Tersinggung Pintu Dibanting, Karyawan Ngamuk dan Tusuk Perut Majikan 10 Kali
Ilustrasi anak buah marah dan menganiaya bosnya. Foto: SM News/Create by Al
SABANGMERAUKE NEWS, Simpang Empat - Hanya gara-gara suara pintu dibanting, seorang bos koperasi nyaris tewas bersimbah darah di tangan anak buah sendiri. Amsal Pardede menderita luka robek serius usai dihujani tusukan membabi buta pada Sabtu malam kemarin. Petugas bergerak cepat meringkus pelaku CS dalam waktu kurang dari lima jam pelarian.
Banting Pintu Berujung Maut
Suasana malam Minggu di Jorong Ophir Tengah mendadak berubah jadi horor mencekam. Sebuah pintu rumah kontrakan menutup dengan suara yang sangat menggelegar. Bunyi keras itu ternyata menyulut emosi membara dalam dada CS.
CS merasa sangat tersinggung dengan perilaku majikannya saat itu. Percekcokan mulut antara pelaku serta korban pecah seketika. Amarah CS memuncak hingga ia gelap mata, kehilangan akal sehat.
Korban mungkin tidak menyangka reaksi anak buahnya bakal sejauh ini. Ia hanya menutup pintu rumah kontrakan yang mereka huni bersama. Namun, CS menganggap tindakan tersebut sebagai sebuah penghinaan besar.
Pelaku kemudian melontarkan ancaman maut sambil berjalan menuju area dapur. Langkah kakinya penuh amarah mencari senjata tajam guna memuaskan dendam. Kejadian memilukan ini berlangsung pada hari Sabtu, 21 Maret 2026.
Jam menunjukkan pukul 23.30 WIB saat situasi semakin tidak terkendali. Ruang tamu yang semula tenang berubah menjadi arena pertarungan hidup mati. Nyawa Amsal Pardede berada di ujung tanduk malam itu juga.
Hujan Tusukan di Tengah Malam
CS keluar dari dapur dengan menggenggam sebilah pisau tajam. Tanpa aba-aba, ia langsung mengayunkan pisau ke arah ulu hati korban. Beruntung, Amsal Pardede sempat menangkis serangan maut itu menggunakan tangan kanan.
Tangisan pilu pecah saat pelaku terus menyerang secara membabi buta. Tercatat ada sekitar sepuluh kali ayunan pisau menyasar tubuh korban. Amsal berusaha keras menghindar agar tidak terkena serangan fatal berikutnya.
Korban akhirnya berhasil melarikan diri keluar rumah mencari bantuan warga. Tubuhnya yang penuh luka dipaksa berlari menembus kegelapan malam Nagari Ophir. Ia bertemu seorang warga, kemudian meminta bantuan evakuasi segera.
Warga mengantarkan korban menuju rumah saksi bernama Repan Zebua. Saat itulah Amsal baru menyadari perut sebelah kanannya mengalami luka robek. Darah segar terus mengalir deras membasahi pakaian yang ia kenakan.
“Pelaku menyerang tubuh korban sebanyak sepuluh kali,” jelas AKP Zulfikar. Kapolsek Pasaman membenarkan aksi brutal karyawan koperasi tersebut dalam keterangannya. Korban segera mendapat pertolongan medis di RSUD Pasaman Barat.
Keadaan korban sempat kritis akibat kehilangan banyak cairan merah kehidupan. Tim medis bekerja keras menjahit luka robek pada bagian perut korban. Nyawa Amsal akhirnya terselamatkan meski menderita trauma psikis yang sangat hebat.
Drama Pengejaran Hingga ke Rambah
Petugas kepolisian tidak butuh waktu lama guna mengendus keberadaan pelaku. Tim Opsnal Unit Reskrim Polsek Pasaman langsung melakukan olah TKP awal. Keterangan para saksi menjadi kunci utama untuk memetakan arah pelarian CS.
Tim pimpinan Iptu Lamhot Nababan bergerak mengejar pelaku ke arah Kinali. Mereka menyisir setiap sudut jalanan sepi pada dini hari yang dingin. Kerja keras petugas membuahkan hasil manis sebelum matahari pagi terbit.
Pelaku CS akhirnya tertangkap di daerah Rambah, Kecamatan Kinali. Penangkapan terjadi pada hari Minggu, 22 Maret 2026, pukul 05.30 WIB. CS diringkus tanpa melakukan perlawanan kepada petugas lapangan.
Hanya butuh waktu lima jam bagi polisi untuk mengakhiri pelarian pelaku. Kecepatan petugas mendapat apresiasi besar dari masyarakat sekitar lokasi kejadian. Pelaku langsung dibawa menuju Mapolsek Pasaman guna menjalani pemeriksaan intensif.
Polisi mengamankan sebilah pisau yang digunakan pelaku untuk menusuk majikannya. Barang bukti tersebut menjadi saksi bisu kejahatan CS pada Sabtu malam. Jaket pelaku yang terkena noda darah juga ikut disita petugas.
“Pelaku berhasil diringkus tanpa perlawanan,” tambah AKP Zulfikar dengan nada tegas. Penangkapan ini membuktikan kesigapan polisi dalam menjaga keamanan wilayah Pasaman Barat. Masyarakat diminta tetap tenang serta mempercayakan kasus ini kepada hukum.
Sakit Hati Berujung Jeruji
CS merupakan warga Simalungun yang merantau mencari nafkah di Pasaman Barat. Ia bekerja sebagai karyawan pada koperasi yang dikelola oleh Amsal Pardede. Keduanya bahkan tinggal satu atap dalam rumah kontrakan sekaligus kantor.
Kedekatan tempat tinggal ternyata tidak menjamin keharmonisan hubungan kerja mereka. Rasa sakit hati yang terpendam meledak hanya karena suara pintu rumah. Kini masa depan CS terancam hancur di balik jeruji besi.
Motif utama aksi nekat ini murni karena rasa ketersinggungan pelaku. Suara pintu yang keras dianggap sebagai bentuk kemarahan korban terhadap dirinya. Padahal masalah tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa kekerasan fisik.
Polisi menjerat pelaku dengan pasal penganiayaan berat yang direncanakan. Ancaman hukuman penjara bertahun-tahun kini sudah menanti di depan mata CS. Ia hanya bisa tertunduk lesu menyesali perbuatan bodohnya di Mapolsek.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat luas. Mengelola emosi sangat penting agar tidak merugikan diri sendiri serta orang lain. Jangan biarkan amarah sesaat merusak masa depan yang sudah dibangun susah payah.
Petugas mengimbau warga agar segera melapor jika melihat potensi konflik serupa. Keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Pasbar. Mari jaga kedamaian serta hindari tindakan main hakim sendiri di lapangan. R-02

