Setelah Tujuh Hari Pencarian, MR. X yang Ditemukan di Perairan Desa Tebun Dipastikan Adalah Nasri
Proses evakuasi korban oleh Tim SAR Gabungan. Foto: Istimewa
RIAU, SabangMerauke News - Setelah tujuh hari pencarian yang diliputi ketidakpastian di perairan Rangsang, Kepulauan Meranti, misteri hilangnya seorang penumpang yang melompat dari kapal Dumai Line I akhirnya menemukan titik terang.
Tengkorak tanpa identitas (Mr. X) awalnya ditemukan di celah hutan bakau di perairan Bandaraya, Desa Tebun dan segera dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada Sabtu pagi (18/4/2026), menghadirkan kepastian di tengah penantian panjang yang selama ini menyelimuti proses pencarian.
Informasi tersebut pertama kali diterima Kantor Basarnas Pekanbaru sekitar pukul 09.00 WIB dari agen kapal Dumai Line. Dugaan kuat mengarah bahwa jasad yang ditemukan merupakan korban dari peristiwa orang melompat dari kapal Dumai Line beberapa hari sebelumnya di perairan Selat Meranti, saat pelayaran dari Tanjung Buton menuju Tanjung Balai Karimun.
Tak menunggu lama, Unit Siaga SAR Meranti segera bergerak. Sekitar pukul 09.05 WIB, tiga personel tim rescue diberangkatkan menuju titik koordinat lokasi penemuan dengan jarak tempuh sekitar 2,52 mil laut. Harapan yang sempat menggantung selama beberapa hari pencarian kembali menyala meski dibayangi suasana haru.
Sekitar pukul 09.45 WIB, proses evakuasi berhasil dilakukan. Jasad korban kemudian dibawa ke Selatpanjang untuk selanjutnya dievakuasi ke rumah sakit guna pemeriksaan lebih lanjut bersama pihak kepolisian.
Proses evakuasi itu tidak dilakukan sendirian. Sejumlah unsur turut terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut, mulai dari personel Polairud Selatpanjang, TNI Angkatan Laut Selatpanjang, BPBD Selatpanjang, hingga masyarakat setempat yang ikut membantu proses di lapangan.
Penemuan jasad itu menjadi titik penting dari rangkaian panjang operasi pencarian yang sebelumnya telah dilakukan berhari-hari di perairan Selat Meranti. Meski identitas korban saat itu masih dalam proses pendalaman, kuat dugaan jasad tersebut berkaitan dengan peristiwa orang jatuh atau melompat dari kapal yang sempat mengundang perhatian publik beberapa waktu lalu
Kepala Kantor Basarnas Pekanbaru Budi Cahyadi melalui Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti Prima Harrie Saputra menjelaskan bahwa laporan awal penemuan korban diterima sekitar pukul 09.00 WIB dari Bakri, agen kapal Dumai Line. Informasi tersebut menyebutkan bahwa sekitar pukul 08.40 WIB, seorang pria ditemukan di titik koordinat perairan Pulau Rangsang yang diduga kuat merupakan korban dari peristiwa orang melompat dari kapal beberapa hari sebelumnya.
Menurut Prima, laporan awal berasal dari masyarakat dan nelayan yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Informasi itu segera ditindaklanjuti sebagai bagian dari respons cepat operasi kemanusiaan.
“Begitu informasi diterima, tim langsung kami siapkan untuk bergerak menuju lokasi. Jarak tempuh sekitar 2,52 mil laut dengan estimasi tiba kurang dari 30 menit,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (18/4/2026).
Tanpa menunda waktu, Tim Rescue Unit Siaga SAR Meranti yang terdiri dari tiga personel diberangkatkan pukul 09.05 WIB menuju lokasi dengan heading 294 derajat. Kurang dari satu jam kemudian, tepatnya pukul 09.45 WIB, korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke RSUD Kepulauan Meranti untuk pemeriksaan lebih lanjut bersama pihak kepolisian.
“Korban sudah berhasil kami evakuasi dan selanjutnya diserahkan ke pihak berwenang untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut,” tambahnya.
Pada awal proses evakuasi, identitas korban masih menunggu kepastian. Namun sejumlah ciri yang ditemukan di lokasi mulai mengarah pada korban yang sebelumnya dilaporkan hilang. Salah satu petugas di lapangan menyebutkan bahwa di sekitar lokasi penemuan ditemukan pakaian berupa celana yang diduga milik korban.
“Kami masih menunggu kedatangan pihak keluarga, khususnya adik kandung korban, untuk membantu proses identifikasi. Dugaan sementara memang mengarah ke korban yang dilaporkan hilang, namun tetap harus dipastikan melalui pemeriksaan,” jelasnya.
Tak lama kemudian, pihak keluarga datang dan memastikan bahwa jasad yang ditemukan tersebut benar merupakan Nasri. Setelah proses identifikasi selesai dilakukan, korban kemudian dibawa pulang ke kampung halamannya untuk dimakamkan secara layak oleh keluarga.
Operasi evakuasi tersebut melibatkan berbagai unsur lintas instansi, di antaranya personel Polairud Selatpanjang, TNI Angkatan Laut, BPBD Selatpanjang, serta masyarakat setempat. Sinergi yang terbangun di lapangan menjadi bagian penting dari keberhasilan proses evakuasi.
Penemuan korban ini sekaligus menjadi jawaban atas pencarian intensif yang sebelumnya telah berlangsung selama sepekan. Sebelumnya, upaya penyisiran terus dilakukan hingga hari ketujuh operasi aktif, Kamis (16/4/2026). Namun hingga batas akhir waktu pencarian saat itu, korban belum berhasil ditemukan.
“Area pencarian hari itu sudah kita perluas lagi, jangkauannya sampai sekitar 10 mil laut dari titik awal. Ini kita lakukan karena dari hari-hari sebelumnya belum ada tanda-tanda, jadi kemungkinan korban sudah terbawa arus lebih jauh,” ujar Prima dalam keterangannya saat operasi masih berlangsung.
Di tengah upaya maksimal tersebut, kondisi cuaca relatif mendukung jalannya proses penyisiran.
“Untuk kondisi cuaca hari itu masih aman, angin juga tidak terlalu kencang, gelombang masih bisa dilalui. Jadi tim di lapangan bisa lebih leluasa melakukan penyisiran,” katanya.
Meski pencarian dilakukan secara intensif selama tujuh hari tanpa hasil pada fase operasi aktif, kerja keras tim SAR gabungan tidak berhenti begitu saja. Hingga akhirnya, beberapa hari setelah operasi resmi dihentikan dan masuk tahap pemantauan, kabar yang dinanti keluarga itu pun datang mengakhiri penantian panjang di perairan Selat Meranti dengan sebuah kepastian yang penuh haru. (R-01)

