Mother’s Day 2026 Bikin Dunia Tersentak, Pendiri Hari Ibu Justru Mati Tragis dan Miskin
Ann Reeves Jarvis. (Perpustakaan Kongres AS)
SabangMerauke News - Hari ini, 10 Mei 2026, dunia internasional kembali merayakan Mother’s Day atau Hari Ibu Internasional. Perayaan tahun ini tidak hanya dipenuhi bunga dan hadiah mahal, tetapi juga membuka kembali sejarah pilu Anna Jarvis, perempuan Amerika Serikat pencetus Mother’s Day modern. Ironisnya, perempuan itu justru meninggal dalam kondisi miskin setelah membenci perayaan ciptaannya berubah menjadi mesin bisnis raksasa.
Perayaan Mother’s Day tahun ini ramai membanjiri media sosial sejak pagi hari di berbagai negara di dunia. Ucapan kasih sayang, foto keluarga, bunga mawar, hingga hadiah mewah memenuhi linimasa platform digital internasional. Namun, di balik suasana hangat tersebut, tersimpan sejarah panjang penuh luka, perang, dan perjuangan perempuan lintas generasi.
Mother’s Day berbeda dengan Hari Ibu Nasional Indonesia setiap 22 Desember yang memiliki akar sejarah perjuangan perempuan nasional. Hari Ibu Indonesia lahir dari Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada 22 hingga 25 Desember 1928. Pemerintah kemudian mengukuhkan momentum itu melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.
Mother’s Day versi internasional justru tumbuh dari sejarah panjang Amerika Serikat dan tradisi gereja Eropa kuno. Tradisi penghormatan ibu sebenarnya sudah muncul sejak era Yunani dan Romawi kuno ribuan tahun silam. Saat itu, masyarakat memuja dewi ibu seperti Rhea dan Cybele dalam festival keagamaan tahunan.
Jejak Mother’s Day modern mulai terlihat melalui tradisi Mothering Sunday di kawasan Eropa pada abad ke-16. Tradisi tersebut berlangsung setiap Minggu keempat masa Prapaskah dalam kalender gereja Kristen Eropa. Warga biasanya pulang menuju gereja induk sambil membawa hadiah kecil untuk ibu mereka.
Tradisi religius itu perlahan berubah menjadi simbol kasih sayang keluarga lintas generasi masyarakat Eropa modern. Anak-anak mulai memberikan bunga, makanan, dan hadiah sederhana kepada ibu masing-masing setiap perayaan berlangsung. Tradisi tersebut kemudian menyatu dengan konsep Mother’s Day Amerika Serikat sekitar dekade 1930-an.
Sejarah besar Mother’s Day modern Amerika Serikat dimulai sebelum pecahnya Perang Saudara Amerika abad ke-19. Seorang aktivis perempuan bernama Ann Reeves Jarvis mendirikan Mothers’ Day Work Clubs kawasan Virginia Barat. Gerakan itu berfokus pada mengajarkan kesehatan anak dan sanitasi keluarga masyarakat pedesaan.
Setelah perang berakhir, gerakan perempuan tersebut berubah menjadi alat rekonsiliasi sosial masyarakat Amerika Serikat pascaperang sipil. Ann Reeves Jarvis kemudian membentuk Mothers’ Friendship Day pada 1868 demi menyatukan keluarga korban perang. Acara itu mempertemukan ibu tentara Konfederasi dan tentara Persatuan dalam suasana damai.
Tokoh lain bernama Julia Ward Howe ikut memperkuat lahirnya gerakan Hari Ibu modern Amerika Serikat. Julia dikenal sebagai aktivis hak perempuan sekaligus penulis lagu patriotik terkenal Amerika kala itu. Trauma perang membuat Julia menyerukan gerakan perdamaian perempuan lintas dunia melalui Mother’s Day Proclamation tahun 1870.
“Para ibu dunia harus bersatu demi perdamaian manusia,” tulis Julia Ward Howe dalam kampanye terkenalnya. Seruan tersebut melahirkan Mother’s Peace Day yang sempat diperingati masyarakat Amerika setiap 2 Juni. Meski akhirnya meredup, gerakan itu membuka jalan besar lahirnya Mother’s Day modern di dunia.
Tonggak terbesar Mother’s Day lahir melalui perjuangan Anna Jarvis, putri Ann Reeves Jarvis, sejak 1905. Anna merasa pengorbanan ibu sering terlupakan dalam kehidupan modern masyarakat Amerika Serikat kala itu. Setelah ibunya meninggal, Anna mulai memperjuangkan satu hari khusus untuk menghormati seluruh ibu di dunia.
Dengan dukungan pengusaha Philadelphia bernama John Wanamaker, Anna menggelar perayaan resmi pertama Mother’s Day tahun 1908. Acara berlangsung di Gereja Metodis di kawasan Grafton, Virginia Barat, dan menarik perhatian publik Amerika Serikat. Kampanye Anna bergerak cepat melalui surat kabar, media nasional, hingga lobi politik di Washington.
Anna Jarvis menilai hari libur Amerika Serikat terlalu dipenuhi penghormatan terhadap pencapaian laki-laki semata kala itu. Ia ingin sosok ibu mendapat penghormatan nasional atas pengorbanan besar membesarkan keluarga dan generasi bangsa. Perjuangan panjang tersebut akhirnya berhasil mengubah sejarah nasional Amerika Serikat secara permanen.
Presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson, meresmikan Mother’s Day sebagai hari nasional resmi pada 1914. Pemerintah menetapkan perayaan berlangsung setiap Minggu kedua bulan Mei di seluruh wilayah Amerika Serikat. Sejak saat itu, Mother’s Day berkembang cepat menjadi tradisi internasional lintas negara di dunia.
Namun, ironi besar justru muncul ketika perayaan Mother’s Day berubah menjadi industri bisnis bernilai miliaran dolar. Anna Jarvis mulai geram melihat perusahaan bunga dan kartu ucapan memanfaatkan Hari Ibu demi keuntungan komersial. Perempuan tersebut merasa makna ketulusan Mother’s Day perlahan hilang digantikan oleh budaya konsumtif modern.
Anna bahkan melakukan protes terbuka terhadap perusahaan bunga dan industri kartu ucapan Amerika Serikat. Ia menyebut Mother’s Day sudah berubah menjadi mesin bisnis rakus yang merusak makna penghormatan ibu sejati. “Hari Ibu seharusnya lahir dari cinta tulus, bukan transaksi dagang,” ujar Anna Jarvis dalam kampanyenya.
Kemarahannya mencapai puncak ketika Anna mengajukan petisi penghapusan Mother’s Day pada 1943. Ia merasa perayaan ciptaannya tidak lagi memiliki kesucian emosional seperti tujuan awal perjuangannya dahulu. Ironisnya, perjuangan itu gagal menghentikan laju industri besar perayaan Hari Ibu modern dunia.
Nasib Anna Jarvis kemudian berubah tragis menjelang akhir hidupnya pada 1948 di kawasan Pennsylvania, Amerika Serikat. Pendiri Mother’s Day modern itu meninggal dalam kondisi ekonomi sulit di sebuah sanatorium sederhana. Fakta paling mengejutkan muncul ketika biaya perawatan Anna ternyata dibayar perusahaan bunga dan kartu ucapan.
Perusahaan tersebut merupakan industri yang selama hidupnya sangat dibenci Anna Jarvis karena dianggap merusak Mother’s Day. Kisah tragis itu kini kembali viral bersamaan dengan perayaan Mother’s Day Internasional 2026 di berbagai negara di dunia. Media sosial dipenuhi diskusi sejarah kelam Hari Ibu modern dan ironi akhir hidup pendirinya.
Mother’s Day kini berubah menjadi salah satu perayaan keluarga terbesar di dunia setiap tahunnya. Nilai ekonomi industri bunga, hadiah, restoran, hingga kartu ucapan melonjak drastis menjelang perayaan Hari Ibu Internasional. Namun, sejarah panjang penuh luka itu mengingatkan dunia tentang makna penghormatan tulus terhadap sosok ibu. R-02

