Unik dan Sakral! Saat Kera “Turun Gunung” di Tradisi Sesaji Rewanda Semarang
Ilustrasi Tradisi Sesaji Rewanda di Semarang. Foto: SM News/Created by Al
SABANGMERAUKE NEWS, Semarang - Suasana meriah dan sarat makna menyelimuti kawasan Gua Kreo, Semarang, Minggu (29/3/2026). Tradisi Sesaji Rewanda kembali digelar dengan penuh khidmat, menjadi pusat perhatian masyarakat dan wisatawan. Dalam tradisi ini, bukan hanya manusia yang terlibat, tetapi juga ratusan kera penghuni kawasan tersebut yang turut berbaur menikmati hasil bumi yang disajikan warga.
Tradisi Sesaji Rewanda bukan sekadar ritual tahunan atau atraksi wisata. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan warisan budaya yang telah dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap sejarah dan keseimbangan alam.
Sejak pagi hari, rangkaian prosesi telah dimulai dengan kirab budaya yang berlangsung meriah. Warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, mengarak tujuh gunungan berisi hasil bumi seperti buah-buahan, sayur-mayur, ketupat, hingga makanan khas seperti sego kethek. Gunungan tersebut menjadi simbol kemakmuran dan rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan.
Selain itu, replika kayu jati turut dihadirkan dalam kirab. Simbol ini memiliki makna historis yang kuat, yakni menggambarkan perjalanan Sunan Kalijaga saat mengangkut kayu dari kawasan Gua Kreo untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Nilai sejarah ini menjadi bagian penting yang terus dihidupkan dalam tradisi Sesaji Rewanda.
Setibanya di lokasi utama, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya hasil bumi tersebut dipersembahkan kepada para kera yang telah menunggu. Momen ini menjadi puncak acara, ketika kera-kera turun dan berebut gunungan makanan, menciptakan pemandangan unik yang jarang ditemukan di tempat lain.
Keberadaan kera di Gua Kreo bukanlah hal biasa bagi masyarakat setempat. Mereka dipercaya memiliki keterkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Konon, kera-kera tersebut merupakan keturunan dari hewan yang dahulu membantu Sunan Kalijaga dalam proses pembangunan Masjid Agung Demak.
Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, menegaskan bahwa masyarakat tidak pernah menganggap kera sebagai gangguan. Sebaliknya, kera dipandang sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dijaga keberadaannya.
“Monyet-monyet ini dipercaya membantu Sunan Kalijaga. Warga di sini memiliki amanah untuk melestarikan Gua Kreo dan Waduk Jatibarang, termasuk menjaga kera-kera yang ada,” ujarnya.
Nilai-nilai tersebut telah tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, hingga kini tidak ada warga yang berani menangkap atau menyakiti kera di kawasan tersebut. Kehidupan berdampingan antara manusia dan satwa menjadi bukti nyata harmoni yang terus terjaga.
Tradisi Sesaji Rewanda juga menjadi bagian penting dari perayaan Syawalan di Semarang. Melalui ritual ini, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang telah diterima. Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Tak hanya itu, rangkaian acara juga semakin semarak dengan pertunjukan kolosal bertajuk “Mahakarya Gua Kreo” yang digelar sehari sebelumnya. Lebih dari 150 penari dan pemusik terlibat dalam pertunjukan tersebut, menampilkan kisah sejarah dan nilai budaya yang melekat pada kawasan Gua Kreo.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara telah dirancang secara terpadu untuk memperkuat nilai budaya sekaligus menarik minat wisatawan.
Menurutnya, tradisi ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat tentang perjuangan dan syiar Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga.
“Ini adalah simbol gotong royong, persatuan, dan keseimbangan hidup antara manusia dengan alam. Kita diajak untuk bersyukur atas nikmat kehidupan dan menjaga keharmonisan dengan lingkungan sekitar,” jelasnya.
Dalam konteks pariwisata, tradisi Sesaji Rewanda telah berkembang menjadi salah satu daya tarik unggulan Kota Semarang. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam Gua Kreo dan Waduk Jatibarang, tetapi juga mendapatkan pengalaman budaya yang autentik dan sarat makna.
Keunikan tradisi ini terletak pada interaksi langsung antara manusia dan kera yang berlangsung secara alami tanpa konflik. Hal ini menjadi simbol kuat bahwa harmoni antara manusia dan alam bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Dengan terus dilestarikannya tradisi Sesaji Rewanda, masyarakat Semarang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memberikan pesan penting bagi generasi mendatang tentang pentingnya hidup selaras dengan alam.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga pedoman hidup yang relevan untuk masa kini dan masa depan. (R-05)

