Prabowo Turun Tangan! Korban Tabrakan Kereta Bekasi Tembus 14 Jiwa
Presiden Prabowo Subianto menjenguk korban kecelakaan tabrakan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026). (Sekretariat Presiden)
JAKARTA, SabangMerauke News - Presiden Prabowo Subianto menjenguk korban tabrakan kereta di Bekasi pada Selasa pagi, 28 April 2026. Kunjungan ini terjadi saat jumlah korban meninggal meningkat menjadi 14 orang setelah insiden tragis tersebut. Peristiwa ini langsung mengguncang publik dan memicu perhatian serius terhadap sistem keselamatan transportasi nasional.
Presiden tiba di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi sekitar pukul 08.39 WIB pagi. Setibanya di lokasi, Presiden langsung menuju ruang poli bedah untuk melihat kondisi korban. Setelah itu, Presiden melanjutkan kunjungan menuju ruang perawatan Bougenville tempat korban dirawat secara intensif.
Dalam kunjungan tersebut, Presiden berbincang langsung dengan korban yang sedang menjalani perawatan medis. Interaksi berlangsung hangat meski suasana rumah sakit dipenuhi rasa duka mendalam akibat tragedi tersebut. Presiden juga menyampaikan empati mendalam kepada korban serta keluarga yang terdampak kecelakaan.
“Saya datang ke rumah sakit Bekasi. Semua merasa prihatin dan kaget dengan kejadian ini,” ujar Prabowo Subianto. Ia juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas korban jiwa yang terus bertambah dalam insiden tersebut.
Presiden menegaskan seluruh korban luka harus mendapatkan perawatan optimal hingga benar-benar pulih sepenuhnya. Instruksi tersebut menjadi perhatian utama dalam upaya penanganan korban pascakecelakaan besar ini. Pemerintah juga memastikan pelayanan medis berjalan cepat, tepat, dan maksimal bagi seluruh korban.
“Kami ingin semua korban mendapatkan penanganan terbaik hingga pulih,” ujar Prabowo. Penegasan ini disampaikan sebagai bentuk komitmen pemerintah terhadap keselamatan masyarakat luas. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memulihkan kondisi pascatragedi yang mengguncang publik nasional.
Presiden juga menerima laporan langsung dari jajaran terkait mengenai kondisi terbaru korban di lapangan. Laporan mencakup jumlah korban, kondisi medis, serta langkah penanganan yang telah dilakukan tim gabungan. Informasi tersebut menjadi dasar evaluasi awal terhadap respons cepat pemerintah dalam situasi darurat ini.
Pemerintah memastikan investigasi segera dilakukan untuk mengungkap penyebab utama kecelakaan tragis tersebut. Langkah investigasi ini akan melibatkan berbagai instansi terkait guna mendapatkan hasil yang komprehensif. Tujuan utama investigasi adalah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
“Kami segera melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian ini,” ujar Prabowo. Ia juga menyoroti kondisi lintasan kereta yang masih banyak belum memiliki pengawasan maksimal. Hal ini menjadi perhatian serius dalam evaluasi sistem keselamatan transportasi nasional ke depan.
Insiden tabrakan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur. Kecelakaan terjadi pada Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.57 WIB di area stasiun. Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kereta terutama pada gerbong KRL.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan jumlah korban meninggal mencapai 14 orang. Seluruh korban meninggal telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lanjutan. Sementara itu, jumlah korban luka tercatat sebanyak 84 orang dengan kondisi beragam.
“Korban meninggal telah dibawa ke RS Polri untuk identifikasi lebih lanjut,” ujar Bobby Rasyidin. Ia juga memastikan seluruh korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai rumah sakit. Upaya ini dilakukan untuk memastikan keselamatan serta pemulihan kondisi korban berjalan optimal.
Korban luka dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan seperti RSUD Bekasi dan beberapa rumah sakit lain. Rumah sakit yang menangani korban termasuk RS Bella, RS Primaya, hingga RS Mitra Keluarga Bekasi. Seluruh fasilitas kesehatan tersebut dikerahkan untuk mempercepat proses penanganan korban kecelakaan.
KAI memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung melalui skema asuransi dan dukungan perusahaan. Langkah ini diambil untuk meringankan beban korban serta keluarga yang terdampak tragedi tersebut. Selain itu, biaya pemakaman korban meninggal juga ditanggung sepenuhnya oleh KAI.
KAI juga membuka posko tanggap darurat dan layanan informasi bagi keluarga korban di lokasi kejadian. Layanan ini memudahkan keluarga mendapatkan informasi terkait kondisi korban secara cepat dan akurat. KAI juga menyediakan layanan kontak resmi untuk memfasilitasi komunikasi antara keluarga dan petugas.
Sementara itu, kronologi awal kecelakaan mulai terungkap melalui keterangan dari pihak KAI. Diduga insiden bermula dari gangguan di perlintasan sebidang akibat kendaraan yang melintas. Gangguan tersebut kemudian memicu rangkaian kejadian hingga terjadi tabrakan antarkereta.
“Kami menduga gangguan awal berasal dari perlintasan yang mengganggu sistem perjalanan kereta,” ujar Bobby Rasyidin. Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil investigasi resmi dari lembaga berwenang terkait. Proses investigasi akan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan fakta di lapangan.
Perusahaan transportasi terkait juga menyatakan dukungan penuh terhadap proses investigasi yang berlangsung. Mereka berkomitmen untuk memberikan data serta informasi yang diperlukan guna mempercepat penyelidikan. Langkah ini menjadi bagian penting dalam mengungkap penyebab kecelakaan secara transparan.
Di sisi lain, operasional Stasiun Bekasi Timur masih mengalami pembatasan pascakejadian tersebut. Untuk sementara, layanan naik turun penumpang dihentikan demi mendukung proses penanganan di lokasi. Sementara itu, perjalanan KRL hanya dilayani hingga Stasiun Bekasi dengan pengaturan terbatas.
Jalur kereta api secara bertahap mulai dibuka kembali dengan sistem pengawasan ketat di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelancaran transportasi sekaligus memastikan keselamatan perjalanan. Petugas tetap bersiaga di lokasi guna mengantisipasi potensi gangguan lanjutan selama pemulihan berlangsung. R-02

