Inggris Pimpin Rapat Darurat Internasional Bahas Pembukaan Selat Hormuz
Ilustrasi penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMerauke News - Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menegaskan “kebutuhan mendesak” untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Pernyataan itu menjadi pembuka rapat darurat virtual yang diinisiasi Inggris bersama puluhan negara guna merespons blokade Iran terhadap jalur pelayaran paling vital bagi distribusi energi dunia tersebut.
Langkah diplomatik ini muncul setelah ketegangan meningkat sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, Selat Hormuz dilaporkan ditutup, memicu gangguan serius terhadap arus perdagangan global, terutama komoditas energi seperti minyak mentah, gas alam cair, dan pupuk.
Dalam pidato pembukaannya, Cooper menekankan pentingnya kebebasan navigasi internasional sebagai fondasi stabilitas ekonomi global. Ia menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai ancaman langsung terhadap rantai pasok dunia yang selama ini bergantung pada jalur tersebut. Sekitar sepertiga perdagangan minyak global diketahui melintasi selat sempit itu setiap harinya.
“Kebutuhan mendesak untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran internasional, dan kekuatan tekad internasional kita untuk melihat Selat tersebut dibuka kembali,” ujar Cooper dalam forum yang diikuti sekitar 40 negara, Kamis (2/4/2026).
Rapat darurat ini menghasilkan pernyataan bersama yang telah ditandatangani oleh 37 negara. Negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Belanda menyatakan kesiapan untuk berkontribusi menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut. Namun, absennya sejumlah kekuatan besar seperti Amerika Serikat, China, serta mayoritas negara Timur Tengah dalam pernyataan itu menjadi sorotan tersendiri.
Ketidakhadiran negara-negara kunci tersebut dinilai dapat memengaruhi efektivitas tekanan internasional terhadap Iran. Meski demikian, Inggris menegaskan forum ini tetap menjadi langkah awal penting dalam membangun konsensus global untuk meredakan krisis.
Cooper bahkan menuding Iran telah “membajak jalur pelayaran internasional” dan menjadikannya alat tekanan terhadap ekonomi global. Ia menegaskan bahwa komunitas internasional tidak bisa tinggal diam menghadapi situasi tersebut.
“Kita telah melihat Iran membajak jalur pelayaran internasional untuk menyandera ekonomi global,” tegasnya.
Forum ini juga membahas langkah konkret yang dapat diambil, mulai dari tekanan diplomatik hingga sanksi ekonomi tambahan. Namun, pendekatan militer tampaknya belum menjadi pilihan utama bagi sebagian besar negara peserta.
Dari Paris, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis menekankan bahwa pengamanan Selat Hormuz hanya dapat dilakukan setelah meredanya eskalasi militer di kawasan. Pernyataan ini sejalan dengan sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menolak opsi intervensi militer langsung.
Dalam kunjungannya ke Korea Selatan, Macron menyebut gagasan pembebasan Selat Hormuz melalui operasi militer sebagai langkah yang tidak realistis. Ia juga menyoroti inkonsistensi pernyataan dari pihak Amerika Serikat terkait konflik yang sedang berlangsung.
“Ada pihak yang menganjurkan pembebasan Selat Hormuz dengan paksa melalui operasi militer. Saya katakan itu bukan pilihan yang pernah kami pilih dan kami menganggapnya tidak realistis,” ujar Macron.
Pandangan ini mencerminkan kehati-hatian negara-negara Eropa dalam menghadapi krisis yang berpotensi meluas menjadi konflik regional lebih besar. Mereka cenderung mendorong solusi diplomatik guna menghindari dampak yang lebih destruktif terhadap stabilitas global.
Sementara itu, dampak ekonomi dari blokade Selat Hormuz mulai terasa di berbagai belahan dunia. Harga minyak global dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir, diikuti kenaikan harga energi dan bahan baku industri. Negara-negara importir energi, termasuk di Asia dan Eropa, menghadapi tekanan inflasi yang semakin besar.
Para analis memperingatkan bahwa jika blokade berlanjut, dunia dapat menghadapi krisis energi baru yang lebih parah dibandingkan sebelumnya. Ketergantungan tinggi terhadap jalur distribusi di Selat Hormuz membuat gangguan sekecil apa pun berdampak luas dan cepat.
Di sisi lain, Iran belum memberikan sinyal akan membuka kembali jalur tersebut dalam waktu dekat. Teheran disebut masih menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia.
Situasi ini menempatkan komunitas internasional pada persimpangan penting. Di satu sisi, tekanan harus ditingkatkan untuk memastikan jalur perdagangan tetap terbuka. Di sisi lain, langkah yang terlalu agresif berisiko memperburuk konflik yang sudah memanas.
Rapat darurat yang dipimpin Inggris ini menjadi indikasi meningkatnya kekhawatiran global terhadap eskalasi krisis di Timur Tengah. Upaya kolektif untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia kini bergantung pada keberhasilan diplomasi internasional dalam meredakan ketegangan.
Ke depan, dunia akan menanti apakah tekanan diplomatik yang digalang Inggris dan sekutunya mampu memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, dampak lanjutan terhadap ekonomi global dan stabilitas geopolitik tampaknya sulit dihindari. (R-05)

