Rupiah Nyaris Tembus Rp17.700, Harga Minyak Dunia Ikut Bikin Geger
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat pagi, 22 Mei 2026. Pagi ini, pasar keuangan Indonesia terasa seperti baru bangun dengan wajah kusut dan napas berat. Saat negara Asia lain mulai bergerak hijau, rupiah justru masih berjalan tertatih.
Data Bloomberg pukul 09.15 WIB mencatat rupiah melemah menuju Rp17.683 per dolar AS. Tak lama berselang, tekanan makin dalam hingga mendekati Rp17.700 per dolar AS. Angka itu membuat pelaku pasar kembali ramai membicarakan kondisi ekonomi nasional.
Suasana pasar pagi ini memang belum benar-benar tenang. Harga minyak dunia masih tinggi, dolar AS tetap kuat, dan konflik Timur Tengah belum reda sepenuhnya. Kombinasi itu membuat mata uang negara berkembang seperti rupiah gampang goyah.
Harga minyak Brent naik hampir dua persen menuju US$104,94 per barel. Sementara minyak mentah WTI ikut naik hingga US$98,13 per barel. Ketika harga energi dunia melonjak, negara pengimpor seperti Indonesia otomatis ikut berkeringat.
Kenaikan harga minyak membuat biaya impor makin mahal. Risiko inflasi juga ikut naik karena harga barang bisa terdorong lebih tinggi. Situasi seperti ini biasanya membuat investor lebih hati-hati menyimpan uang di negara berkembang.
Di pasar Asia, mayoritas mata uang juga ikut melemah pagi ini. Won Korea Selatan, ringgit Malaysia, yen Jepang, hingga baht Thailand sama-sama bergerak di zona merah. Namun, tekanan terhadap rupiah terlihat lebih berat dibandingkan dengan beberapa mata uang lainnya.
Dolar Amerika Serikat masih dianggap sebagai tempat paling aman saat kondisi global sedang panas. Investor dunia ramai-ramai masuk ke dolar sambil menunggu situasi ekonomi lebih jelas. Akibatnya, mata uang lain perlahan kehilangan tenaga.
Ketidakpastian datang dari konflik Timur Tengah yang belum benar-benar selesai. Meski Amerika Serikat dan Iran mulai membuka ruang dialog damai, pasar masih belum percaya sepenuhnya. Investor khawatir konflik energi bisa kembali meledak kapan saja.
Direktur Strategi FICC CIBC Capital Markets Toronto, Noah Buffam, mengatakan harga minyak masih menjadi ancaman besar bagi ekonomi global. Menurutnya, dunia biasanya mulai melambat setelah harga energi tinggi berlangsung beberapa bulan. Kondisi itu membuat investor lebih waspada terhadap negara berkembang.
“Kami masih berhati-hati terhadap mata uang yang sensitif terhadap pertumbuhan global,” ujar Noah Buffam. Pernyataan tersebut langsung jadi perhatian pelaku pasar internasional. Efeknya terasa hingga ke pergerakan rupiah pagi ini.
Di dalam negeri, pasar juga masih dibayangi kekhawatiran ekonomi domestik. Investor belum sepenuhnya yakin terhadap arah kebijakan fiskal dan pengelolaan ekonomi nasional. Akibatnya, pasar bergerak seperti orang berjalan di jalan licin.
Bank Indonesia sebenarnya sudah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen. Langkah itu dilakukan demi menjaga stabilitas rupiah dan menahan tekanan pasar. Namun, kondisi global yang masih panas membuat rupiah belum mampu bernapas lega.
Selain itu, pasar juga menyoroti rencana pemerintah untuk membentuk BUMN khusus ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau PT DSI. Kebijakan tersebut bertujuan mengatur ekspor komoditas strategis nasional. Namun, sebagian investor justru melihatnya sebagai sumber ketidakpastian baru.
Lembaga pemeringkat internasional mulai ikut memberi catatan terhadap kebijakan tersebut. Moody’s dan S&P Global Ratings menilai kontrol ekspor berpotensi meningkatkan risiko regulasi. Investor pun mulai khawatir terhadap iklim usaha jangka panjang.
Media asing bahkan mulai ikut menyoroti pelemahan rupiah beberapa hari terakhir. Channel News Asia dari Singapura menulis laporan khusus mengenai kondisi mata uang Indonesia. Mereka menyebut rupiah kini berada di salah satu level terlemah sepanjang tahun.
Media tersebut juga menyinggung trauma krisis ekonomi 1998 yang masih membekas di masyarakat Indonesia. Saat itu rupiah runtuh dan kondisi ekonomi kacau balau. Meski situasi sekarang jauh berbeda, sentimen psikologis tetap membuat pasar mudah panik.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan harga minyak tinggi bisa memperbesar beban subsidi energi pemerintah. Kondisi itu dapat memengaruhi fiskal dan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional. Saat pasar mulai ragu, tekanan terhadap rupiah biasanya makin besar.
“Investor khawatir harga minyak tinggi bisa membebani fiskal Indonesia,” ujar Josua Pardede. Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi pasar yang masih sensitif saat ini. Sedikit sentimen negatif saja bisa langsung membuat rupiah tertekan.
Tak hanya rupiah, pasar saham Indonesia juga ikut limbung pagi ini. IHSG kembali bergerak di zona merah dan mendekati level psikologis 6.000. Ketika saham dan rupiah sama-sama turun, suasana pasar langsung terasa tegang.
Para analis menilai tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih berlanjut dalam waktu dekat. Pasar masih menunggu perkembangan konflik global dan arah kebijakan ekonomi nasional berikutnya. Selama ketidakpastian belum hilang, rupiah masih sulit bergerak bebas.
Meski begitu, sebagian ekonom percaya kondisi Indonesia belum mengkhawatirkan seperti masa krisis dulu. Cadangan devisa masih cukup kuat dan perbankan tetap stabil. Namun, pasar tetap membutuhkan kepastian agar kepercayaan investor kembali pulih.
Pagi ini rupiah memang terlihat lemah, tetapi pasar keuangan memang sering bergerak seperti cuaca. Kadang cerah, kadang mendung tanpa aba-aba. Saat dunia sedang ribut seperti sekarang, mata uang negara berkembang biasanya paling cepat terkena angin kencang. R-02

