Dari Bengkel Sekolah ke Luar Negeri, Program Baru Kemendikdasmen Bikin Anak SMK Semangat
Ilustrasi siswa SMK sedang praktek di bengkel metalurgi. (sumber: antarafoto)
JAKARTA, SabangMerauke News - Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sekarang mulai menatap masa depan lebih jauh dari sekadar ruang praktik sekolah. Pemerintah mulai menyiapkan program sertifikasi bahasa asing agar lulusan SMK siap bekerja hingga kuliah di luar negeri. Jepang, Korea Selatan, sampai Eropa mulai masuk daftar mimpi baru anak-anak vokasi Indonesia.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai membuka jalan baru bagi siswa SMK Indonesia. Program sertifikasi bahasa asing resmi disiapkan untuk memperbesar peluang kerja internasional. Langkah ini juga menjawab kebutuhan tenaga kerja global yang terus meningkat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan lulusan SMK memiliki potensi besar untuk bersaing di dunia internasional. Kemampuan bahasa asing dinilai penting untuk menghadapi persaingan kerja modern.
Anak SMK diharapkan mampu membawa kualitas Indonesia ke level global. “Kami ingin lulusan SMK Indonesia memiliki kompetensi global dan mampu bersaing di dunia internasional,” ujar Abdul Mu’ti, Jumat, 22 Mei 2026.
Program tersebut berjalan dengan dua jalur utama. Jalur pertama berfokus pada bahasa asing selain bahasa Inggris. Bahasa Jepang, Korea, Mandarin, Arab, Jerman, hingga Prancis mulai diajarkan lebih serius.
Sebanyak 120 SMK sudah masuk tahap awal program tersebut. Sekitar 13 ribu siswa menjadi target sertifikasi bahasa asing non-Inggris. Jumlah itu diperkirakan terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang.
Jalur kedua memakai sertifikasi bahasa Inggris melalui TOEIC. Program ini jauh lebih besar dan menjangkau sekitar 170 ribu siswa SMK. Lebih dari 800 sekolah ikut dalam pelaksanaan program.
Suasana sekolah vokasi sekarang mulai terasa berbeda. Anak jurusan otomotif sibuk belajar percakapan bahasa Jepang. Siswa tata boga mulai menghafal istilah dapur internasional sambil membayangkan bekerja di hotel luar negeri.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan dunia kerja sekarang tidak hanya melihat ijazah. Kemampuan komunikasi dan adaptasi global mulai menjadi perhatian utama perusahaan internasional.
“Bahasa menjadi jembatan masa depan. Lulusan SMK harus percaya diri bersaing secara internasional,” kata Tatang Muttaqin.
Program tersebut juga lahir dari perubahan mimpi anak-anak SMK Indonesia. Dulu banyak siswa hanya ingin cepat bekerja dekat rumah. Sekarang banyak anak mulai berani menargetkan Jepang dan Korea Selatan.
Cerita Muhammad Ogya As Syifa menjadi salah satu gambaran perubahan tersebut. Alumni SMKN 1 Tulungagung itu segera berangkat bekerja ke Korea Selatan. Pemuda sederhana itu ingin membantu ekonomi keluarga lewat penghasilan luar negeri.
Ogya berasal dari keluarga pembuat genteng tradisional di Tulungagung, Jawa Timur. Sejak kecil dirinya terbiasa membantu orang tua bekerja. Kini Korea Selatan menjadi jalan untuk mempercepat mimpi membesarkan usaha keluarga. “Kalau Korea gajinya besar. Saya ingin bantu usaha keluarga berkembang,” ujar Ogya, Sabtu, 22 Mei 2026.
Ogya berharap bisa membeli tanah tambahan dan memperluas usaha genteng keluarganya. Dirinya juga ingin membuka lapangan kerja baru di kampung halaman. Mimpi sederhana itu sekarang terasa semakin dekat.
Cerita lain datang dari Taufik Hidayat Febrian. Alumni SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang tersebut segera bekerja di perusahaan otomotif Jepang. Kota Kobe menjadi tujuan baru perjalanan hidupnya.
Taufik berasal dari keluarga petani penggarap dengan ekonomi sederhana. Demi sekolah, dirinya tinggal di asrama gratis selama merantau ke Malang. Jepang dipilih karena dianggap memiliki sistem kerja disiplin dan jelas.“Jepang memberi keamanan kerja dan penghasilan yang menjanjikan,” ujar Taufik.
Taufik menargetkan untuk bekerja sekitar 10 tahun sebelum kembali membuka usaha sendiri di Indonesia. Dirinya ingin mengubah nasib keluarga lewat pengalaman kerja luar negeri. Semangat itu membuat banyak siswa lain ikut termotivasi.
Sementara itu, alumnus LKP Duta Mandiri Tulungagung bernama Kurniawanto memiliki mimpi berbeda. Setelah bekerja sebagai caregiver di Jepang, dirinya ingin membangun panti jompo di Indonesia. Pengalaman luar negeri ingin dipakai untuk membantu lansia Tanah Air. “Cari pengalaman dan modal dulu di Jepang, lalu bangun panti jompo,” kata Kurniawanto.
Cerita unik juga datang dari Lovely Junero Berneza Lasut. Alumni SMKN 1 Buduran, Sidoarjo itu sejak SMP sudah bercita-cita bekerja di Jepang. Dirinya serius belajar bahasa Jepang demi mengejar mimpi tersebut.
Junero bahkan ingin bekerja sambil kuliah di Jepang. Dirinya juga berharap suatu hari dapat membawa kedua orang tua untuk tinggal bersama. Mimpi itu dulu terasa jauh, sekarang mulai terlihat nyata. “Impian saya bekerja sambil kuliah di Jepang dan membahagiakan orang tua,” ujar Junero.
Program sertifikasi bahasa asing ini membuat suasana sekolah berubah menjadi lebih hidup. Banyak siswa mulai merasa memiliki masa depan yang lebih luas. Dunia luar sekarang tidak lagi terasa terlalu jauh.
Kemendikdasmen juga menggelar bimbingan teknis bagi sekolah peserta program. Langkah itu dilakukan agar pelaksanaan berjalan rapi dan merata. Guru mulai dibekali panduan mengajar bahasa asing sesuai kebutuhan industri global.
Di beberapa sekolah, lorong kelas mulai dipenuhi tulisan bahasa Jepang dan Korea. Anak-anak SMK perlahan terbiasa memakai sapaan internasional saat belajar. Suasana sekolah terasa seperti campuran bengkel dan kursus luar negeri.
Tatang Muttaqin menilai bekerja di luar negeri bukan sekadar mencari gaji besar. Pengalaman internasional juga membentuk disiplin dan mental kerja yang lebih kuat. Lulusan SMK diharapkan mampu menjaga nama baik Indonesia. “Ke mana pun pergi, tetap jaga nama baik bangsa Indonesia,” ujar Tatang.
Pemerintah berharap program ini mampu membuka lebih banyak peluang kerja global bagi lulusan vokasi. Selain kemampuan teknis, perusahaan internasional sekarang mencari pekerja dengan komunikasi yang baik. Bahasa asing menjadi kunci untuk membuka pintu tersebut.
Anak-anak SMK kini mulai sadar bahwa kemampuan bahasa bisa mengubah masa depan. Dulu ruang kelas terasa biasa saja. Sekarang banyak siswa mulai membayangkan Tokyo, Seoul, hingga Berlin setelah lulus sekolah.
Program ini perlahan mengubah cara pandang pendidikan vokasi Indonesia. Anak SMK tidak lagi sekadar mencari pekerjaan cepat. Mereka mulai mengejar mimpi besar dengan langkah lebih percaya diri. R-02

