Dua Kali Erupsi dalam Sehari, Gunung Marapi Kirim Sinyal Bahaya Serius
Erupsi Gunung Marapi terlihat dari Desa Sabu, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. (bisnis.com)
Sumbar, SABANGMERAUKE NEWS - Gunung Marapi kembali mengalami erupsi dua kali dalam waktu berdekatan, Sabtu, 4 April 2026. Aktivitas vulkanik ini tercatat resmi melalui pengamatan Pos Gunung Api setempat sepanjang pagi hari. Letusan terjadi diam-diam di balik awan, menyimpan ancaman yang tidak terlihat langsung mata.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 07.41 WIB dengan durasi sekitar 22 detik. Peristiwa tersebut terekam melalui seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 5,3 milimeter. Kolom abu tidak teramati secara visual akibat kondisi cuaca tertutup awan tebal.
Petugas Pos Gunung Api, Ilhamdi Saputra, mengonfirmasi aktivitas tersebut melalui laporan resmi harian. “Erupsi terekam jelas di seismogram dengan durasi singkat namun tetap signifikan,” ujar Ilhamdi. Ia menegaskan pemantauan terus dilakukan secara intensif guna mendeteksi potensi aktivitas lanjutan.
Beberapa jam sebelumnya, erupsi kedua terjadi lebih awal pada pukul 05.25 WIB pagi hari. Durasi letusan mencapai 34 detik dengan amplitudo maksimum lebih tinggi, yakni 30,3 milimeter. Namun, seperti kejadian berikutnya, kolom abu juga tidak terlihat akibat tertutup awan.
Fenomena ini menegaskan karakter erupsi Marapi yang sering tidak kasat mata secara langsung. Kondisi tersebut meningkatkan risiko karena aktivitas terjadi tanpa visual yang mudah dikenali masyarakat. Situasi ini memerlukan kewaspadaan ekstra, terutama bagi warga yang berada di sekitar kawasan gunung.
Status aktivitas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih menetapkan Marapi pada Level II atau Waspada. Level ini menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik di atas normal yang memerlukan perhatian serius. Pemantauan berkelanjutan menjadi langkah utama dalam mitigasi potensi bencana yang lebih besar.
PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung. Warga dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi aktif. Kawasan Kawah Verbeek menjadi zona paling rawan yang harus dihindari dalam kondisi saat ini.
Selain itu, ancaman lain yang tidak kalah serius datang dari potensi lahar dingin pascaerupsi. Material vulkanik yang terbawa air hujan dapat mengalir melalui sungai dari puncak gunung. Risiko ini meningkat saat intensitas hujan tinggi melanda wilayah sekitar gunung.
“Ancaman lahar dingin perlu diwaspadai terutama saat hujan deras mengguyur kawasan hulu,” ujar Ilhamdi. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Aliran tersebut dapat berubah menjadi jalur material berbahaya dalam waktu singkat.
PVMBG juga mengingatkan pentingnya penggunaan masker saat terjadi hujan abu vulkanik. Partikel halus dari abu dapat mengganggu saluran pernapasan jika terhirup tanpa perlindungan. Langkah sederhana ini dinilai efektif untuk mengurangi dampak kesehatan akibat aktivitas vulkanik.
Selain aspek teknis, stabilitas informasi menjadi perhatian penting dalam situasi seperti ini. PVMBG meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Langkah tersebut penting menjaga kondisi sosial tetap kondusif di tengah potensi bencana.
Aktivitas Gunung Marapi dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pola fluktuatif yang dinamis. Erupsi singkat namun berulang menjadi karakteristik yang terus dipantau intensif petugas lapangan. Data seismik menjadi acuan utama dalam membaca arah perkembangan aktivitas vulkanik.
Secara geografis, Gunung Marapi berada di perbatasan Kabupaten Agam dan Tanah Datar. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kawasan vulkanik aktif di Sumatera Barat. Sejarah aktivitasnya mencatat sejumlah erupsi dengan dampak signifikan bagi lingkungan sekitar.
Kondisi saat ini belum menunjukkan peningkatan status, namun potensi eskalasi tetap terbuka. Pemantauan lanjutan akan menentukan langkah mitigasi berikutnya dalam menghadapi aktivitas gunung. Koordinasi lintas instansi terus dilakukan guna memastikan respons cepat jika situasi memburuk.
Masyarakat diharapkan tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan terbaru. Informasi resmi dari PVMBG menjadi rujukan utama dalam mengambil keputusan di lapangan. Kepatuhan terhadap rekomendasi menjadi kunci utama meminimalkan risiko bencana yang mungkin terjadi. R-02

