri.
Berdasarkan data sementara yang diperoleh, sedikitnya ada 6 korban pekerja dalam tragedi serius ini. Selain Ediyanto, korban lainnya yakni Leo Saputra, Zulkifli, Pesi, Rudi dan Syamsul mengalami luka serius.
Para korban mengalami luka tembak hingga tembus ke dada dan mendekati paru-paru. Sebagian peluru juga mengenai lutut dan punggung korban. Sementara, dua korban bacok mengalami luka di pinggang, punggung dan paha. Dua korban terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit di Pekanbaru.
Diduga penyerangan ini menggunakan senjata air gun, senapan angin. Para korban secara kasat mata mengenal pelaku.
"Kami minta agar pelaku segera ditangkap oleh polisi," kata seorang korban.
Belum ada penjelasan resmi dari pihak perusahaan dan kepolisian atas tragedi penyerangan ini.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, diduga peristiwa ini terkait konflik lahan dan dugaan penjualan lahan diklaim milik perusahaan. (R-03)

