Dolar Tembus Rp17.100, Pemerintah Sudah Siapkan Skenario Mengejutkan
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (ist)
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Nilai tukar rupiah kembali tergelincir menyentuh kisaran Rp17.090 hingga Rp17.119 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 7 April 2026. Tekanan global dari konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar keuangan domestik. Pemerintah merespons dengan menyesuaikan strategi fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan depresiasi rupiah sudah masuk simulasi terbaru pemerintah. Skenario fiskal disusun dengan asumsi kurs lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi awal tahun anggaran berjalan. “Angka simulasi sudah disesuaikan dengan kondisi terbaru, semua masuk perhitungan skenario fiskal,” ujar Purbaya.
Penyesuaian tersebut berdampak pada rencana pelebaran defisit anggaran nasional dalam waktu dekat. Defisit APBN 2026 diproyeksikan meningkat dari 2,68 persen menuju kisaran 2,9 persen terhadap PDB nasional. Langkah ini menjadi bantalan menghadapi lonjakan subsidi energi akibat harga minyak dunia yang terus merangkak naik.
Lonjakan harga minyak menjadi efek domino dari ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Gangguan distribusi energi global meningkatkan premi risiko dan memicu kepanikan pasar komoditas internasional. Harga minyak mentah kini bertahan di atas 100 dolar per barel dan berpotensi terus meningkat.
Pengamat pasar mulai menguji skenario ekstrem jika harga minyak menembus 200 dolar per barel. Kondisi tersebut diprediksi akan mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan tekanan subsidi energi domestik. Beban APBN berpotensi membengkak drastis jika intervensi harga energi tetap dipertahankan pemerintah.
Pelemahan rupiah tercatat mencapai 70 poin atau 0,41 persen dalam penutupan perdagangan Selasa, 7 April 2026.
Nilai tukar bergerak dari Rp16.980 menjadi Rp17.105 per dolar AS dalam satu hari perdagangan. Tren negatif ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut dengan tekanan yang semakin intens.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti eskalasi konflik Timur Tengah sebagai faktor dominan. Investor global meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur energi utama dunia. “Gangguan suplai minyak meningkatkan risiko pasar dan mendorong pelemahan mata uang emerging market,” ujar Ibrahim.
Ketegangan geopolitik juga dipicu ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. Ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik berskala besar. Situasi ini memperburuk sentimen pasar dan mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang.
Di tengah tekanan tersebut, stabilitas rupiah menjadi prioritas utama otoritas moneter nasional saat ini. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan seluruh instrumen moneter dioptimalkan. “Stabilitas menjadi fokus utama, seluruh instrumen intervensi kami gunakan secara terukur,” kata Destry.
Bank Indonesia mengandalkan intervensi pasar spot dan instrumen derivatif untuk menahan volatilitas rupiah. Langkah ini termasuk penggunaan Domestic Non-Deliverable Forward dan Non-Deliverable Forward di pasar offshore. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai tekanan tidak hanya dialami rupiah saat ini. Beberapa mata uang emerging market mengalami tekanan akibat ketidakpastian global yang meningkat tajam. Namun kondisi rupiah dinilai lebih rentan karena kombinasi faktor eksternal dan domestik yang kompleks.
Menariknya, sejumlah mata uang Asia justru menunjukkan tanda pemulihan dalam periode yang sama. Won Korea Selatan, yuan China, baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Singapura mencatat penguatan terbatas. Fenomena ini memperlihatkan tekanan rupiah tidak sepenuhnya mengikuti tren kawasan regional Asia.
Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor domestik yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Kebutuhan impor energi serta tekanan fiskal menjadi variabel penting dalam dinamika ekonomi nasional. Kondisi tersebut membuat rupiah lebih sensitif terhadap gejolak harga minyak dan kebijakan global.
Data cadangan devisa Indonesia menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam waktu dekat. Laporan terbaru akan menunjukkan kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas melalui intervensi pasar. Cadangan devisa terakhir tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, setara lebih dari enam bulan impor.
Pemerintah tetap optimistis ekonomi nasional mampu bertahan menghadapi tekanan global yang meningkat. Posisi Indonesia sebagai eksportir komoditas memberikan bantalan terhadap lonjakan harga energi dunia. Namun, stabilitas jangka panjang tetap bergantung pada pengendalian inflasi dan kebijakan fiskal yang adaptif.
Situasi ini menjadi pengingat rapuhnya keseimbangan ekonomi di tengah konflik geopolitik global. Setiap lonjakan harga energi langsung memantul ke pasar keuangan dan nilai tukar domestik. Rupiah kini berdiri di garis tipis antara tekanan eksternal dan daya tahan kebijakan nasional. R-02

