Emas Antam Turun Tipis, Harga Dunia Justru Bersiap Meledak Tembus US$5.000
Ilustrasi perdagangan emas. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga emas Antam turun tipis menjadi Rp2,839 juta per gram pada Jumat, 8 Mei 2026. Gejolak perang AS-Iran, pergerakan dolar Amerika Serikat, hingga spekulasi penurunan suku bunga Federal Reserve membuat pasar emas dunia bergerak liar dan memicu kepanikan investor global.
Harga emas Antam kembali bergerak liar saat pasar global diguncang perang, dolar, dan suku bunga. Logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk turun Rp1.000 per gram menjadi Rp2.839.000. Situasi Timur Tengah dan manuver bank sentral Amerika Serikat menjadi motor utama kegelisahan pasar dunia.
Mengutip data Logam Mulia, harga emas Antam turun menjadi Rp2.839.000 per gram pada Jumat pagi. Hari sebelumnya, Kamis, 7 Mei 2026, harga emas sempat berada pada level Rp2.840.000 per gram. Koreksi kecil tersebut ikut menyeret harga buyback menjadi Rp2.644.000 per gram nasional.
Harga emas dunia sendiri bergerak di sekitar level US$4.700 per troy ons sepanjang perdagangan global. Angka tersebut masih dekat rekor tertinggi mingguan setelah pasar sempat menyentuh level US$4.760 per ons. Ketidakpastian geopolitik membuat emas berubah menjadi magnet utama penyelamatan aset investasi global saat ini.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi pergerakan emas masih sangat fluktuatif pekan ini. Ia melihat konflik Timur Tengah tetap menjadi faktor dominan penggerak harga logam mulia dunia saat ini. Politik Amerika Serikat dan perang dagang global ikut memperkeruh arah perdagangan komoditas internasional.
“Masalah geopolitik Timur Tengah masih menjadi penggerak terbesar harga emas dunia,” ujar Ibrahim Assuaibi, Jumat, 8 Mei 2026. Ia memperkirakan harga emas global berpotensi bergerak menuju rentang US$4.389 hingga US$4.851 per ons. Sementara harga emas Antam diproyeksikan bergerak menuju Rp2.750.000 hingga Rp2.900.000 per gram nasional.
Pasar emas internasional sebenarnya sempat tersenyum ketika optimisme perdamaian AS dan Iran mulai muncul perlahan. Harapan meredanya konflik membuat harga minyak dunia turun dan tekanan inflasi global mulai sedikit melunak. Situasi tersebut membuka peluang bank sentral Amerika Serikat melonggarkan kebijakan suku bunga agresif sebelumnya.
Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, melihat peluang besar penguatan emas dalam waktu dekat. Ia menilai stabilitas Timur Tengah bakal menentukan arah harga logam mulia global sepanjang beberapa bulan mendatang. Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif bagi perdagangan energi dan pasar keuangan internasional saat ini.
“Jika perang berakhir dan Selat Hormuz kembali normal, emas bisa menyentuh US$5.000,” kata Bob Haberkorn. Pernyataan tersebut langsung mengguncang ruang perdagangan komoditas internasional sejak Kamis malam waktu setempat. Investor mulai membaca peluang reli baru logam mulia setelah tekanan geopolitik perlahan mereda.
Namun ketenangan pasar hanya bertahan singkat sebelum dentuman konflik baru kembali menghantam perdagangan global internasional. Bloomberg melaporkan Amerika Serikat menyerang target militer Iran setelah insiden kapal di Selat Hormuz memanas. Ketegangan baru tersebut membuat harga energi melonjak dan investor kembali memburu aset safe haven dunia.
Harga minyak yang tetap tinggi membuat ancaman inflasi global belum sepenuhnya menghilang dari radar pasar internasional. Situasi tersebut menyulitkan Federal Reserve menurunkan suku bunga dalam waktu cepat menuju kondisi ekonomi longgar. Emas akhirnya bergerak liar karena investor mencoba membaca arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat berikutnya.
Logam mulia memang tidak menghasilkan bunga seperti deposito maupun obligasi pendapatan tetap lainnya di pasar. Saat suku bunga tinggi bertahan lama, emas sering kehilangan daya tarik bagi investor institusional dunia besar. Namun ketika ekspektasi penurunan bunga muncul, emas langsung menjadi primadona perdagangan internasional kembali.
Analis TD Securities melihat peluang penguatan emas dunia masih sangat terbuka pada tahun berjalan mendatang. Harga emas bahkan diprediksi mampu menembus level fantastis US$5.200 per troy ons global nantinya. Pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan imbal hasil obligasi dianggap menjadi bahan bakar utama kenaikan.
Bank sentral China juga ikut mempertebal gairah pasar emas global dalam beberapa bulan terakhir perdagangan internasional. Negeri Tirai Bambu tercatat menambah cadangan emas selama delapan belas bulan berturut-turut tanpa jeda sama sekali. Langkah tersebut dibaca pasar sebagai sinyal diversifikasi aset cadangan menjauhi dominasi dolar Amerika Serikat.
Suasana perdagangan logam mulia kini terasa seperti permainan catur antara perang, minyak, dan suku bunga global. Investor kecil ikut terseret pusaran besar manuver geopolitik serta kebijakan moneter negara-negara raksasa dunia saat ini. Setiap dentuman konflik Timur Tengah langsung memantul menuju harga emas di toko logam mulia nasional. R-02

