Saat Mata Uang Dunia Bergejolak, Rupiah Masih Bertahan Paling Stabil
Rupiah melemah hingga Rp17.100 per dolar AS, namun tetap lebih stabil dibanding mata uang negara selevel. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Rupiah melemah hingga Rp17.100 per dolar AS, namun tetap lebih stabil dibanding mata uang negara selevel. Data Bank Indonesia menunjukkan volatilitas rupiah terendah di antara negara peers, didukung fundamental ekonomi kuat dan inflasi terkendali.
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, namun tetap lebih stabil dibanding negara selevel.
Rupiah berada di kisaran Rp17.100 per dolar AS hingga Senin, 13 April 2026. Tekanan eksternal masih mempengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang sepanjang awal tahun ini. Namun stabilitas rupiah dinilai lebih baik dibanding negara dengan kapasitas ekonomi setara.
Direktur DJSEF Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad menegaskan kondisi rupiah tetap terkendali. Ia menyebut fundamental ekonomi nasional masih kuat menopang stabilitas nilai tukar domestik. “Tekanan rupiah masih moderat dibanding negara peers, depresiasi tetap terkendali,” ujar Faisal.
Data menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia masih berada dalam zona ekspansi pada Maret 2026. Purchasing Managers Index tercatat di level 50,1 yang mencerminkan pertumbuhan sektor industri. Selain itu, pertumbuhan kredit masih mencapai 9,37 persen secara tahunan.
Menurut Bank Indonesia, volatilitas rupiah menjadi yang terendah dibanding tujuh negara lainnya. Indeks volatilitas rupiah tercatat sebesar 4,75 sepanjang periode pengamatan terbaru. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.
Sebagai perbandingan, volatilitas rupee India mencapai 8,92 dan peso Filipina 10,55. Baht Thailand tercatat di level 12,40, sementara peso Meksiko mencapai 13,20. Real Brasil, peso Argentina, dan rand Afrika Selatan bahkan mencatat volatilitas lebih tinggi lagi.
Depresiasi rupiah sejak awal tahun juga relatif lebih rendah dibanding beberapa negara peers. Bank Indonesia mencatat pelemahan rupiah sebesar 2,91 persen sepanjang tahun berjalan. Angka ini masih kompetitif dibandingkan negara berkembang lain di pasar global.
Won Korea Selatan tercatat melemah 2,85 persen terhadap dolar AS dalam periode sama. Rupee India mengalami depresiasi 3,08 persen, sementara lira Turki mencapai 3,69 persen. Perbandingan ini menunjukkan ketahanan rupiah di tengah tekanan global masih cukup solid.
Faisal menegaskan stabilitas ekonomi domestik menjadi faktor utama menjaga nilai tukar tetap terkendali. Inflasi nasional masih terjaga dan kebijakan fiskal dijalankan secara disiplin. Rasio utang pemerintah juga tetap berada di bawah batas aman 60 persen produk domestik bruto.
“Kondisi fiskal tetap prudent, inflasi terkendali, rasio utang aman,” kata Faisal menegaskan. Ia menilai kombinasi kebijakan fiskal dan moneter mampu menjaga kepercayaan investor. Stabilitas ini penting untuk meredam gejolak eksternal yang masih berlangsung.
Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan global dan potensi tekanan lanjutan terhadap mata uang. Ketidakpastian eksternal seperti suku bunga global dan geopolitik masih menjadi faktor utama. Namun daya tahan ekonomi domestik memberi ruang stabilitas lebih baik bagi rupiah.(R-04)

