Cegah Riau Terpanggang, BNPB Kirim Helikopter Bom Air Jinakkan Api yang Meluas
Ilustrasi Pemerintah Provinsi Riau kembali mendapat tambahan dukungan satu unit helikopter bom air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Foto: SM News/Created by Al
RIAU, SabangMerauke News - Pemerintah Provinsi Riau kembali mendapat tambahan dukungan satu unit helikopter bom air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), di tengah meningkatnya titik panas di sejumlah wilayah.
Tambahan armada udara ini menjadi angin segar dalam upaya percepatan penanggulangan karhutla yang kembali mengancam sejumlah daerah di Provinsi Riau. Dukungan ini sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi musim kemarau yang identik dengan meningkatnya risiko kebakaran lahan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Riau, M Edy Afrizal melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Jim Gafur menyampaikan bahwa helikopter yang dikirim merupakan jenis Helicopter MI-8AMT dengan nomor registrasi RA-22729. Helikopter ini memiliki kapasitas besar dalam operasi water bombing atau pengeboman air dari udara untuk memadamkan api di lokasi yang sulit dijangkau.
“Riau kembali mendapatkan bantuan berupa satu unit helikopter yang dapat digunakan untuk kegiatan water bombing di lokasi yang sedang terjadi karhutla,” ujarnya di Pekanbaru, Rabu.
Dengan tambahan ini, total armada helikopter yang disiagakan di Riau kini mencapai empat unit. Komposisinya terdiri dari dua helikopter patroli yang bertugas melakukan pemantauan udara, serta dua helikopter water bombing yang difokuskan untuk pemadaman langsung di titik api.
Keberadaan helikopter ini sangat krusial, terutama dalam menjangkau wilayah-wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat, seperti lahan gambut dan kawasan terpencil. Selain itu, respon cepat melalui jalur udara dinilai efektif dalam mencegah meluasnya kebakaran yang berpotensi menimbulkan kabut asap.
Tak hanya mengandalkan armada udara, Pemerintah Provinsi Riau juga terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah strategis untuk memicu hujan buatan. Saat ini, OMC telah memasuki tahap kedua setelah sebelumnya dilaksanakan sejak awal Februari lalu.
Operasi ini difokuskan pada wilayah pesisir Riau yang dinilai memiliki potensi awan lebih besar untuk dimodifikasi. Dengan adanya hujan buatan, diharapkan kelembapan lahan meningkat sehingga dapat menekan risiko kebakaran.
“OMC juga hingga saat ini masih terus berlanjut, fokus kegiatan OMC di Riau di daerah pesisir,” jelas Jim.
Meski demikian, tantangan di lapangan masih cukup besar. Hingga saat ini, titik panas dan upaya penanganan karhutla terpusat di Kabupaten Bengkalis, yang menjadi salah satu daerah paling terdampak.
Tim gabungan dari berbagai instansi, termasuk Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, masih berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah desa yang terdampak.
Empat desa di Bengkalis menjadi fokus utama penanganan, yakni Desa Kelemantan Barat, Kembung Luar, Sekodi, dan Pelkun. Proses pemadaman dilakukan secara intensif dengan kombinasi metode darat dan udara.
“Kami masih melaksanakan pendinginan di Desa Kelemantan Barat dan Kembung Luar. Untuk Desa Sekodi dan Pelkun, kami lakukan pengecekan kembali karena kondisi siang hari sangat terik,” ungkap salah satu petugas di lapangan.
Kondisi cuaca panas dan kering menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Suhu tinggi serta angin kencang dapat mempercepat penyebaran api, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Beruntung, helikopter water bombing masih aktif beroperasi di sekitar lokasi kebakaran. Setiap hari, helikopter tersebut melakukan puluhan kali penerbangan untuk menjatuhkan air ke titik-titik api yang terdeteksi.
Namun, upaya OMC hingga siang hari belum menunjukkan hasil maksimal karena belum ditemukannya awan potensial untuk disemai. Hal ini menjadi salah satu kendala dalam mempercepat turunnya hujan buatan di wilayah terdampak.
Pemerintah Provinsi Riau terus mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga gangguan kesehatan akibat kabut asap.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, serta masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mengendalikan karhutla. Upaya pencegahan harus dilakukan secara masif, tidak hanya saat kebakaran terjadi, tetapi juga jauh sebelum musim kemarau tiba.
Dengan tambahan armada helikopter dan dukungan berbagai pihak, diharapkan penanganan karhutla di Riau dapat berjalan lebih optimal. Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat demi melindungi masyarakat serta lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. (R-03)

