Gila! Rupiah Jebol Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah, Dolar AS Tembus Rp17.185
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.180 per dolar AS. Pelemahan terjadi sejak pembukaan perdagangan pada Jumat, 17 April 2026. Data pasar menunjukkan tekanan datang dari kombinasi sentimen global dan domestik yang belum mereda.
Pergerakan rupiah melemah sekitar 0,25 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang sempat menguat tipis. Dalam hitungan jam, posisi mata uang Garuda terus bergeser menjauh dari zona aman. Tekanan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan performa terburuk pekan ini.
Sepanjang pekan berjalan, rupiah tercatat turun sekitar 0,22 persen dan sulit bangkit secara konsisten. Posisi tersebut hanya lebih baik dari rupee India yang mengalami pelemahan lebih dalam. Kondisi ini memperlihatkan tekanan struktural belum selesai menghantui pasar domestik.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut pergerakan rupiah masih sangat rentan tekanan eksternal. “Rupiah berpotensi bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada kisaran Rp17.130 hingga Rp17.170,” ujarnya, Jumat, 17 April 2026. Ia menilai sentimen global masih menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang.
Ironisnya, pelemahan rupiah terjadi saat indeks dolar AS justru tidak terlalu agresif. Indeks dolar tercatat berada di kisaran 98 dan mengalami tren penurunan beberapa hari terakhir. Situasi ini biasanya memberi ruang penguatan mata uang berkembang, namun kali ini tidak berlaku.
Fenomena tersebut mengindikasikan tekanan domestik lebih dominan dibandingkan pengaruh global saat ini. Sejumlah faktor dalam negeri membebani sentimen investor secara signifikan. Kombinasi risiko ekonomi dan ketidakpastian kebijakan membuat pasar cenderung defensif.
Salah satu tekanan terbesar datang dari ancaman pemutusan hubungan kerja di sektor industri. Sekitar 9.000 tenaga kerja dilaporkan berisiko kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat. Kondisi ini memperburuk persepsi terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Selain itu, kondisi fiskal juga menjadi sorotan serius pelaku pasar dan lembaga internasional. Lembaga pemeringkat global menilai Indonesia memiliki kerentanan terhadap penurunan peringkat kredit. Risiko tersebut meningkat jika konflik global berlangsung lebih lama dan berdampak pada ekonomi domestik.
Tekanan lain muncul dari cadangan devisa yang terkuras signifikan sepanjang kuartal pertama tahun ini. Data menunjukkan cadangan devisa turun hingga miliaran dolar akibat intervensi stabilisasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga nilai tukar tetap terkendali di tengah tekanan pasar.
Kepala strategi pasar global Elias Haddad menilai sentimen geopolitik masih menjadi faktor dominan. “Harapan solusi diplomatik konflik global membantu sentimen risiko, namun dampaknya terbatas pada penguatan dolar,” katanya. Ia menilai pasar masih berhati-hati menunggu kepastian.
Di sisi lain, pemerintah tetap berupaya menjaga kepercayaan investor melalui stabilitas fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan peringkat kredit Indonesia tetap berada di level investasi. “Rating tetap stabil di level BBB, ini sinyal positif bagi investor,” ujarnya.
Meski begitu, pasar tampaknya belum sepenuhnya merespons positif kabar tersebut. Kekhawatiran terhadap defisit anggaran masih membayangi pergerakan ekonomi nasional. Data menunjukkan defisit meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan utang luar negeri juga turut memperkuat tekanan terhadap rupiah. Posisi utang mencapai ratusan miliar dolar dengan pertumbuhan tahunan yang meningkat. Kondisi ini menambah beban eksternal yang harus diantisipasi dalam jangka menengah.
Bank Indonesia mencoba meredam tekanan melalui berbagai instrumen moneter strategis. Salah satu langkah yang ditempuh adalah optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia untuk menyerap likuiditas. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Namun tekanan global tetap sulit dihindari, terutama terkait konflik geopolitik dan harga energi. Ketidakpastian pasokan minyak dunia masih mempengaruhi sentimen investor global. Hal ini membuat arus modal cenderung bergerak ke aset yang dianggap lebih aman.
Di tengah kondisi tersebut, rupiah menghadapi tantangan ganda dari dalam dan luar negeri. Kombinasi tekanan ini membuat pergerakan mata uang menjadi sangat sensitif terhadap sentimen kecil sekalipun. Pasar kini menunggu katalis kuat untuk membalikkan arah tren negatif.
Perdagangan menjelang akhir pekan diperkirakan masih bergerak dalam pola terbatas dan fluktuatif. Analis menyarankan pendekatan hati-hati sambil menunggu stabilisasi di level support. Tanpa perubahan signifikan, rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan jangka pendek. R-02

