Iran Tolak Damai, Trump Ngamuk! Ancaman Hancurkan Infrastruktur Bikin Dunia Tegang
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika Teheran tak membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. (ist)
Iran, SABANGMERAUKE NEWS - Penolakan Iran terhadap gencatan senjata menjadi sinyal keras eskalasi konflik global. Ketegangan meningkat tajam saat ancaman militer Amerika Serikat semakin terbuka dan agresif.
Teheran memilih jalan berbeda dari harapan diplomasi internasional yang sempat menguat pekan ini. Proposal gencatan senjata 45 hari yang dimediasi Pakistan ditolak tanpa kompromi. Iran menegaskan target utama bukan jeda konflik, melainkan akhir permanen perang berkepanjangan.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa keputusan tersebut disampaikan melalui jalur diplomatik resmi. Respons Iran dituangkan dalam sepuluh poin strategis terkait masa depan kawasan. Fokus utama mencakup penghentian konflik total, keamanan pelayaran, hingga pencabutan sanksi internasional.
Seorang pejabat diplomatik Iran, Mojtaba Ferdousi Pour, menyampaikan sikap tegas tanpa basa-basi. “Kami tidak menerima gencatan senjata sementara, hanya akhir perang permanen,” ujarnya, Senin malam, 7 April 2026. Pernyataan itu menegaskan posisi Iran tidak bisa digoyahkan oleh tekanan eksternal saat ini.
Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras. Ia menuntut Iran segera membuka Selat Hormuz sebelum tenggat waktu yang ditentukan. Jalur tersebut menjadi urat nadi energi global yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia.
Trump menyampaikan ancaman serius dalam konferensi pers di Gedung Putih. “Setiap jembatan akan dihancurkan dan pembangkit listrik akan dilumpuhkan,” katanya. Pernyataan itu langsung memicu kekhawatiran luas terkait potensi serangan besar-besaran dalam waktu dekat.
Selat Hormuz menjadi titik krusial yang membuat konflik ini terasa global dampaknya. Sejak perang dimulai pada akhir Februari 2026, Iran menutup akses ke jalur tersebut. Kebijakan itu memberi tekanan langsung terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia.
Situasi tersebut berdampak cepat pada pasar energi global yang sensitif terhadap konflik geopolitik. Harga minyak mentah melonjak secara signifikan dalam perdagangan internasional awal pekan ini. Kenaikan dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik yang belum menemukan titik terang.
Di tengah ketegangan, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan penting dalam proposal balasan. Tuntutan tersebut meliputi rekonstruksi wilayah terdampak perang dan jaminan keamanan kawasan. Selain itu, pencabutan sanksi ekonomi menjadi syarat utama untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, respons keras juga datang dari militer Iran terhadap pernyataan Trump. Juru bicara militer Ebrahim Zolfaqari menyebut ancaman tersebut tidak berdasar dan provokatif. “Pernyataan itu sekadar retorika arogan tanpa landasan realistis,” ujarnya dalam siaran televisi nasional.
Ketegangan tidak hanya terjadi di ranah militer dan diplomasi tingkat tinggi. Serangan terhadap fasilitas sipil juga mulai memicu reaksi luas dari masyarakat Iran. Salah satunya terjadi pada Universitas Teknologi Sharif yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan kesiapan negaranya menghadapi situasi terburuk. “Para agresor akan melihat kekuatan kami sebagai respons terhadap serangan,” katanya melalui pernyataan resmi. Pernyataan tersebut mempertegas kesiapan Iran untuk melanjutkan konflik jika diperlukan.
Di sisi lain, berbagai negara mencoba mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi intensif. Pakistan muncul sebagai mediator utama dalam upaya menjembatani komunikasi kedua negara. Namun, perbedaan kepentingan membuat kesepakatan sulit tercapai dalam waktu cepat.
Para analis internasional menilai konflik ini telah memasuki fase paling berbahaya sejak awal perang. Risiko meluas ke kawasan Timur Tengah semakin terbuka jika eskalasi tidak terkendali. Dampaknya dapat menjalar ke sektor ekonomi global, terutama energi dan perdagangan internasional.
Situasi semakin kompleks karena adanya kepentingan strategis berbagai negara besar di kawasan tersebut. Jalur perdagangan, energi, dan geopolitik saling bertabrakan dalam konflik yang kian memanas. Setiap langkah kecil berpotensi memicu dampak besar bagi stabilitas global saat ini.
Hingga kini, belum ada sinyal kuat menuju kesepakatan damai dalam waktu dekat. Iran tetap bersikukuh pada tuntutan akhir perang permanen tanpa kompromi sementara. Sementara Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan melalui ancaman militer terbuka.
Konflik ini kini menjadi sorotan utama dunia yang menunggu langkah selanjutnya. Semua mata tertuju pada keputusan Iran dan respons Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Jika eskalasi berlanjut, dampaknya bisa jauh melampaui kawasan Timur Tengah saja. R-02

