Dunia di Ambang Krisis! Houthi Ancam Tutup Laut Merah, Perdagangan Global Terancam Lumpuh
Selat Bab al-Mandeb. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Keterlibatan resmi kelompok Houthi Yaman dalam konflik Iran memicu alarm bahaya bagi perdagangan maritim global. Fokus dunia kini tertuju pada Selat Bab al-Mandeb, di mana kelompok pro-Teheran tersebut mengancam akan menutup total akses menuju Laut Merah, sebuah jalur vital yang selama ini menjadi urat nadi distribusi logistik internasional.
Ancaman ini muncul di tengah eskalasi konflik kawasan yang semakin kompleks, terutama setelah langkah Iran yang disebut-sebut telah melumpuhkan Selat Hormuz. Jika dua jalur strategis tersebut lumpuh secara bersamaan, dunia berpotensi menghadapi gangguan besar dalam rantai pasok global, lonjakan harga energi, hingga krisis ekonomi yang meluas.
Situasi ini seakan membenarkan pandangan klasik Napoleon Bonaparte yang menyatakan bahwa kebijakan suatu negara sangat ditentukan oleh geografinya. Dalam konteks ini, posisi Yaman yang mengapit Bab al-Mandeb menjadikannya titik kunci yang mampu mengendalikan lalu lintas perdagangan dunia, khususnya antara Asia, Eropa, dan Afrika.
Kelompok Houthi sendiri merupakan kekuatan politik dan militer berbasis Syiah yang telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota, sejak 2014. Meski kerap menghadapi serangan militer dari berbagai pihak, kelompok ini menunjukkan ketahanan yang kuat serta kemampuan tempur yang semakin kompleks.
Pada Agustus 2025, serangan intelijen yang dilancarkan oleh Israel berhasil menewaskan sejumlah petinggi Houthi, termasuk perdana menteri dan kepala staf mereka. Namun hingga kini, pemimpin tertinggi kelompok tersebut, Abdul Malik al-Houthi, masih belum berhasil dilacak keberadaannya, memperlihatkan struktur komando mereka yang sulit ditembus.
Laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan bahwa sebagian besar persenjataan Houthi diduga berasal dari Teheran. Meski demikian, keterlibatan langsung atas nama Iran baru kali ini tampak lebih terbuka, menandai perubahan signifikan dalam dinamika konflik regional.
Ketegangan semakin meningkat sejak Senin (30/3/2026), ketika gencatan senjata antara Houthi dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Oman mulai terancam runtuh. Kesepakatan yang sebelumnya tercapai pada Mei 2025 itu sempat meredakan situasi setelah serangan intensif dari AS dan Inggris menghancurkan sejumlah peluncur rudal milik Houthi.
Namun, sejak awal Houthi menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut tidak mencakup Israel. Hal ini membuat serangan sporadis tetap terjadi, bahkan ketika upaya diplomasi tengah berlangsung. Pada Oktober 2025, sempat terjadi perluasan gencatan senjata ke Israel setelah tercapainya kesepakatan antara Israel dan Hamas di Gaza, tetapi ketenangan itu kini kembali berada di ujung tanduk.
Dampak dari ketidakpastian ini mulai dirasakan oleh sektor pelayaran global. Perusahaan logistik raksasa seperti Maersk hanya secara perlahan kembali melintasi Laut Merah. Sebagian besar operator kapal masih memilih jalur alternatif melalui Tanjung Harapan, meski rute tersebut jauh lebih panjang dan mahal.
Pilihan ini diambil untuk menghindari ancaman serangan dari Houthi, yang dikenal memiliki kemampuan meluncurkan pesawat nirawak, rudal, hingga menggunakan perahu kecil untuk mengganggu kapal-kapal komersial. Kondisi ini menyebabkan biaya logistik meningkat tajam dan berpotensi berdampak langsung pada harga barang di pasar global.
Pakar Timur Tengah dari Chatham House, Farea Al-Muslimi, memperingatkan bahwa gangguan berkelanjutan di kawasan ini dapat memperparah tekanan ekonomi global yang sudah rapuh.
“Gangguan berkelanjutan apa pun akan menaikkan biaya pengiriman, meningkatkan harga minyak, dan memberikan tekanan tambahan pada ekonomi global yang sudah rapuh akibat situasi di Selat Hormuz,” ujarnya.
Menurut Al-Muslimi, langkah ini juga mencerminkan strategi lebih luas dari Iran dalam mengaktifkan jaringan sekutunya di berbagai wilayah. Seiring waktu, hal ini diperkirakan akan memicu persepsi di dalam negeri Yaman bahwa Houthi semakin tunduk pada kepentingan Teheran.
Di sisi lain, Houthi tampaknya masih berhitung secara strategis. Kelompok ini disebut tengah mengharapkan insentif finansial dari Arab Saudi, yang kini memegang peran penting dalam menentukan masa depan Yaman setelah mundurnya Uni Emirat Arab dari sebagian wilayah konflik.
Arab Saudi terus mengucurkan dana besar untuk mendukung pemerintahan di wilayah selatan Yaman. Sementara itu, Houthi di utara diyakini menginginkan bagian dari aliran dana tersebut sebagai imbalan atas penahanan diri dari eskalasi konflik, termasuk tidak mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah.
Meski demikian, kekuatan utama Houthi tetap terletak pada kemampuannya mengganggu kapal-kapal komersial. Kemampuan ini dinilai lebih efektif dalam memberikan tekanan global dibandingkan sekadar serangan rudal ke target militer.
Ketegangan yang terus meningkat ini juga mengancam upaya perdamaian di Yaman, yang telah dilanda perang saudara selama lebih dari satu dekade. Eskalasi konflik berisiko menyeret negara tersebut ke dalam pusaran perang regional yang lebih luas, sekaligus memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama.
Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyampaikan keprihatinan mendalam atas perkembangan situasi terkini. Ia menegaskan bahwa eskalasi konflik tidak hanya menghambat proses perdamaian, tetapi juga memperburuk kondisi ekonomi dan sosial masyarakat sipil.
“Eskalasi ini mengancam untuk menyeret Yaman ke dalam perang regional, yang akan membuat penyelesaian konflik semakin sulit, memperdalam dampak ekonominya, dan memperpanjang penderitaan warga sipil,” ujarnya.
Dengan situasi yang semakin tidak menentu, dunia kini menanti langkah-langkah diplomatik yang mampu meredakan ketegangan. Namun, selama jalur-jalur vital seperti Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz masih berada dalam bayang-bayang konflik, ancaman terhadap stabilitas ekonomi global akan terus menghantui. (R-05)

