Tudingan Rp5 Miliar Bikin JK Meledak, Hubungan Politik dengan Jokowi Diungkap Terang
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meluapkan kemarahan setelah dituduh mendanai polemik ijazah Presiden Joko Widodo senilai Rp5 miliar. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Jusuf Kalla akhirnya buka suara usai dituding mendanai polemik ijazah Jokowi senilai Rp5 miliar. Mantan Wakil Presiden itu geram namanya diseret dalam isu politik liar. JK bahkan menegaskan Jokowi tak akan menjadi gubernur hingga presiden tanpa dukungan politik darinya.
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meluapkan kemarahan setelah dituduh mendanai polemik ijazah Presiden Joko Widodo senilai Rp5 miliar. JK menegaskan tuduhan itu fitnah dan menyebut namanya sengaja diseret dalam manuver politik yang menyesatkan.
JK menyampaikan kekesalannya saat memberikan keterangan di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu, 18 April 2026. Ia mengaku beberapa kali dihubungi pihak yang terlibat dalam polemik itu, namun selalu menolak karena memilih bersikap netral.
“Saya marah karena dituduh kasih Rp5 miliar. Ketemu saja tidak pernah, kenal pun tidak,” kata JK.
Menurut JK, tuduhan itu merupakan bagian dari upaya pengalihan isu yang menyeret banyak tokoh nasional. Ia menyebut sejumlah nama besar ikut dituduh tanpa dasar demi membangun narasi yang menggiring opini publik.
“Semua orang dituduh, saya, Puan, SBY. Itu cuma pengalihan isu,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, JK juga menyinggung peran politiknya dalam perjalanan karier Jokowi. Ia mengaku pernah mengusulkan nama Jokowi kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat pemilihan gubernur DKI Jakarta.
Langkah itu, menurut JK, menjadi awal dari jalan politik Jokowi menuju panggung nasional. Ia merasa tuduhan terhadap dirinya sangat tidak berdasar mengingat dukungan politik yang pernah ia berikan.
“Dia tidak jadi gubernur kalau bukan saya,” ujar JK.
JK juga mengungkap Megawati pernah memintanya mendampingi Jokowi dalam pemilihan presiden. Menurutnya, saat itu Megawati menilai dirinya lebih berpengalaman untuk membimbing Jokowi di pemerintahan.
Pernyataan tersebut disampaikan JK saat menjawab pertanyaan soal laporan polisi terhadap ceramahnya mengenai “mati syahid” di UGM. Ia menolak berspekulasi, namun merasa ada kaitan politik setelah dirinya melaporkan pihak yang menuduhnya.
“Saya tidak mau berspekulasi, tapi masalah ini muncul setelah saya melapor,” ucap JK.
Pernyataan keras JK langsung memantik perhatian publik karena membuka sisi lain hubungan politiknya dengan Jokowi. Polemik ini diperkirakan terus bergulir karena melibatkan tokoh-tokoh besar nasional.(R-04)

