TNI AL Sikat Kapal Tunda Bawa 390 Ton Mineral Tanah Jarang Bernilai Triliunan Rupiah di Batam
Kasum TNI, Letjen Richard Taruli Tampubolon, memeriksa peti kemas berisi minerba tanah jarang di Dermaga Kodaeral IV, Batam. (sumber: Dispen Kodaeral IV)
KEPRI, SabangMerauke News - Sebuah kapal tunda bergerak perlahan menyusuri perairan laut Batam, Kepulauan Riau pada Minggu, 17 Mei 2026. Kapal bernama TB Capricorn itu memuat puluhan kontainer. Tiba-tiba, kapal perang TNI AL KRI Kujang-642 datang menghadang.
Saat momen tepat tiba, awak kapal tunda hanya bisa terdiam melihat puluhan prajurit TNI AL memeriksa 25 kontainer yang tersusun rapi. Dari sinilah cerita besar bermula, ketika isi kontainer ternyata bukan sekadar pasir atau mineral biasa.
Di balik peti-peti itu, tersimpan 390 ton logam tanah jarang atau rare earth yang bernilai sangat tinggi di pasar global, mencapai triliunan rupiah. Beberapa sampel bahkan diduga mengandung unsur radioaktif yang biasa dipakai untuk kebutuhan teknologi energi tingkat lanjut. Temuan ini langsung membuat operasi kecil di laut berubah jadi perhatian nasional dalam hitungan jam.
Kepala Staf Umum TNI, Letjen TNI Richard Tampubolon, kemudian turun langsung ke Batam untuk melihat situasi. Ia menyaksikan sendiri tumpukan kontainer yang menjadi barang bukti utama di Dermaga Kodaeral IV. “Pemeriksaan ini penting untuk memastikan semua dugaan pelanggaran benar terjadi di lapangan,” ujar Richard di Batam, Rabu, 27 Mei 2026.
Di lokasi yang sama, aparat gabungan dari TNI AL, Kejaksaan Agung, hingga unsur pemerintah ikut melakukan pengecekan. Satu per satu kontainer dibuka untuk mencocokkan isi dengan dokumen yang dibawa kapal saat berlayar. Hasil awal menunjukkan adanya ketidaksesuaian yang memicu penyelidikan lebih dalam.
Pangkoarmada RI, Laksdya TNI Denih Hendrata, menegaskan proses pendalaman masih berjalan dan belum bisa dipastikan seluruh isi muatan. “Jenis dan jumlah masih dalam penyelidikan,” ujar Denih saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026. Pernyataan itu menandakan kasus ini masih jauh dari kata selesai dan terus berkembang di lapangan.
Dari hasil uji laboratorium awal di PT Timah Kundur, sebagian sampel menunjukkan kandungan oksida titanium. Tidak hanya itu, juga ditemukan indikasi logam tanah jarang seperti neodymium dan cerium, serta unsur lain yang berkaitan dengan material radioaktif. Temuan ini membuat perhatian terhadap kasus semakin serius karena menyangkut komoditas strategis negara.
Komandan Kodaeral IV, Laksda TNI Berkat Widjanarko, menjelaskan nilai muatan kapal diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Ia juga menyebut penggagalan ini sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan alam Indonesia dari aktivitas ilegal. “Ini bentuk komitmen menjaga kedaulatan dan sumber daya nasional,” katanya dalam keterangan resmi.
Penangkapan kapal TB Capricorn berawal dari patroli rutin di perairan Kepulauan Riau. KRI Kujang-642 yang sedang bertugas langsung melakukan pengawasan hingga akhirnya melakukan tindakan penghentian. Sejak saat itu, kapal beserta kru diamankan untuk proses penyidikan lebih lanjut di Batam.
Di balik kasus ini, logam tanah jarang menjadi sorotan utama karena perannya dalam teknologi modern. Unsur ini banyak dipakai untuk baterai, perangkat elektronik, hingga energi masa depan yang bernilai tinggi. Indonesia sendiri memiliki potensi besar sehingga pengelolaannya menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menegaskan pentingnya pengelolaan dan hilirisasi komoditas strategis ini. Ia menyebut logam tanah jarang harus dikuasai negara agar tidak keluar melalui jalur ilegal. Pernyataan itu kini kembali relevan seiring pengungkapan kasus di Batam yang mencuat ke publik.
Sementara itu, aparat gabungan masih terus mendalami alur distribusi dan kemungkinan jaringan yang terlibat. Setiap dokumen, jalur pelayaran, hingga muatan kontainer diperiksa secara detail untuk mencari titik terang. Proses ini diperkirakan masih akan berlangsung cukup panjang karena skala kasus yang besar.
Di lapangan, suasana dermaga Kodaeral IV Batam tampak dijaga ketat sejak barang bukti diturunkan. Aktivitas pemeriksaan berlangsung intensif tanpa banyak sorotan publik langsung di area pelabuhan. Namun, efek dari kasus ini sudah menyebar luas hingga menjadi perhatian nasional.
Kasus penyelundupan ini akhirnya bukan hanya soal kapal yang ditangkap di laut. Lebih jauh, ini soal bagaimana sumber daya strategis dijaga di tengah jalur perdagangan internasional yang rawan. Dan laut Batam kembali membuktikan, di balik tenangnya ombak, bisa saja tersimpan cerita besar bernilai triliunan rupiah. R-02

