Tamat di Penang! Pelarian Buron Narkoba Paling Licin Jaringan Riau Berakhir Tragis
Andre ‘The Doctor’ ditangkap Interpol di Malaysia. (ist)
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Penangkapan Andre ‘The Doctor’ di Malaysia membuka tabir gelap jaringan narkoba lintas negara yang berbasis di Riau. Operasi gabungan internasional berlangsung cepat, senyap, dan presisi. Kasus ini mengungkap peran strategis Riau sebagai jalur masuk narkotika ke Indonesia selama ini.
Andre Fernando alias Charlie ditangkap di sebuah apartemen wilayah Penang, Malaysia, Minggu sore, 5 April 2026. Tim gabungan bergerak setelah pelacakan intensif sejak status buronan resmi diterbitkan awal Maret lalu. Penangkapan ini menjadi klimaks perburuan panjang terhadap sosok distributor narkoba kelas internasional tersebut.
“Penangkapan dilakukan kemarin sore di apartemen kawasan Penang, Malaysia,” ujar Kombes Kevin Leleury, Kasatgas NIC Bareskrim Polri yang memimpin koordinasi lintas lembaga dalam operasi tersebut. Ia menyebut tersangka diamankan tanpa perlawanan saat berada seorang diri di lokasi persembunyian.
Barang bukti yang diamankan berupa tas serta beberapa unit telepon genggam milik tersangka. “Barang bukti yang diamankan hanya tas dan beberapa handphone saat penangkapan berlangsung,” lanjut Kevin. Barang tersebut kini menjadi kunci penting dalam pengembangan jaringan yang lebih luas dan terorganisir.
Operasi ini melibatkan Divisi Hubinter, Interpol, serta perwakilan diplomatik Indonesia di Malaysia secara aktif. Kolaborasi lintas negara ini memperlihatkan keseriusan aparat dalam memburu pelaku kejahatan transnasional. Penangkapan ini juga menandai efektivitas pertukaran intelijen antarnegara dalam membongkar sindikat narkotika.
Sekretaris NCB Interpol Indonesia, Brigjen Pol Untung Widyatmoko, menjelaskan proses pelacakan berlangsung ketat sejak Andre masuk daftar buronan nasional. Ia yang memimpin koordinasi informasi lintas yurisdiksi negara tersebut. Menurutnya, tersangka sempat lolos dari pengejaran sebelumnya di wilayah Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.
“Subjek ini cukup licin dan sempat lolos di Kuala Lumpur sebelum akhirnya tertangkap,” kata Untung. Ia menegaskan tidak ada ruang aman bagi pelaku narkotika yang beroperasi lintas batas negara. Operasi ini menjadi pesan keras bagi jaringan narkoba internasional yang memanfaatkan celah geografis Indonesia.
Nama Andre mencuat setelah penyidik membongkar jaringan narkoba yang melibatkan Ko Erwin sebelumnya. Kasus tersebut turut menyeret sejumlah aparat penegak hukum di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Perkembangan kasus ini membuka lapisan kompleks hubungan antara bandar, distributor, dan jaringan lapangan.
Andre berperan sebagai pemasok utama narkotika jenis sabu kepada jaringan Ko Erwin di Indonesia. Transaksi pertama terjadi pada Januari 2026 dengan nilai Rp400 juta untuk dua kilogram sabu. Transaksi kedua dilakukan dengan nilai yang sama, menghasilkan tiga kilogram sabu siap edar ke pasar gelap.
Brigjen Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, mengungkap peran sentral Andre dalam sindikat narkoba internasional tersebut. Menurutnya, Andre dikenal luas dengan julukan ‘The Doctor’ di kalangan jaringan narkoba regional.
“Ko Andre menyediakan berbagai jenis narkoba seperti sabu, happy water, dan vape mengandung etomidate,” jelas Eko. Barang-barang tersebut diedarkan melalui jalur yang sangat rapi dan sulit terdeteksi aparat penegak hukum. Sindikat ini memanfaatkan berbagai metode untuk menghindari pengawasan di perbatasan wilayah Indonesia.
Riau muncul sebagai salah satu titik penting dalam distribusi narkotika jaringan internasional tersebut. Jalur laut melalui Dumai menjadi pintu masuk utama bagi produk ilegal berbentuk cairan vape berbahaya. Produk tersebut dikemas dengan merek mencolok seperti Ferrari dan Lamborghini untuk menarik perhatian pasar.
“Cartridge vape masuk melalui jalur laut dari Malaysia melewati Dumai, Riau,” kata Eko. Metode ini memanfaatkan celah pengawasan di wilayah perairan yang luas dan sulit diawasi penuh. Riau pun menjadi sorotan sebagai wilayah strategis dalam peredaran narkotika lintas negara saat ini.
Sementara itu, pengiriman sabu dilakukan melalui jalur darat dan kargo dengan metode penyamaran cerdik. Barang haram tersebut dimasukkan ke dalam boneka lalu dibungkus rapi dalam kotak hadiah menarik. Teknik ini dirancang untuk mengelabui pemeriksaan petugas di jalur distribusi logistik nasional.
“Pengiriman sabu menggunakan kargo dan disembunyikan dalam boneka di dalam kotak kado,” lanjut Eko. Metode tersebut menunjukkan tingkat kecanggihan sindikat dalam menghindari deteksi aparat selama ini. Pola ini mengindikasikan jaringan memiliki sumber daya besar serta sistem distribusi yang terorganisir rapi.
Andre diketahui memiliki jaringan luas yang menjangkau berbagai wilayah termasuk Riau dan NTB. Perannya sebagai distributor utama menjadikannya target prioritas dalam operasi penegakan hukum nasional. Penangkapan ini membuka peluang besar untuk membongkar jaringan yang lebih luas dan kompleks.
Setelah ditangkap, Andre langsung dibawa menuju Indonesia untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Ia tiba di Gedung Bareskrim Polri Jakarta Selatan pada Senin, 6 April 2026 malam. Kedatangannya dikawal ketat oleh aparat dengan kondisi fisik yang terlihat lemah dan penuh perban di bagian kaki.
Andre tampak mengenakan pakaian hitam dan duduk di kursi roda saat memasuki gedung pemeriksaan. Tangannya terikat, kepalanya tertunduk, dan tidak mengeluarkan pernyataan selama proses pengawalan berlangsung. Kondisi tersebut menggambarkan akhir perjalanan pelarian panjang buronan kelas kakap jaringan narkotika internasional.
Kasus ini menjadi peringatan keras terhadap ancaman serius narkotika di wilayah perbatasan Indonesia. Riau, sebagai gerbang laut strategis, membutuhkan pengawasan ekstra ketat dari aparat terkait ke depan. Penguatan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci untuk mencegah jalur gelap kembali dimanfaatkan sindikat internasional. R-02

