Diduga Curi Buah, Dodi Berakhir Tragis, Ayah Ungkap Luka Mengguncang
Ilustrasi penganiayaan hingga menyebabkan kematian. (ist)
Sumut, SABANGMERAUKE NEWS - Warga Sei Mati, Medan, geger diguncang temuan jasad pria terikat mengenaskan, Senin dini hari, 6 April 2026. Korban bernama Dodi Muhammad, 29 tahun. Dia ditemukan tak bernyawa dalam pekarangan rumah warga di Jalan Nakhoda Sulaiman.
Sekira pukul 03.00 WIB, informasi awal datang mengetuk pintu rumah Kepala Lingkungan (Kepling) setempat, Zein. Kepling Lingkungan 5 Kelurahan Sei Mati, menerima laporan warga dalam kondisi panik. Tanpa banyak tanya, Zain bergegas menuju lokasi untuk memastikan kabar yang terasa ganjil itu.
Setibanya di lokasi, suasana terasa janggal, sunyi namun menyimpan kegelisahan yang pekat. Zain mengetuk pintu rumah berinisial A, hingga akhirnya pintu terbuka perlahan. “Saya masuk, saya lihat korban sudah terbaring di dalam gerbang, tidak bergerak,” kata Zain, Selasa, 7 April 2026.
Tubuh korban terlihat dalam kondisi terikat, tangan dan kaki seperti tak berdaya menolak nasib. Di sekitar lokasi, tampak ceceran darah yang memperkuat dugaan adanya kekerasan sebelum kematian. “Saya lihat tangan dan kaki terikat, saya tidak tahu masih hidup atau sudah meninggal,” ujar Zain.
Situasi menjadi semakin rumit saat pemilik rumah terlihat bingung menjawab pertanyaan awal. Zain sempat menanyakan apakah kejadian tersebut sudah dilaporkan kepada aparat kepolisian setempat. Jawaban tak jelas membuat Zain memilih bergerak cepat melaporkan kejadian ke Polsek Medan Labuhan.
Tak lama berselang, aparat kepolisian tiba dan langsung mengamankan lokasi kejadian perkara. Zain sempat melihat adanya penyerahan senjata tajam yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut. Namun, detail keterkaitan benda itu masih menjadi bagian penyelidikan yang belum sepenuhnya terbuka.
Setelah kembali dari salat, Zain mendapati lokasi sudah dalam penanganan penuh aparat kepolisian. Pemilik rumah tidak lagi berada di tempat karena menjalani pemeriksaan lanjutan oleh petugas. “Saat saya kembali, semua sudah ditangani polisi, korban sudah tidak bergerak lagi,” katanya.
Informasi lain muncul, menyebutkan pemilik rumah juga mengalami luka di bagian pelipis kepala. Beberapa warga yang berada di lokasi terlihat dengan pakaian yang terkena noda darah, mencurigakan. Hal ini semakin menguatkan dugaan adanya peristiwa kekerasan sebelum korban ditemukan tak bernyawa.
Lurah Sei Mati, Yogi, mengungkap informasi awal yang beredar di lingkungan warga sekitar. “Informasi sementara menyebut korban diduga kedapatan mencuri, namun jenis barang belum jelas,” kata Yogi. Ia juga menyayangkan peristiwa yang berujung pada hilangnya nyawa manusia tersebut secara tragis.
Menurut Yogi, pendekatan hukum seharusnya menjadi jalan utama untuk menghadapi dugaan pelanggaran warga. “Seharusnya diserahkan ke aparat, bukan tindakan yang berujung pada kematian seperti ini,” ujarnya tegas. Pernyataan tersebut menggambarkan kegelisahan aparat pemerintahan setempat terhadap kejadian tersebut.
Dari sisi keluarga, duka bercampur amarah terasa jelas saat cerita mulai terungkap perlahan. Ayah korban, Zulkarnaen, menerima kabar kematian anaknya dari tetangga sekitar lokasi kejadian. Informasi menyebut anaknya diduga dianiaya setelah ketahuan mengambil buah dari pekarangan warga.
“Kami hanya dengar cerita, katanya ambil buah, tapi tidak tahu buah apa,” ujar Zulkarnaen lirih. Ia tidak menyangka dugaan pelanggaran kecil berujung pada kematian dengan kondisi mengenaskan. “Kenapa harus sampai disiksa seperti itu, sampai nyawanya hilang,” katanya penuh emosi.
Saat melihat jasad anaknya di rumah sakit, luka-luka terlihat jelas di bagian wajah dan kepala. Darah keluar dari hidung dan mulut, memar terlihat di beberapa bagian tubuh korban. Gambaran itu memperkuat dugaan adanya tindakan kekerasan sebelum korban meninggal dunia.
Keluarga kemudian mengambil langkah hukum dengan melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. Harapan besar disampaikan agar kasus ini diusut tuntas dan pelaku mendapat hukuman setimpal. “Kami minta keadilan, jangan ada lagi kejadian seperti ini,” ucap Zulkarnaen tegas.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan AKP Agus Purnomo memastikan laporan telah diterima. “Laporan sudah masuk, proses penyelidikan sedang berjalan,” kata Agus saat dikonfirmasi Selasa, 7 April 2026. Ia juga menyebut adanya laporan balik terkait dugaan pencurian, yang membuat kasus ini menjadi kompleks.
Fakta saling lapor membuka kemungkinan konflik yang lebih dalam antara korban dan pihak lain. Polisi kini menelusuri kronologi lengkap, termasuk dugaan pencurian dan kemungkinan penganiayaan berat. Pendalaman saksi serta bukti menjadi kunci untuk mengurai kejadian yang masih penuh misteri ini.
Pantauan di lokasi menunjukkan rumah tempat kejadian kini tertutup rapat dan sepi aktivitas warga. Garis polisi masih terpasang, mengunci area yang menjadi saksi bisu tragedi tersebut. Di balik tembok tinggi, kebun dan pepohonan buah menyimpan cerita yang belum sepenuhnya terungkap.
Kasus ini menyisakan luka sosial yang dalam di tengah masyarakat sekitar. Dugaan pencurian berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang menimbulkan pertanyaan serius. Apakah keadilan akan menemukan jalannya, atau cerita ini akan menjadi catatan kelam tanpa jawaban. R-02

