Jangan Asal Pilih Hewan Kurban, Kemenkes Ingatkan Risiko Antraks Mengintai Diam-Diam
Ilustrasi dan infografis bahaya penyakit Antraks pada Idul Adha. Foto: SM News/Created by AI
JAKARTA, SabangMerauke News - Kementerian Kesehatan mengingatkan ancaman penyakit zoonosis menjelang Hari Raya Idul Adha tahun 2026 mendatang. Penyakit antraks menjadi perhatian utama karena dapat menular dari hewan ternak ke manusia saat proses kurban. Pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan mulai dari pembelian hewan hingga pengolahan daging kurban setelah penyembelihan.
Peringatan tersebut disampaikan Kementerian Kesehatan beberapa pekan menjelang meningkatnya aktivitas jual beli hewan kurban masyarakat Indonesia. Momentum Idul Adha memang selalu memicu lonjakan distribusi ternak dari berbagai daerah dengan mobilitas sangat tinggi. Kondisi tersebut membuat risiko penularan penyakit zoonosis semakin menjadi perhatian pemerintah tahun ini.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, meminta masyarakat lebih berhati-hati. Kewaspadaan dinilai penting terutama saat menangani hewan ternak dalam proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban. Pemerintah ingin mencegah munculnya kasus penularan penyakit selama perayaan Idul Adha tahun ini.
“Kementerian Kesehatan menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis dari hewan ternak saat Hari Raya Kurban,” kata Andi Saguni, Kamis, 14 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa antraks masih menjadi salah satu penyakit zoonosis paling berbahaya dalam aktivitas peternakan dan penyembelihan hewan. Penyakit tersebut dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan atau daging yang telah terinfeksi.
Antraks sendiri disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang mampu membentuk spora yang bertahan lama dalam lingkungan sekitar peternakan. Kemampuan bakteri tersebut membuat ancaman penularan masih mungkin terjadi meski kasus terlihat mengalami penurunan beberapa tahun terakhir. Wilayah dengan riwayat kasus antraks yang lama tetap dinilai memiliki risiko penyebaran lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya.
Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus antraks manusia memang terus mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 81 kasus dengan tiga korban meninggal akibat infeksi penyakit tersebut. Angka itu kemudian turun pada tahun 2024 dengan laporan satu kematian hingga kondisi lebih terkendali sekarang.
“Dengan kewaspadaan ini diharapkan kesehatan masyarakat tetap terjaga serta kematian dapat ditekan seminimal mungkin,” ujar Andi Saguni. Pemerintah menilai penurunan angka kasus tidak boleh membuat masyarakat menjadi lengah menghadapi ancaman penyakit zoonosis tersebut. Kedisiplinan dalam penanganan hewan kurban tetap menjadi faktor utama pencegahan penyebaran penyakit.
Sebagian besar kasus antraks manusia selama ini ditemukan dalam bentuk antraks kulit akibat kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Penularan biasanya terjadi saat proses penyembelihan, pemotongan daging, hingga pengolahan bahan pangan hasil kurban masyarakat. Luka terbuka pada tangan atau bagian tubuh lain dapat memperbesar risiko infeksi bakteri tersebut.
Selain antraks kulit, terdapat jenis antraks gastrointestinal yang menyerang sistem pencernaan manusia akibat konsumsi daging terinfeksi. Jenis lainnya berupa antraks meningitis bahkan dapat menyerang otak dan berujung pada kematian dalam kondisi tertentu. Kasus fatal umumnya berasal dari dua jenis tersebut karena infeksi berkembang cukup cepat dalam tubuh manusia.
Pemerintah kemudian meminta masyarakat memperhatikan empat tahapan penting penanganan hewan kurban menjelang Idul Adha tahun ini. Tahapan pertama dimulai dari proses pemilihan dan pembelian hewan ternak dalam kondisi sehat serta layak potong. Hewan dengan gejala sakit atau kondisi mencurigakan sebaiknya segera dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan setempat.
Tahapan berikutnya mencakup transportasi dan penampungan hewan sebelum proses penyembelihan dilakukan di kawasan pemotongan kurban masyarakat. Kementerian Kesehatan meminta agar kebersihan kandang sementara serta kondisi hewan terus dipantau secara ketat sebelum penyembelihan berlangsung. Pemeriksaan kesehatan hewan menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit zoonosis di kawasan padat aktivitas kurban.
Tahap ketiga berfokus pada proses penyembelihan hewan kurban dengan standar kebersihan yang cukup ketat selama kegiatan berlangsung. Petugas penyembelihan diminta menggunakan alat pelindung sederhana seperti sarung tangan serta menjaga kebersihan peralatan pemotongan. Langkah tersebut penting demi mengurangi risiko kontak langsung dengan darah atau organ hewan yang terinfeksi penyakit.
Tahap terakhir berkaitan dengan pengelolaan limbah kurban seperti darah, jeroan, kulit, hingga sisa organ hewan setelah pemotongan selesai. Limbah hewan tidak boleh dibuang sembarangan karena dapat menjadi sumber penyebaran bakteri ke lingkungan sekitar masyarakat. Penanganan limbah yang tepat dinilai penting untuk menjaga kebersihan kawasan permukiman selama momentum Idul Adha berlangsung.
Momentum Idul Adha memang selalu identik dengan aktivitas penyembelihan massal di berbagai daerah di Indonesia setiap tahunnya. Ribuan hewan ternak berpindah dari peternakan menuju kawasan perkotaan hanya dalam waktu singkat menjelang hari raya kurban. Situasi tersebut membuat pengawasan kesehatan hewan menjadi perhatian besar pemerintah serta tenaga kesehatan di lapangan.
Kementerian Kesehatan berharap masyarakat tidak hanya fokus pada ritual kurban tanpa memperhatikan faktor kesehatan lingkungan sekitar. Penanganan hewan kurban secara aman dapat membantu menekan risiko penularan penyakit zoonosis pada manusia secara signifikan. Pemerintah juga meminta masyarakat segera melapor jika menemukan hewan dengan kondisi mencurigakan menjelang Idul Adha mendatang.
Kasus antraks memang terus menurun, namun ancamannya belum sepenuhnya hilang dari lingkungan peternakan Indonesia saat ini. Kedisiplinan menjaga kebersihan dan kesehatan hewan tetap menjadi benteng utama untuk mencegah munculnya korban baru. Idul Adha akhirnya bukan sekadar perayaan ibadah kurban, melainkan juga ujian menjaga kesehatan bersama masyarakat luas. R-02

