Alarm Dunia Kerja! 67% Perusahaan Tahan Rekrutmen, Ini Strategi Pemerintah
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Gelombang ketidakpastian global mulai menekan dunia usaha nasional, memicu sinyal bahaya pasar tenaga kerja. Survei terbaru mengungkap mayoritas perusahaan menahan rekrutmen baru. Pemerintah merespons cepat dengan strategi ketahanan dan peningkatan keterampilan pekerja untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Ketidakpastian global menekan perekrutan, pemerintah siapkan strategi menahan dampak ke pasar tenaga kerja nasional saat.
Pemerintah merespons laporan Apindo terkait rendahnya minat rekrutmen pekerja baru saat ini.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan koordinasi lintas kementerian terus diperkuat menghadapi tekanan ekonomi global.
Kondisi ekonomi dunia dinilai penuh tantangan dan berdampak langsung terhadap aktivitas dunia usaha nasional.
Pemerintah terus memantau dinamika global melalui koordinasi bersama kementerian ekonomi dan sektor industri nasional.
Langkah ini diarahkan menjaga stabilitas ketenagakerjaan dan mencegah lonjakan pengangguran akibat perlambatan ekonomi global.
“Artinya kondisi dunia penuh ketidakpastian dan pemerintah harus menyikapi dengan koordinasi lintas sektor kuat,” kata Yassierli.
Ia menekankan keterlibatan Kemenko Perekonomian serta Kementerian Perindustrian dalam merumuskan kebijakan responsif menghadapi situasi global.
Pendekatan kolaboratif dianggap penting menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal berkepanjangan.
Strategi utama difokuskan pada penguatan ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi ekonomi nasional berkelanjutan.
Menurut Yassierli, dua sektor ini menjadi penyangga utama menghadapi gejolak ekonomi global tidak menentu.
Ketahanan kuat pada sektor tersebut dinilai mampu meningkatkan resiliensi ekonomi dan stabilitas pasar kerja nasional.
“Ketahanan pangan dan energi menjadi strategi menghadapi ketidakpastian agar ekonomi nasional tetap kuat,” ujarnya.
Program pemerintah terus diarahkan memperkuat sektor strategis guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional jangka panjang.
Langkah ini diharapkan mampu meredam dampak negatif perlambatan global terhadap dunia usaha domestik.
Dari sisi ketenagakerjaan, fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional.
Program pelatihan vokasi diperkuat untuk menjawab kebutuhan industri modern yang semakin berbasis teknologi digital.
Pemerintah juga mendorong peningkatan keterampilan digital guna memperluas peluang kerja di berbagai sektor ekonomi.
Selain pelatihan vokasi, program magang diperluas sebagai solusi kesenjangan antara kebutuhan industri dan tenaga kerja.
Program ini diharapkan mampu mempercepat penyerapan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar industri nasional.
Link and match antara pendidikan dan industri menjadi prioritas untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.
“Inilah program vokasi dan magang menjadi solusi memperbaiki kesenjangan kebutuhan industri dan keterampilan tenaga kerja,” jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting dalam menghadapi perubahan struktur pekerjaan akibat transformasi digital global.
Pemerintah optimistis strategi ini mampu menjaga keseimbangan pasar tenaga kerja nasional dalam jangka panjang.
Sebelumnya, survei Apindo menunjukkan 67 persen perusahaan belum berencana membuka rekrutmen baru.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Bob Azam menyebut kondisi ini perlu perhatian serius pemerintah pusat.
Selain itu, sekitar 50 persen perusahaan juga tidak merencanakan ekspansi bisnis dalam lima tahun mendatang.
“Sebanyak 67 persen perusahaan tidak berniat melakukan rekrutmen baru dan ini perlu perhatian serius,” ujar Bob.
Situasi tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global berkepanjangan.
Pemerintah diharapkan mampu menjaga iklim usaha tetap kondusif guna mendorong pertumbuhan lapangan kerja baru.(R-04)

