Sejarah Upaya Pembunuhan Presiden Soekarno Saat Salat Iduladha 1962 dan Nasib Para Pelakunya
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SababgMerauke News - Hari Raya Iduladha identik dengan suasana khidmat, penuh doa dan kebersamaan. Namun, perayaan Iduladha pada 14 Mei 1962 menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah Indonesia. Di tengah ribuan jemaah yang sedang khusyuk menunaikan salat Id, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, nyaris kehilangan nyawanya akibat aksi penembakan yang dilakukan sekelompok pelaku bersenjata.
Peristiwa yang terjadi lebih dari enam dekade lalu itu tercatat sebagai salah satu upaya pembunuhan paling berani terhadap kepala negara. Pelaku memanfaatkan suasana salat berjemaah untuk mendekati target, berharap dapat menghabisi sang presiden di tengah kerumunan. Namun, rencana tersebut berakhir gagal dan justru menjadi catatan penting dalam sejarah pengamanan presiden Indonesia.
Saat itu, pelaksanaan Salat Iduladha digelar di lapangan terbuka yang berada di kawasan Istana Merdeka dan Istana Negara, Jakarta. Ribuan jemaah hadir, termasuk pejabat tinggi sipil dan militer serta sejumlah perwakilan negara sahabat. Bung Karno berada di saf terdepan bersama tokoh-tokoh penting negara.
Salat berlangsung normal hingga memasuki rakaat kedua. Ketika suasana sedang hening dan jemaah fokus beribadah, tiba-tiba terdengar letusan senjata api yang memecah ketenangan. Suara tembakan membuat kepanikan seketika menyebar di antara para jemaah yang hadir.
Berdasarkan berbagai catatan sejarah, salah seorang pelaku yang berada beberapa baris di belakang Presiden Soekarno berdiri dan melepaskan tembakan ke arah saf depan. Target utama mereka adalah Bung Karno. Namun, peluru yang ditembakkan gagal mengenai sasaran. Salah satu penyebab kegagalan itu disebut karena pelaku mengalami kesulitan membidik presiden di tengah kerumunan jemaah.
Alih-alih mengenai Presiden Soekarno, peluru justru melukai sejumlah orang di sekitarnya. Ketua DPR saat itu, Zainul Arifin, mengalami luka akibat terkena tembakan. Selain itu, dua anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP), yakni Soedrajat dan Soesilo, juga menjadi korban dalam insiden tersebut.
Situasi sempat berubah menjadi kacau. Jemaah berhamburan mencari perlindungan, sementara aparat keamanan bergerak cepat mengamankan presiden. Salah satu petugas berhasil menggagalkan upaya pelaku yang mencoba mendekati Bung Karno setelah melepaskan tembakan. Pelaku ditendang hingga terjatuh sebelum akhirnya dibekuk bersama rekan-rekannya.
Ketiga pelaku kemudian diamankan. Sebelum dibawa oleh aparat, mereka sempat menjadi sasaran kemarahan massa yang geram atas tindakan nekat tersebut. Beruntung, petugas berhasil mengendalikan situasi sehingga para pelaku dapat dibawa untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Yang menarik, meski baru saja menjadi target pembunuhan, Bung Karno tetap menunjukkan ketenangan luar biasa. Setelah situasi dinilai aman, pelaksanaan Salat Iduladha dilanjutkan hingga selesai. Sikap tenang presiden kala itu menjadi sorotan dan dikenang sebagai bentuk keberanian dalam menghadapi ancaman terhadap dirinya.
Penyelidikan yang dilakukan aparat kemudian mengungkap identitas para pelaku. Mereka diketahui merupakan anggota kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), sebuah gerakan pemberontakan yang pada masa itu menentang pemerintah Indonesia dan berupaya mendirikan negara berdasarkan ideologi mereka sendiri.
Beberapa nama yang disebut terlibat dalam aksi tersebut antara lain Sanusi, Kamil, dan Jaya Permana. Mereka disebut telah merancang aksi pembunuhan terhadap Presiden Soekarno sejak beberapa bulan sebelumnya. Dalam pandangan kelompok tersebut, Bung Karno dianggap sebagai penghalang bagi cita-cita mereka sehingga menjadi target utama serangan.
Kasus ini kemudian diproses secara hukum. Para pelaku diadili atas keterlibatan mereka dalam percobaan pembunuhan terhadap kepala negara. Peristiwa tersebut juga menjadi pelajaran besar bagi pemerintah dalam memperkuat sistem pengamanan presiden dan pejabat tinggi negara.
Sejarah mencatat bahwa upaya pembunuhan saat Salat Iduladha 1962 bukan satu-satunya ancaman yang pernah dihadapi Bung Karno. Selama masa kepemimpinannya, ia beberapa kali menjadi sasaran percobaan pembunuhan dari berbagai kelompok yang menentang pemerintahannya. Namun, insiden di Hari Raya Kurban tersebut menjadi salah satu yang paling dramatis karena terjadi di tengah ibadah yang dihadiri ribuan orang.
Lebih dari 60 tahun berlalu, peristiwa itu tetap dikenang sebagai salah satu episode penting dalam perjalanan bangsa. Kisah bagaimana Presiden Soekarno lolos dari maut di tengah gema takbir Iduladha menjadi pengingat bahwa perjalanan sejarah Indonesia tidak pernah lepas dari berbagai tantangan, termasuk ancaman langsung terhadap pemimpin negara. (R-05)

