Dari Penemuan hingga Kudeta: Minyak Iran Jadi Magnet Konflik Dunia, Kini Trump Ikut Bicara
Ambisi terbaru Donald Trump untuk menguasai minyak Iran bukanlah fenomena baru dalam geopolitik global. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Ambisi terbaru Donald Trump untuk menguasai minyak Iran bukanlah fenomena baru dalam geopolitik global. Sejarah mencatat, sejak ladang minyak pertama ditemukan di Persia pada 1908, wilayah yang kini dikenal sebagai Iran itu telah menjadi arena perebutan pengaruh kekuatan besar dunia.
Trump, dalam pernyataannya yang dikutip AFP, menyebut pengambilalihan minyak Iran sebagai “sebuah pilihan”, seraya membandingkannya dengan pendekatan Amerika Serikat di Venezuela. Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya konflik kawasan dan ketegangan di jalur strategis energi global.
Awal Mula: Minyak Iran dan Dominasi Barat
Sejarah dominasi Barat di sektor energi Iran bermula saat penguasa Dinasti Qajar, Mozaffar ad-Din Shah Qajar, memberikan konsesi eksplorasi kepada pengusaha Inggris William Knox D’Arcy.
Penemuan minyak di Masjed Soleyman pada 1908 kemudian melahirkan Anglo-Persian Oil Company pada 1909—cikal bakal dominasi energi Barat di Iran. Perusahaan ini kelak berevolusi menjadi BP, dengan kepemilikan mayoritas sempat berada di tangan pemerintah Inggris.
Sejak saat itu, lebih dari 120 ladang minyak dan gas ditemukan di Iran, menjadikannya salah satu pusat energi paling strategis di dunia.
Perebutan Pengaruh: Inggris vs Rusia
Ketertarikan terhadap minyak Iran tak hanya datang dari Inggris. Pada masa Perang Dunia I, Rusia juga berupaya mengamankan kepentingannya di Persia. Rivalitas ini memperkuat posisi Iran sebagai “papan catur” geopolitik, di mana sumber daya energi menjadi taruhan utama.
Nasionalisme vs Intervensi Asing
Gelombang perlawanan terhadap dominasi asing mencapai puncaknya saat Perdana Menteri Mohammad Mossadegh menasionalisasi industri minyak pada 1951. Kebijakan ini memicu kemarahan Inggris dan Amerika Serikat.
Dua negara tersebut kemudian berkolaborasi dalam operasi rahasia Operasi Ajax untuk menggulingkan Mossadegh. Operasi yang dipimpin oleh agen CIA Kermit Roosevelt Jr. ini melibatkan propaganda, manipulasi media, hingga rekayasa kerusuhan.
Kudeta 1953 menjadi titik balik yang mengukuhkan pengaruh Barat di Iran sekaligus meninggalkan luka mendalam dalam hubungan Teheran–Washington.
Warisan Konflik hingga Kini
Ketegangan akibat eksploitasi minyak dan intervensi asing terus membentuk dinamika politik Iran, hingga berpuncak pada Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan rezim pro-Barat.
Kini, lebih dari seabad sejak penemuan minyak pertamanya, Iran masih menjadi pusat perebutan kepentingan global. Pernyataan Trump mempertegas bahwa minyak bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen kekuasaan geopolitik.(R-04)

