Harga Minyak Dunia 10 April 2026: WTI Naik 3% ke USD 97,87, Brent Sentuh USD 95,92
Ilustrasi harga minyak mentah, Jumat (10/4/2026). Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMerauke News - Jumat (10/4/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melonjak lebih dari 3% dan ditutup pada level USD 97,87 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent sebagai patokan global juga mencatat kenaikan lebih dari 1% dan ditutup di posisi USD 95,92 per barel untuk pengiriman Juni. Lonjakan ini mencerminkan dinamika pasar energi global yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasokan.
Kenaikan harga minyak tersebut sempat menyentuh level yang lebih tinggi di awal perdagangan. Minyak mentah AS bahkan sempat menembus angka USD 100 per barel, didorong oleh kekhawatiran pasar atas gangguan distribusi di kawasan Timur Tengah. Salah satu faktor utama yang memicu lonjakan ini adalah pembatasan lalu lintas kapal oleh Iran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Selat Hormuz memiliki peran krusial karena menjadi jalur utama bagi sekitar sepertiga pasokan minyak global yang dikirim melalui laut. Ketika akses di wilayah ini terganggu, pasar langsung bereaksi dengan lonjakan harga akibat kekhawatiran pasokan yang terhambat. Pernyataan dari otoritas energi kawasan yang menyebut kapal-kapal harus mendapatkan izin khusus untuk melintas semakin memperkuat sentimen tersebut.
Namun, reli harga minyak tidak berlangsung lama. Kenaikan mulai mereda setelah muncul kabar bahwa Israel bersedia membuka jalur negosiasi dengan Lebanon. Pernyataan ini memberikan sedikit harapan akan meredanya konflik yang sebelumnya dikhawatirkan dapat meluas dan mengganggu stabilitas kawasan.
Ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon memang menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran pasar. Konflik ini dinilai berpotensi menyeret kekuatan regional lain, termasuk Iran, yang selama ini dikenal sebagai pendukung utama Hizbullah. Jika konflik meluas, dampaknya tidak hanya pada keamanan kawasan, tetapi juga terhadap pasokan energi global.
Di sisi lain, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran juga masih diwarnai ketidakpercayaan. Iran menuduh adanya pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Tuduhan ini semakin memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian di pasar minyak.
Ketua parlemen Iran menyebut bahwa beberapa poin penting dalam proposal gencatan senjata telah dilanggar. Di antaranya adalah berlanjutnya serangan di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh pesawat tak berawak, serta penolakan terhadap hak Iran dalam pengayaan uranium. Pernyataan ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya bersifat militer, tetapi juga melibatkan aspek politik dan diplomatik yang kompleks.
Sementara itu, dari pihak Amerika Serikat, sinyal yang diberikan cenderung lebih moderat. Pemerintah AS menyebut bahwa proposal dari Iran masih bisa menjadi dasar untuk pembicaraan lebih lanjut. Namun, mereka tetap menegaskan sikap bahwa Iran tidak boleh mengembangkan program nuklir yang berpotensi mengancam stabilitas global.
Wakil Presiden AS juga mengakui bahwa gencatan senjata dalam situasi seperti ini memang sulit untuk dijaga. Banyak faktor yang dapat memicu pelanggaran, baik yang disengaja maupun tidak. Hal ini membuat pasar energi tetap berada dalam kondisi waspada tinggi.
Kondisi geopolitik yang penuh ketidakpastian ini menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak. Investor dan pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama terkait potensi gangguan pasokan. Setiap eskalasi konflik berpotensi mendorong harga naik, sementara kabar positif seperti negosiasi dapat menekan harga.
Selain faktor geopolitik, permintaan global juga turut memengaruhi harga minyak. Pemulihan ekonomi di sejumlah negara besar mendorong peningkatan konsumsi energi. Namun, di sisi lain, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global masih menjadi bayang-bayang yang bisa menahan kenaikan harga.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia tentu memiliki dampak tersendiri. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, lonjakan harga minyak dapat memengaruhi biaya produksi, harga bahan bakar, hingga inflasi. Pemerintah biasanya harus melakukan penyesuaian kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Pelaku industri juga dihadapkan pada tantangan untuk menyesuaikan strategi bisnis mereka. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya operasional, terutama bagi sektor transportasi dan manufaktur. Di sisi lain, sektor energi justru berpotensi mendapatkan keuntungan dari tingginya harga minyak.
Ke depan, arah pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan negara-negara produsen utama. Jika ketegangan mereda dan pasokan kembali normal, harga berpotensi stabil atau bahkan turun. Namun, jika konflik kembali memanas, lonjakan harga bisa kembali terjadi.
Dengan kondisi yang masih fluktuatif, pelaku pasar diharapkan tetap berhati-hati dan memperhatikan setiap perkembangan global. Harga minyak bukan hanya sekadar angka, tetapi juga cerminan dari dinamika politik, ekonomi, dan keamanan dunia yang saling terkait. (R-05)

