Sempat Bikin Heboh, Ini Alasan SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang Cerdas Cermat MPR
SMAN 1 Pontianak memastikan tidak mengikuti lomba ulang LCC 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - SMAN 1 Pontianak memastikan tidak mengikuti lomba ulang LCC 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat. Keputusan tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi sekolah, Kamis. Langkah itu muncul setelah polemik penilaian final lomba memicu kritik luas publik.
Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, mengaku mengikuti perkembangan kasus tersebut sejak awal. Pihak sekolah juga mencermati permintaan maaf serta evaluasi dari MPR RI. Sekolah menghargai perhatian publik selama polemik berlangsung beberapa hari terakhir.
“SMAN 1 Pontianak menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian berbagai pihak,” ujar Indang. Pernyataan tersebut disampaikan melalui sikap resmi sekolah di media sosial. Unggahan itu langsung menarik perhatian warganet Kalimantan Barat.
Indang menegaskan sekolah tidak pernah berniat membatalkan hasil perlombaan final tersebut. Sekolah hanya meminta klarifikasi terkait sejumlah poin penilaian dipersoalkan peserta didik. Polemik tersebut sebelumnya memicu perdebatan panjang di media sosial.
Pihak sekolah kini memilih menghormati hasil akhir perlombaan tingkat provinsi tersebut. Dukungan penuh diberikan kepada SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat menuju tingkat nasional. Sikap itu dianggap meredakan ketegangan antarpendukung sekolah peserta lomba.
“SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang,” kata Indang. Keputusan tersebut menjadi penegasan sikap resmi sekolah terhadap kebijakan terbaru MPR. Publik sebelumnya menunggu kepastian sikap sekolah sejak polemik berkembang luas.
Indang juga meminta seluruh pihak menjaga suasana pendidikan tetap aman dan kondusif. Permintaan maaf disampaikan atas kegaduhan muncul selama polemik berlangsung di publik. Sekolah mengajak masyarakat menjaga semangat persatuan dan saling menghargai.
“SMAN 1 Pontianak memohon dukungan seluruh pihak demi menciptakan iklim pendidikan kondusif,” ujar Indang. Pernyataan tersebut ditutup dengan ajakan menjaga kenyamanan peserta didik. Sekolah berharap polemik segera berakhir tanpa konflik berkepanjangan.
Polemik LCC 4 Pilar bermula saat babak final digelar di Pontianak, Sabtu lalu. Tiga sekolah tampil dalam final tingkat Provinsi Kalimantan Barat tersebut. Peserta final terdiri dari SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 1 Sambas, serta SMA Negeri 1 Sanggau.
Kontroversi muncul ketika sesi pertanyaan rebutan berlangsung di hadapan peserta dan penonton. Peserta menyampaikan keberatan terhadap keputusan penilaian dewan juri saat perlombaan berjalan. Rekaman respons juri kemudian viral dan memancing kritik tajam warganet.
Dua nama juri menjadi sorotan setelah video perlombaan beredar luas di media sosial. Mereka ialah Dyastasita W.B. dan Indri Wahyuni. Publik menilai respons keduanya memperkeruh suasana kompetisi pelajar tersebut.
MPR RI akhirnya memutuskan menggelar ulang final lomba tingkat Kalimantan Barat. Keputusan itu diambil sebagai langkah koreksi setelah kritik publik semakin meluas. Jajaran dewan juri sebelumnya dipastikan tidak kembali dilibatkan dalam perlombaan ulang.
Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, mengatakan proses sanksi administratif masih berjalan. Evaluasi dilakukan berdasarkan aturan kepegawaian berlaku di lingkungan pemerintahan. Pendalaman juga melibatkan ketentuan dari Badan Kepegawaian Negara.
“Kalau sanksi administrasi lainnya ada aturan serta prosesnya. Saat ini masih tahap pendalaman,” ujar Siti. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di kompleks parlemen Senayan. Proses evaluasi berlangsung setelah komunikasi bersama pimpinan MPR RI.
Siti memastikan juri lama tidak akan kembali bertugas dalam perlombaan ulang mendatang. MPR menyiapkan unsur independen untuk menjaga objektivitas serta kredibilitas perlombaan nasional tersebut. Unsur juri baru berasal dari dinas pendidikan dan kalangan akademisi.
“Dinas dan akademisi akan diambil menjadi unsur dewan juri,” tutur Siti. Lomba ulang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026 mendatang di Kalimantan Barat. Publik kini menanti pelaksanaan kompetisi berjalan lebih transparan dan profesional.(R-04)

