Konsisten Enam Tahun Digelar, Festival Telaga Air Merah Mulai Naik Kelas, Peluang Menuju Event Nasional Kian Terbuka
Bupati Kepulauan Meranti H Asmar bersama pihak terkait saat hadir melakukan pembukaan Festival Telaga air Merah di Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Foto: SM News
RIAU, SabangMerauke News - Di balik rindangnya pepohonan dan tenangnya air gambut di Telaga Air Merah, tersimpan semangat besar masyarakat Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat, dalam menjaga budaya sekaligus membangkitkan pariwisata daerah.
Kawasan wisata Telaga Air Merah kini kembali menjadi pusat perhatian masyarakat. Setiap tahun, kawasan yang dikenal dengan keindahan alam dan nuansa kearifan lokal itu selalu hidup melalui berbagai kegiatan budaya yang digagas secara swadaya oleh masyarakat.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tanjung Mandiri menjadi motor penggerak di balik geliat tersebut. Setelah sebelumnya rutin menggelar Lomba Pacu Sampan dan Kemah Budaya, pada tahun keenam penyelenggaraannya kegiatan itu kini berkembang lebih besar dengan nama baru, yakni Festival Telaga Air Merah.
Perubahan konsep tersebut menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat desa mampu membangun sektor pariwisata berbasis komunitas dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap kampung halaman.
Festival itu bukan hanya sekadar hiburan tahunan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, ekonomi, dan pelestarian alam yang tumbuh dari kesadaran masyarakat sendiri.
Dukungan dari berbagai pihak pun turut memperkuat langkah tersebut. Pemerintah daerah, masyarakat setempat, hingga pihak swasta seperti PT Imbang Tata Alam (ITA) ikut mengambil bagian dalam mendukung pengembangan kawasan wisata itu.
Sebagai sponsor utama sekaligus mitra Pokdarwis, PT ITA dinilai memiliki kontribusi penting dalam mendukung pengelolaan Telaga Air Merah. Tidak hanya melalui dukungan kegiatan, perusahaan tersebut juga terlibat dalam pelatihan dan pengembangan kapasitas masyarakat lokal agar mampu mengelola potensi wisata secara mandiri dan berkelanjutan.
Hal ini menegaskan komitmen perusahaan untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat setempat melalui kolaborasi dengan desa.
Dengan luas kawasan mencapai kurang lebih lima hektare, Telaga Air Merah perlahan terus bertransformasi menjadi ikon wisata berbasis kearifan lokal di Kepulauan Meranti.
Keindahan alam yang dipadukan dengan budaya masyarakat menjadikan kawasan itu memiliki daya tarik tersendiri. Di sana, masyarakat tidak hanya menjaga alam sebagai warisan, tetapi juga menjadikannya sumber harapan ekonomi baru bagi desa.
Melalui Festival Telaga Air Merah, masyarakat ingin menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya tentang destinasi, melainkan tentang bagaimana budaya, alam, dan kehidupan warga dapat tumbuh berdampingan.
Event tahunan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan dan penguatan identitas budaya daerah dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi masyarakat.
Inisiatif kolaboratif ini bukan hanya membangun tempat wisata sebagai pusat ekonomi, tetapi juga mengutamakan kemandirian ekonomi masyarakat lokal.
Di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat Desa Tanjung memilih menjaga akar budaya mereka sambil membuka jalan menuju masa depan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Perhelatan Festival Telaga Air Merah yang digelar selama dua hari berturut-turut, mulai Sabtu (16/5/2026) hingga Minggu (17/5/2026).
Festival yang kini menjadi agenda budaya dan wisata tahunan masyarakat itu berlangsung meriah dengan berbagai perlombaan dan kegiatan seni budaya yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.
Beragam perlombaan digelar untuk memeriahkan festival tersebut, mulai dari Pacu Sampan kategori dewasa dan pelajar, lomba mencucuk atap, lomba mewarnai, hingga malam apresiasi seni budaya yang diisi pertunjukan orkestra Melayu, pembakaran api unggun, dan camping ground di kawasan wisata Telaga Air Merah.
Suasana festival terasa semakin hidup ketika masyarakat dari berbagai desa memadati kawasan wisata yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi berbasis kearifan lokal di Kepulauan Meranti.
Hadir langsung dalam kegiatan itu, Bupati Kepulauan Meranti H. Asmar bersama Ketua TP PKK Ismiatun. Kehadiran orang nomor satu di Kepulauan Meranti tersebut menjadi perhatian masyarakat, terlebih ketika ia tetap hadir di tengah rintik hujan yang membasahi lokasi kegiatan.
Turut hadir Ketua Komisi III DPRD Kepulauan Meranti Cun Cun bersama anggota DPRD lainnya, yakni Lianita Muharni dan Suzami. Hadir pula Area Manager PT Imbang Tata Alam (ITA), Supriyanto, serta Koordinator Program Tanggung Jawab Sosial (CSR) PT ITA, Arip Hidayatuloh serta manajemen perusahaan lainnya.
Selain itu tampak hadir sejumlah pejabat kecamatan dan kepala desa, termasuk Kapolsek Tebingtinggi Barat Ipda D. Turnip, Kasat Intelkam Iptu Rolly Irvan, serta Kasat Polair Iptu Abdul Roni.
Festival tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan dan perlombaan, tetapi juga menjadi ruang berbagi gagasan dan pengalaman dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat.
Dalam sesi sharing session yang dilaksanakan, hadir Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Provinsi Riau, Dodi Rasyid Amin, yang dikenal sebagai penggagas Festival Subayang. Selain itu hadir pula Ketua Pokdarwis Batu Dinding, Desa Wisata Tanjung Belit, Kabupaten Kampar, Dedi Irawan, serta penggiat media sosial asal Yogyakarta, Saiful Bahtiar.
Kehadiran para penggiat wisata itu memberikan wawasan baru bagi Pokdarwis dan masyarakat Desa Tanjung tentang bagaimana membangun pariwisata berbasis komunitas yang mampu tumbuh secara berkelanjutan tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
Tidak hanya itu, sejumlah grup EMP juga ikut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya PT Energi Mega Perkasa (EMP), PT ITA, PT EMP Tonga Padang Lawas Sumatera Utara, PT EMP Bentu Limited, PT EMP Gandewa, EMP Korinci Baru Limited, hingga PT EMP Tunas Energi.
Festival itu juga dihadiri berbagai komunitas dan penggiat wisata dari sejumlah daerah di Provinsi Riau seperti Pelalawan, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Siak, Bengkalis, Kota Pekanbaru, Kampar, dan Indragiri Hilir yang tergabung dalam GenPI.
Hadir pula penggiat ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah Kampung Kayu Ara Permai Kabupaten Siak, Kepala Desa Sayur Matua Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas Sumatera Utara, serta Camat dan Kepala Desa Langgam Kabupaten Pelalawan.
Namun di balik semarak festival yang berhasil menghadirkan berbagai tokoh pariwisata dan tamu dari luar daerah itu, ada hal yang cukup disayangkan oleh masyarakat dan panitia pelaksana.
Di saat Bupati Kepulauan Meranti turun langsung menghadiri kegiatan di tengah hujan dan medan lokasi yang cukup jauh, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) justru tidak tampak hadir sama sekali.
Mulai dari Kepala Dinas, Kepala Bidang, Kepala Seksi hingga perwakilan dinas disebut tidak hadir meski sebelumnya telah diundang secara resmi oleh panitia.
Kondisi itu menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat, sebab festival yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat dan Pokdarwis tersebut justru berhasil menarik perhatian banyak pihak luar daerah, sementara OPD yang membidangi sektor pariwisata daerah malah absen dalam momentum penting pengembangan wisata lokal tersebut.
Kehadiran Bupati Kepulauan Meranti H. Asmar bersama rombongan di Festival Telaga Air Merah disambut penuh semangat dan nuansa budaya Melayu yang kental oleh masyarakat Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat.
Setibanya di lokasi, Bupati terlebih dahulu mengikuti prosesi pemotongan pita sebagai tanda peresmian jalan sepanjang 1.650 meter dengan lebar tiga meter yang dibangun secara swakelola sejak tahun 2021 oleh PT ITA bersama masyarakat setempat.
Pembangunan jalan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi nyata antara perusahaan dan masyarakat dalam mendukung akses menuju kawasan wisata Telaga Air Merah yang selama ini terus berkembang menjadi destinasi wisata berbasis komunitas di Kepulauan Meranti.
Usai prosesi peresmian jalan, suasana semakin meriah ketika Bupati dan rombongan diiringi tabuhan kompang jedug menuju kawasan Telaga Air Merah. Alunan musik tradisional itu berpadu dengan atraksi pencak silat yang menyambut kedatangan tamu kehormatan sebelum memasuki area utama festival.
Nuansa budaya yang ditampilkan itu terasa semakin lengkap dengan hadirnya berbagai pertunjukan seni sebagai bentuk akulturasi budaya masyarakat pesisir.
Atraksi Barongsai dari Gapura Gempita Selatpanjang turut memeriahkan festival dan menyita perhatian pengunjung yang memadati lokasi acara. Tidak hanya itu, penampilan tari Zapin Kreasi Mahligai Permata juga tampil memukau dengan balutan gerakan khas Melayu yang anggun dan penuh makna budaya.
Di tengah kemeriahan festival, panitia juga menyisipkan kegiatan sosial melalui penyerahan bantuan dan santunan kepada anak yatim. Momen tersebut menjadi simbol bahwa festival tidak hanya sekadar hiburan dan promosi wisata, tetapi juga menjadi ruang memperkuat nilai kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Perpaduan budaya, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang ditampilkan dalam Festival Telaga Air Merah itu seolah menjadi wajah lain pariwisata Kepulauan Meranti, dimana alam, tradisi, dan nilai kemanusiaan tumbuh berjalan berdampingan.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Tanjung, Muhammad Anas, menyampaikan bahwa pengelolaan kawasan wisata Telaga Air Merah menjadi salah satu unit usaha yang dijalankan oleh BUMDes Tanjung Mandiri sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi desa berbasis potensi lokal.
Menurutnya, keberadaan wisata Telaga Air Merah sejauh ini terus menunjukkan perkembangan yang positif dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan desa maupun masyarakat sekitar.
“Wisata Telaga Air Merah salah satunya adalah unit usaha BUMDes Desa Tanjung Mandiri yang Alhamdulillah sampai sekarang berjalan dengan baik dan sukses. Alhamdulillah juga di tahun 2025 kemarin, PAD atau keuntungan yang dihasilkan BUMDes Desa Tanjung Mandiri kurang lebih Rp183 juta,” ujar Muhammad Anas.
Ia mengatakan, meskipun angka tersebut belum terlalu besar, namun hasil itu menjadi bukti bahwa pengelolaan potensi wisata desa secara mandiri mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan desa.
“Walaupun sedikit demi sedikit, namun bisa memberikan kontribusi ke desa dan juga kepada masyarakat lainnya,” katanya.
Bagi masyarakat Desa Tanjung, Telaga Air Merah bukan hanya sekadar tempat wisata. Kawasan itu perlahan telah menjadi sumber penghidupan baru bagi warga sekitar.
Di setiap momen festival maupun hari libur, banyak masyarakat memanfaatkan keramaian pengunjung untuk membuka lapak makanan dan minuman di sekitar kawasan telaga. Tidak sedikit pula warga yang menyewakan tikar bagi pengunjung yang ingin bersantai menikmati suasana alam di tepian air.
Aktivitas sederhana itu menjadi denyut ekonomi kecil yang terus bergerak di tengah masyarakat.
Keberadaan wisata Telaga Air Merah pun dinilai selaras dengan tujuan utama pembentukan BUMDes, yakni memberdayakan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi desa yang dimiliki sendiri.
Dari kawasan yang dahulu hanya dikenal sebagai embung milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), yang sudah berhenti beroperasi, kini Telaga Air Merah perlahan tumbuh menjadi ruang harapan baru bagi masyarakat Desa Tanjung untuk membangun ekonomi desa melalui kekuatan wisata berbasis komunitas dan gotong royong masyarakat.
Di balik berkembangnya kawasan wisata Telaga Air Merah, ada proses panjang kolaborasi yang terus dibangun antara masyarakat, pemerintah desa, Pokdarwis, hingga pihak perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR.
Koordinator Program CSR PT Imbang Tata Alam (ITA), Arip Hidayatuloh, menceritakan bagaimana kawasan wisata Telaga Air Merah perlahan tumbuh menjadi lebih baik dan mulai memberi dampak nyata terhadap kemandirian masyarakat desa.
Menurutnya, perubahan yang terjadi hari ini bukanlah sesuatu yang datang secara instan, melainkan hasil dari semangat bersama yang terus dirawat dari waktu ke waktu.
“Pengelolaan Telaga Air Merah sekarang semakin baik. Kemandirian desa dan masyarakat juga mulai tumbuh lebih baik,” ujarnya.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan wisata berbasis komunitas, PT ITA turut menghadirkan tamu dan penggiat wisata dari luar daerah agar dapat melihat langsung potensi wisata dan semangat masyarakat Kepulauan Meranti.
Rombongan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Provinsi Riau bersama penggiat wisata dari berbagai kabupaten datang ke Selatpanjang menggunakan Kapal Jelatik, transportasi laut yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Meranti.
Perjalanan panjang selama kurang lebih 13 jam itu justru menjadi pengalaman tersendiri bagi para tamu yang datang dari luar daerah.
Setibanya di Selatpanjang, para peserta kemudian diajak mengeksplorasi berbagai sudut daerah. Mereka dijemput menggunakan becak motor, menikmati sarapan khas daerah, sebelum akhirnya menuju kawasan wisata Telaga Air Merah di Kecamatan Tebingtinggi Barat.
Bagi Arip, seluruh proses perjalanan itu sesungguhnya merupakan bagian penting dari pariwisata itu sendiri.
“Apa yang ingin kami sampaikan adalah wisata itu bagian dari proses transaksi itu sendiri,” katanya.
Menurutnya, setiap aktivitas wisata yang terjadi sebenarnya menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat, mulai dari transportasi, kuliner, penginapan, hingga jasa masyarakat lokal.
“Ini luar biasa. Kalau dihitung angkanya mungkin sudah luar biasa,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan festival kali ini turut didukung sekitar 90 anggota Pokdarwis dari berbagai daerah yang datang dan ikut terlibat langsung dalam kegiatan di Telaga Air Merah.
“Mereka datang ke sini, tidur di tenda dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan,” katanya.
Tidak hanya itu, kehadiran sejumlah grup EMP ke Kepulauan Meranti, menurut Arip, juga menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama.
Menurutnya, banyak pihak luar yang ingin melihat langsung bagaimana masyarakat di daerah dengan keterbatasan infrastruktur dan kondisi geografis yang cukup berat ternyata mampu membangun kawasan wisata secara mandiri dan penuh semangat.
“Mereka belajar ke PT Imbang Tata Alam dan juga ke masyarakat Meranti. Bagaimana kondisi yang tidak optimal, kondisi yang berat berada di kampung, ternyata bisa membangun seperti ini,” ujarnya.
Semangat juang masyarakat itulah yang menurutnya menjadi inspirasi bagi banyak pihak.
“Semangat juang mereka menjadi upaya bagi kami sehingga dari seluruh wilayah belajar di sini,” katanya.
Kehadiran para tamu dari luar daerah itu juga memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Karena selama festival berlangsung, sejumlah tamu menginap di rumah-rumah warga yang disulap menjadi homestay sederhana.
“Alhamdulillah nginepnya di rumah-rumah, di homestay. Ada tujuh rumah yang dijadikan homestay sehingga ada perputaran ekonomi dan ini luar biasa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arip Hidayatuloh menyampaikan bahwa membangun Kepulauan Meranti agar lebih maju bukanlah pekerjaan satu pihak semata, melainkan tujuan bersama yang harus diwujudkan melalui kolaborasi berbagai elemen.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur, khususnya fasilitas penunjang pariwisata, menjadi salah satu hal penting dalam mendukung berkembangnya kawasan wisata berbasis masyarakat seperti Telaga Air Merah.
Ia mengingat kembali bagaimana kondisi akses menuju lokasi wisata tersebut pada awal-awal pengembangan masih cukup berat dan melelahkan bagi pengunjung.
“Dulu jalan ke sini bergelombang. Orang kadang malas datang karena perjalanannya bikin capek,” ujarnya.
Namun perlahan, kata Arip, kondisi itu mulai berubah seiring adanya perbaikan akses jalan yang dilakukan secara bertahap.
“Alhamdulillah sekarang sudah mulai terasa lebih baik. Mudah-mudahan semakin rata sehingga orang datang berkunjung lebih nyaman,” katanya.
Bagi Arip, infrastruktur yang baik bukan sekadar soal jalan, tetapi juga menjadi penentu tumbuhnya ekonomi masyarakat sekitar melalui sektor wisata.
Semakin mudah akses menuju lokasi wisata, maka semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan.
Karena itu, ia berharap kolaborasi pembangunan ke depan dapat terus diperkuat bersama berbagai pihak, termasuk dukungan dari anggota DPRD melalui program pokok pikiran (pokir).
“Mudah-mudahan kolaborasi bersama anggota DPRD lewat pokir nantinya bisa ditambah lagi. Mungkin nanti kami juga tambah lagi,” ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Arip menegaskan bahwa keberhasilan membangun kawasan wisata dan pemberdayaan masyarakat tidak mungkin dicapai sendirian.
Menurutnya, kekuatan terbesar justru lahir dari kerja sama dan semangat membangun secara bersama-sama.
“PT ITA bukan Superman, tapi supertim yang berkolaborasi membangun bersama,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Meranti, Asmar, menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi atas terselenggaranya Festival Telaga Air Merah ke-6 yang digelar di Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat.
Menurutnya, festival tersebut bukan sekadar kegiatan hiburan atau agenda wisata tahunan semata, melainkan juga menjadi ruang penting untuk menjaga budaya, mempererat kebersamaan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas Melayu di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang terus berkembang.
“Selain menjadi objek wisata daerah, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi kita semua. Festival Telaga Air Merah merupakan salah satu bentuk usaha kita dalam menjaga khazanah budaya di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi,” ujar Asmar.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut memiliki nilai yang sangat luhur karena mampu mengajak generasi muda untuk tetap mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya Melayu yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, berbagai permainan dan olahraga tradisional yang ditampilkan dalam festival merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, kegiatan ini memiliki maksud dan tujuan yang sangat luhur. Tidak hanya menjadi objek wisata saja, tetapi juga untuk memelihara dan mewariskan permainan olahraga tradisional sebagai bagian dari budaya bangsa yang kita cintai,” katanya.
Asmar menilai, Indonesia memiliki begitu banyak warisan budaya tradisional yang beragam dan bernilai tinggi. Karena itu, kegiatan yang dikemas dalam bentuk festival seperti Telaga Air Merah menjadi langkah nyata dalam menghidupkan kembali tradisi tersebut agar tetap dikenal masyarakat luas.
“Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Festival Telaga Air Merah ini merupakan salah satu upaya nyata untuk membedah dan menempatkan tradisi ini sebagai salah satu ikon pariwisata di rantau ini,” ujarnya.
Menurut Asmar, Festival Telaga Air Merah juga menjadi contoh bagaimana budaya, sejarah, dan industri kreatif berbasis kearifan lokal dapat tumbuh berdampingan dengan pengembangan pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Ini menjadi contoh bagaimana kekayaan budaya dan sejarah serta perkembangan industri kreatif berbasis warisan budaya dan kearifan lokal erat kaitannya dengan pengembangan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat lokal dalam meningkatkan perekonomian,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendukung dan memeriahkan festival tersebut agar dapat terus berkembang menjadi kebanggaan daerah.
“Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memeriahkan Festival Telaga Air Merah ini,” ajaknya.
Pada kesempatan itu, Asmar juga menyampaikan apresiasi khusus kepada PT ITA atas kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung pembangunan infrastruktur masyarakat, khususnya pembangunan jalan menuju kawasan wisata Telaga Air Merah.
Ia menyebut pembangunan jalan sepanjang 1.650 meter dengan lebar tiga meter tersebut sangat membantu masyarakat Desa Tanjung yang sebelumnya harus melewati akses jalan rusak dan sulit dilalui.
“Sebelumnya kondisi jalan mengalami kerusakan cukup berat sehingga menghambat aktivitas masyarakat baik kendaraan roda dua maupun roda empat,” ujarnya.
Namun melalui dukungan PT ITA bersama masyarakat yang mengerjakan pembangunan secara swakelola, kondisi jalan kini mulai membaik dan memberi manfaat besar bagi warga.
“Alhamdulillah melalui dukungan dan kepedulian ini jalan telah dibangun secara swakelola oleh warga Desa Tanjung,” katanya.
Menurut Asmar, keberadaan jalan tersebut diharapkan mampu meningkatkan mobilitas masyarakat, memperlancar aktivitas ekonomi, mempermudah distribusi hasil pertanian dan perkebunan, serta memperkuat konektivitas antarwilayah di daerah tersebut.
Ia juga berharap masyarakat dapat menjaga dan merawat infrastruktur yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kami berharap keberadaan jalan ini dapat dijaga dan dirawat bersama oleh masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Asmar berharap hubungan baik dan kerja sama yang selama ini terjalin antara PT ITA dan masyarakat dapat terus dipertahankan melalui berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat ke depan.
“Kepada PT ITA, kami juga berharap hubungan baik dan kerja sama yang telah terjalin selama ini dapat terus dipertahankan dalam berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat,” pungkasnya.
Tidak hanya menghadiri seremoni dan membuka festival secara resmi, Asmar juga tampak larut bersama masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan budaya yang digelar di Festival Telaga Air Merah.
Salah satu yang paling menyita perhatian pengunjung adalah saat dilaksanakannya eksibisi pacu sampan di kawasan telaga. Sorak sorai masyarakat pecah ketika sampan-sampan tradisional mulai melaju membelah air, menghadirkan suasana khas budaya pesisir yang penuh semangat dan kebersamaan.
Di tengah kemeriahan itu, Bupati Asmar tampak memberikan apresiasi langsung kepada peserta dengan menyerahkan sejumlah uang dari kantong pribadinya sebagai bentuk dukungan dan penyemangat bagi para pendayung yang ikut memeriahkan festival.
Aksi spontan tersebut sontak mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang hadir.
Tidak hanya pada lomba pacu sampan, suasana serupa juga terlihat saat digelarnya lomba mencucuk atap, salah satu tradisi masyarakat Melayu pesisir yang kini mulai jarang ditemui.
Kegiatan itu menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat karena selain mengandung unsur budaya, lomba tersebut juga mengingatkan warga pada kehidupan gotong royong masyarakat tempo dulu.
Festival kemudian dilanjutkan dengan kegiatan penanaman pohon sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan dan upaya menjaga kelestarian alam di kawasan wisata Telaga Air Merah.
Penanaman pohon itu menjadi pesan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya berbicara soal hiburan dan ekonomi semata, tetapi juga harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga alam agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
Di penghujung kegiatan, Ketua GenPI Provinsi Riau, Dodi Rasyid Amin, turut memberikan pandangan dan semangat kepada pengelola Festival Telaga Air Merah agar lebih serius membangun promosi wisata secara berkelanjutan.
Menurutnya, potensi yang dimiliki Telaga Air Merah sangat besar untuk berkembang dan dikenal lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional. Namun hal itu harus dibarengi dengan konsistensi penyelenggaraan event serta penguatan promosi yang terarah.
Ia menegaskan, pihak GenPI Provinsi Riau siap membantu mempromosikan Festival Telaga Air Merah agar bisa menembus berbagai ajang penghargaan pariwisata, termasuk Anugerah Pesona Indonesia (API Award) maupun penghargaan wisata lainnya.
“Terhadap pihak pengelola agar fokus melakukan promosi yang nanti bisa kita bantu. Sehingga event ini bisa berkembang dan dikenal lebih luas,” ujar Dodi.
Menurutnya, Festival Telaga Air Merah sebenarnya sudah memiliki syarat dasar untuk naik kelas karena dilaksanakan secara rutin dan konsisten setiap tahun.
Ia menyebut, salah satu penilaian penting dalam ajang pariwisata adalah konsistensi penyelenggaraan kegiatan, bukan sekadar event yang muncul sesaat lalu hilang tanpa keberlanjutan.
“Top three event tingkat kabupaten itu bisa ikut apabila event-nya kontinyu minimal tiga kali dan konsisten. Bukan event jadi-jadian. Kalau aktif terus, mudah-mudahan bisa masuk dan mencuri kesempatan ini,” katanya.
Dodi menilai, sejauh ini dari Kabupaten Kepulauan Meranti, event yang sudah cukup dikenal luas baru sebatas Festival Perang Air. Karena itu, Festival Telaga Air Merah dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi ikon wisata baru jika terus dikembangkan secara serius.
Untuk mendukung hal tersebut, ia mendorong Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar mulai mempersiapkan administrasi serta membangun koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait guna memperoleh rekomendasi resmi.
Menurutnya, rekomendasi dari pemerintah daerah menjadi salah satu pintu penting agar sebuah event bisa didaftarkan ke tingkat provinsi hingga nasional.
“Pokdarwis harus mulai menyiapkan administrasi dan meminta rekomendasi dari OPD terkait. Nanti pengelola bisa berkoordinasi untuk didaftarkan ke provinsi,” ujarnya.
Ia juga berharap OPD terkait tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi mampu membaca peluang besar yang dimiliki Festival Telaga Air Merah untuk berkembang menjadi agenda wisata unggulan tingkat nasional.
Namun demikian, Dodi mengingatkan bahwa ketika sebuah event sudah masuk skala nasional, maka seluruh pihak harus bergerak bersama dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kalau sudah masuk skala nasional tetapi tidak ada pergerakan dan kolaborasi dari semua pihak, akhirnya tetap terasa seperti event lokal,” katanya.
Menurutnya, target realistis yang bisa dikejar saat ini adalah membawa Festival Telaga Air Merah masuk ke dalam daftar 100 event nasional.
Ia optimistis peluang itu terbuka lebar, terlebih dengan mulai banyaknya penggiat wisata, komunitas, hingga tamu dari berbagai daerah yang datang langsung menyaksikan festival tersebut.
“Minimal kita bisa masuk 100 event nasional. Sekarang jalannya sudah terbuka dengan banyak pihak yang datang ke sini. Tinggal dipoles saja,” pungkasnya. (R-01)

