Ancaman Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu: Risiko Logam Berat Picu Penyakit Kronis
Ikan sapu-sapu. Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMerauke News – Kekhawatiran terhadap keamanan pangan kembali mencuat setelah ikan sapu-sapu, yang kerap ditemukan di perairan kotor dan tercemar, disebut berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur menegaskan bahwa konsumsi ikan ini tidak hanya berisiko dalam jangka pendek, tetapi juga menyimpan ancaman laten yang bisa muncul setelah bertahun-tahun.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Herwin Meifendy, mengungkapkan bahwa bahaya ikan sapu-sapu tidak selalu terlihat secara langsung. Justru, efek paling berbahaya terjadi ketika zat beracun yang terkandung di dalamnya menumpuk perlahan di dalam tubuh manusia.
“Dampaknya tidak instan. Namun jika dikonsumsi terus-menerus, zat berbahaya itu akan terakumulasi dan berpotensi memicu gangguan kesehatan serius,” ujarnya.
Menurut Herwin, ikan sapu-sapu berisiko mengandung berbagai logam berat berbahaya seperti merkuri, timbal (Pb), arsen, dan kadmium. Keempat zat tersebut dikenal memiliki dampak buruk bagi tubuh jika masuk dalam jumlah tertentu dan terus menumpuk tanpa disadari.
Merkuri, misalnya, merupakan zat beracun yang dapat menyerang sistem saraf pusat. Paparan dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan otak, penurunan fungsi kognitif, hingga kerusakan organ vital seperti ginjal dan paru-paru. Dalam kasus tertentu, keracunan merkuri bahkan dapat menyebabkan gangguan permanen.
Sementara itu, timbal dikenal sebagai racun yang berbahaya bagi sistem saraf, terutama pada anak-anak. Paparan timbal dapat menyebabkan penurunan kecerdasan, gangguan perkembangan, serta perubahan perilaku. Risiko ini menjadi semakin serius jika konsumsi terjadi dalam jangka waktu lama tanpa disadari.
Tak kalah berbahaya, arsen memiliki sifat karsinogenik yang erat kaitannya dengan peningkatan risiko kanker. Paparan arsen dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan kanker kulit, paru-paru, hingga kanker kandung kemih. Di sisi lain, kadmium juga memberikan ancaman serius dengan dampak utama pada kerusakan ginjal dan sistem pernapasan.
Herwin menegaskan bahwa kombinasi paparan logam berat tersebut dalam jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit degeneratif. Mulai dari gangguan fungsi otak, kerusakan organ, hingga penyakit kronis yang sulit disembuhkan.
“Jika terus terakumulasi, bukan tidak mungkin memicu gangguan serius seperti penurunan fungsi otak hingga penyakit kronis lainnya,” jelasnya.
Meski sebagian masyarakat beranggapan bahwa pengolahan tertentu dapat mengurangi risiko, Herwin menepis anggapan tersebut. Hingga saat ini, belum ada metode pengolahan yang terbukti mampu menghilangkan kandungan logam berat secara aman dari ikan yang sudah terkontaminasi.
Karena itu, pihaknya secara tegas mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu. Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan memilih jenis ikan lain yang lebih aman, bergizi, dan berasal dari perairan yang terjamin kebersihannya.
Selain faktor kesehatan, keberadaan ikan sapu-sapu juga menjadi perhatian dari sisi lingkungan. Ikan ini dikenal sebagai spesies invasif yang dapat merusak ekosistem perairan dan mengganggu keseimbangan habitat ikan lokal.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun terus menggencarkan upaya penangkapan ikan sapu-sapu di berbagai wilayah. Langkah ini tidak hanya bertujuan menjaga ekosistem, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pencegahan risiko kesehatan masyarakat.
Dalam operasi terbaru, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur bersama warga berhasil menangkap total 1.831 kilogram atau sekitar 1,83 ton ikan sapu-sapu dari berbagai titik perairan di 10 kecamatan.
Data menunjukkan, Kecamatan Makasar menjadi wilayah dengan tangkapan terbesar, mencapai 481,55 kilogram. Disusul Kecamatan Ciracas dengan 280 kilogram dan Kecamatan Cakung sebesar 240,6 kilogram.
Wilayah lain juga mencatat hasil tangkapan signifikan, seperti Pasar Rebo sebanyak 178 kilogram, Cipayung 189 kilogram, Kramat Jati 137,8 kilogram, Jatinegara 126,15 kilogram, Matraman 87 kilogram, Duren Sawit 64,5 kilogram, serta Pulogadung 47,2 kilogram.
Khusus di Kecamatan Cipayung, keterlibatan masyarakat terlihat aktif dengan hasil tangkapan dari delapan kelurahan. Kelurahan Cipayung mencatat angka tertinggi sebesar 56 kilogram, diikuti Pondok Ranggon 40 kilogram, Setu 31 kilogram, Munjul 28,4 kilogram, Cilangkap 14,4 kilogram, Lubang Buaya 9,3 kilogram, Ceger 5,5 kilogram, dan Bambu Apus 4,4 kilogram.
Meningkatnya jumlah tangkapan ini mencerminkan kesadaran masyarakat yang mulai tumbuh terhadap bahaya ikan sapu-sapu, baik dari sisi kesehatan maupun lingkungan. Pemerintah pun terus mendorong partisipasi warga untuk ikut serta dalam pengendalian populasi ikan tersebut.
Herwin kembali mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memilih bahan pangan. Ia menekankan bahwa tidak semua sumber protein aman untuk dikonsumsi, terutama jika berasal dari lingkungan yang tercemar.
“Kesadaran masyarakat sangat penting. Pilihlah bahan makanan yang jelas asal-usulnya dan aman dikonsumsi. Jangan mengambil risiko dengan mengonsumsi ikan yang berpotensi mengandung zat berbahaya,” tegasnya.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap isu ini, diharapkan masyarakat semakin bijak dalam menentukan pilihan konsumsi sehari-hari. Ancaman kesehatan yang tidak terlihat dalam jangka pendek justru menjadi risiko terbesar yang harus diwaspadai sejak dini. (R-05)

