Iran dan AS Sepakati Jeda Perang Dua Minggu, Negosiasi Dimulai di Islamabad
Ilustrasi perseteruan Iran vs Amerika Serikat. Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMerauke News — Jeda perang Iran dengan AS selama dua minggu menjadi sorotan dunia setelah Iran secara resmi mengumumkan kesepakatan tersebut dengan Amerika Serikat. Keputusan ini disampaikan oleh Dewan Keamanan Nasional Iran pada Rabu (8/4/2026), membuka peluang baru menuju meredanya ketegangan yang selama ini mengguncang kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan jeda perang ini bukan hanya menghentikan sementara eskalasi militer, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi perundingan penting antara kedua negara. Pemerintah di Teheran menyatakan bahwa pembicaraan resmi dengan Washington akan dimulai pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, ibu kota Pakistan. Pertemuan tersebut akan berlandaskan proposal 10 poin yang diajukan Iran sebagai kerangka awal negosiasi damai.
Langkah ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangguhan serangan militer terhadap Iran selama dua minggu. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor strategis, termasuk capaian militer AS yang diklaim telah memenuhi target.
Trump juga menyebut bahwa gencatan senjata ini bersifat dua arah, dengan syarat utama Iran membuka akses penuh, aman, dan segera di Selat Hormuz. Jalur perairan ini sangat vital bagi perdagangan global karena menjadi rute bagi sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Sebelumnya, Iran sempat memberlakukan blokade parsial di kawasan tersebut sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Blokade tersebut memicu dampak besar di pasar global. Harga minyak melonjak tajam, sementara sejumlah negara mengalami kelangkaan bahan bakar. Kondisi ini memperlihatkan betapa strategisnya posisi Selat Hormuz dalam menjaga stabilitas ekonomi dunia.
Di sisi lain, konflik yang terjadi juga melibatkan aktor-aktor regional. Iran diketahui mendapat dukungan dari kelompok sekutu seperti Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman. Keterlibatan mereka memperluas eskalasi konflik, termasuk serangan terhadap Israel yang semakin memperkeruh situasi keamanan di kawasan.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat telah “melampaui seluruh tujuan militernya” dan kini berada di ambang kesepakatan damai jangka panjang dengan Iran. Ia juga menyatakan bahwa proposal 10 poin dari Teheran dinilai cukup realistis untuk dijadikan dasar negosiasi.
Menurut Trump, sebagian besar perbedaan antara kedua negara sebenarnya telah menemukan titik temu. Masa jeda dua minggu ini disebutnya sebagai kesempatan untuk merampungkan detail akhir sebelum kesepakatan permanen disahkan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa Iran siap menghentikan operasi militernya selama serangan terhadap wilayahnya juga dihentikan. Ia menegaskan bahwa keamanan di Selat Hormuz akan dijamin melalui koordinasi dengan militer Iran.
Lebih lanjut, Araghchi menjelaskan bahwa pembukaan jalur aman di Selat Hormuz merupakan bagian dari kesepakatan awal setelah AS menerima kerangka umum proposal Iran. Hal ini menjadi salah satu poin penting yang diharapkan dapat memulihkan stabilitas perdagangan global.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, turut berperan dalam memediasi kesepakatan ini. Ia menyatakan bahwa kedua pihak sepakat untuk segera menghentikan pertempuran di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon. Pakistan juga menjadi tuan rumah perundingan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada 10 April 2026.
Proposal 10 poin yang diajukan Iran mencakup sejumlah tuntutan strategis. Di antaranya adalah pengakuan atas dominasi Iran di Selat Hormuz, penarikan seluruh pasukan tempur AS dari Timur Tengah, serta penghentian operasi militer terhadap kelompok sekutu Iran.
Selain itu, Iran juga menuntut kompensasi penuh atas kerusakan akibat perang, pencabutan seluruh sanksi internasional, serta pembebasan aset-asetnya yang selama ini dibekukan di luar negeri. Tak hanya itu, Teheran menginginkan agar kesepakatan akhir nantinya disahkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengikat secara hukum internasional.
Meski menyambut peluang negosiasi, Iran tetap menunjukkan sikap waspada. Dewan Keamanan Nasional Iran menegaskan bahwa pihaknya masih “sepenuhnya tidak percaya” terhadap AS. Oleh karena itu, masa jeda dua minggu ini dianggap sebagai ujian awal bagi komitmen kedua belah pihak.
Iran juga memperingatkan bahwa pihaknya siap merespons dengan “kekuatan penuh” jika terjadi pelanggaran sekecil apa pun selama masa gencatan senjata berlangsung. Pernyataan ini menegaskan bahwa situasi masih sangat rapuh dan berpotensi kembali memanas jika negosiasi gagal.
Di sisi lain, Israel menyatakan dukungan terhadap keputusan Trump, meski menegaskan bahwa penangguhan serangan tersebut tidak mencakup operasi militernya di Lebanon. Hal ini menunjukkan bahwa kompleksitas konflik di kawasan belum sepenuhnya mereda.
Kesepakatan jeda perang ini menjadi momentum penting bagi stabilitas global. Dunia kini menaruh harapan besar pada perundingan di Islamabad sebagai langkah awal menuju perdamaian jangka panjang di Timur Tengah. Namun, dengan sejarah panjang konflik dan ketidakpercayaan yang mendalam, jalan menuju kesepakatan final diperkirakan masih penuh tantangan. (R-05)

