Kendala Sistem Visa, Dua Jemaah Haji RI Sempat Tertahan di Bandara Madinah
Dua jemaah asal Kalimantan Tengah justru harus menghadapi momen menegangkan: tertahan selama lima jam di imigrasi akibat masalah visa yang mendadak dibatalkan sistem. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Kedatangan jemaah haji Indonesia di Madinah tak selalu berjalan mulus. Di tengah euforia ribuan jemaah yang tiba untuk menunaikan rukun Islam kelima, dua jemaah asal Kalimantan Tengah justru harus menghadapi momen menegangkan: tertahan selama lima jam di imigrasi akibat masalah visa yang mendadak dibatalkan sistem.
Peristiwa ini terjadi di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah. Dua jemaah remaja asal Pulang Pisau tersebut sempat tak bisa melangkah keluar dari area imigrasi setelah dokumen perjalanan mereka dinyatakan bermasalah. Padahal, seluruh proses keberangkatan dari Indonesia telah dilalui tanpa kendala berarti.
Masalah muncul saat pemeriksaan dokumen di pintu kedatangan. Sistem imigrasi Arab Saudi secara tiba-tiba mendeteksi visa keduanya tidak valid bahkan sempat tercatat sebagai “terbatal”. Kondisi ini membuat mereka langsung ditahan untuk pemeriksaan lanjutan.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, menjelaskan bahwa insiden tersebut murni akibat kendala teknis dalam sistem validasi visa. Menurutnya, pembatalan visa terjadi secara otomatis saat proses verifikasi data di sistem imigrasi.
“Visa keduanya sempat ter-cancel saat pemeriksaan. Kami langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyelesaikan kendala ini,” ujarnya.
Situasi ini membuat kedua jemaah tidak hanya tertahan secara fisik, tetapi juga diliputi kecemasan. Tanpa paspor di tangan karena sedang diproses, mereka harus menunggu dalam ketidakpastian selama berjam-jam di negara asing, jauh dari rombongan.
Salah satu jemaah, Novia Ghina, mengaku sempat panik ketika mengetahui dirinya tidak diizinkan masuk. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai pengalaman yang menegangkan.
“Awalnya panik, disuruh menunggu lama. Paspor juga tidak ada di tangan, jadi makin cemas,” ungkapnya.
Perasaan serupa juga dirasakan rekannya, Rabiatul Adawiyah. Ketidakpastian status visa membuat keduanya diliputi rasa takut, apalagi mereka terpisah dari rombongan dan keluarga untuk sementara waktu.
Namun di balik situasi genting itu, respons cepat petugas menjadi kunci penyelesaian. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) segera melakukan pendampingan intensif. Koordinasi lintas instansi pun langsung dilakukan, melibatkan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) serta Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Upaya tersebut tidak sederhana. Proses validasi ulang visa harus dilakukan hingga ke tingkat pusat, bahkan melibatkan koordinasi dengan pihak terkait di Indonesia. Negosiasi dengan otoritas imigrasi setempat juga berjalan cukup intens demi memastikan kedua jemaah tetap dapat melanjutkan perjalanan ibadah mereka.
Setelah melalui proses panjang selama sekitar lima jam, titik terang akhirnya muncul. Visa kedua jemaah berhasil diterbitkan kembali dan dinyatakan sah untuk digunakan.
“Alhamdulillah, setelah proses cukup panjang, visa mereka bisa diterbitkan kembali,” kata Abdul Basir.
Kelegaan pun langsung menyelimuti kedua jemaah tersebut. Rasa panik yang sebelumnya mendominasi berubah menjadi rasa syukur. Mereka akhirnya diperbolehkan melewati imigrasi dan melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Begitu seluruh urusan administratif rampung, keduanya langsung diantar menuju hotel untuk bergabung kembali dengan rombongan. Momen pertemuan kembali ini menjadi penutup dari pengalaman yang sempat menegangkan.
“Rasanya lega dan senang sekali. Alhamdulillah bisa melanjutkan ibadah,” ujar Novia.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa perjalanan ibadah haji, meskipun telah dipersiapkan dengan matang, tetap memiliki potensi kendala teknis di lapangan. Faktor sistem, administrasi, hingga koordinasi lintas negara dapat menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, kejadian ini juga menunjukkan kesiapan dan respons cepat petugas haji Indonesia dalam menangani situasi darurat. Pendampingan yang diberikan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga emosional, memastikan jemaah tetap merasa aman dan didukung.
Kini, kedua jemaah tersebut telah kembali bersama rombongan dan bersiap menjalani rangkaian ibadah haji di Madinah. Pengalaman lima jam yang penuh ketegangan itu pun menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan spiritual mereka.
Di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara, kisah ini menjadi potret kecil bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga ujian kesabaran dan keteguhan hati. (R-05)

