Penyebab Pusing dan Mual Saat Naik Mobil Listrik, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi mual dan pusing saat berada di dalam mobil. Foto: SM News/Create by AI
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta – Mobil listrik semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun di balik kenyamanan dan teknologi canggihnya, muncul fenomena yang cukup mengejutkan: banyak penumpang justru lebih mudah merasa pusing dan mual saat naik mobil listrik dibanding mobil berbahan bakar bensin.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan semata. Sejumlah penelitian ilmiah mengungkap bahwa sensasi mabuk perjalanan pada mobil listrik berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia dalam beradaptasi terhadap pengalaman baru, khususnya terhadap pola gerak kendaraan yang berbeda dari mobil konvensional.
Seiring meningkatnya penggunaan mobil listrik secara global, keluhan seperti pusing, mual, hingga rasa tidak nyaman saat perjalanan semakin sering dilaporkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kendaraan yang lebih halus dan senyap justru memicu mabuk perjalanan?
Menurut para peneliti, jawabannya terletak pada faktor “keterbiasaan”. Otak manusia selama bertahun-tahun terbiasa dengan karakteristik mobil bensin—mulai dari suara mesin, getaran, hingga pola akselerasi. Semua sinyal tersebut secara tidak sadar membantu otak memprediksi gerakan kendaraan.
Ketika seseorang pertama kali naik mobil listrik, pola ini berubah drastis. Mobil listrik hampir tidak mengeluarkan suara mesin, memiliki getaran yang sangat minim, serta akselerasi yang lebih halus namun responsif. Perubahan ini membuat otak kehilangan “petunjuk” penting yang biasanya digunakan untuk mengantisipasi gerakan.
Seorang peneliti dari Prancis, William Emond, menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena otak belum memiliki cukup pengalaman untuk memprediksi gaya gerak mobil listrik secara akurat. Akibatnya, muncul ketidaksesuaian antara apa yang dirasakan tubuh dan apa yang dipersepsikan oleh otak.
Dalam kondisi normal saat naik mobil bensin, suara derungan mesin yang meningkat menjadi sinyal alami bahwa kendaraan akan berakselerasi. Otak pun bersiap menghadapi perubahan kecepatan tersebut. Sebaliknya, pada mobil listrik, sinyal ini hampir tidak ada.
Ketika mobil melaju atau melambat tanpa “peringatan” suara maupun getaran, otak menjadi kebingungan. Inilah yang kemudian memicu sensasi pusing dan mual, atau yang dikenal sebagai mabuk perjalanan.
Penelitian lain juga menemukan bahwa minimnya getaran pada mobil listrik turut berkontribusi terhadap kondisi ini. Meski terdengar seperti keunggulan, ternyata getaran ringan pada kendaraan konvensional membantu tubuh “merasakan” pergerakan secara lebih sinkron dengan apa yang dilihat oleh mata.
Selain itu, teknologi pengereman regeneratif atau regenerative braking juga menjadi faktor penting. Sistem ini memungkinkan mobil listrik melambat secara bertahap dan lebih halus dibandingkan pengereman pada mobil biasa.
Namun, perlambatan yang terlalu halus dan berlangsung lebih lama justru dapat memicu mabuk perjalanan. Hal ini karena otak menerima sinyal gerakan dengan frekuensi rendah yang tidak biasa, sehingga meningkatkan potensi ketidaknyamanan.
Secara ilmiah, mabuk perjalanan terjadi akibat ketidaksesuaian sinyal sensorik yang diterima otak. Telinga bagian dalam, yang berperan dalam menjaga keseimbangan, mata, dan tubuh mengirimkan informasi yang berbeda-beda. Ketika sinyal ini tidak sinkron, otak merespons dengan rasa mual, pusing, bahkan muntah.
Pada mobil listrik, kondisi ini menjadi lebih sering terjadi karena hilangnya banyak “isyarat” yang sebelumnya membantu menyelaraskan persepsi tersebut.
Menariknya, fenomena ini lebih sering dialami oleh penumpang dibandingkan pengemudi. Hal ini karena pengemudi memiliki kendali penuh terhadap kendaraan, sehingga otaknya mampu memprediksi setiap gerakan dengan lebih baik.
Sebaliknya, penumpang hanya menerima sensasi gerakan tanpa mengetahui kapan mobil akan berakselerasi atau melambat. Kondisi ini memperbesar kemungkinan terjadinya konflik sensorik yang memicu mabuk perjalanan.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara. Seiring meningkatnya pengalaman menggunakan mobil listrik, otak akan mulai beradaptasi dan membentuk pola baru dalam memahami gerakan kendaraan.
Dengan kata lain, semakin sering seseorang naik mobil listrik, semakin kecil kemungkinan ia mengalami pusing atau mual.
Fenomena ini juga menjadi perhatian bagi para produsen mobil listrik. Beberapa di antaranya mulai mengembangkan teknologi tambahan, seperti suara buatan atau artificial sound, untuk memberikan sinyal audio kepada pengemudi dan penumpang.
Tujuannya adalah membantu otak mengenali perubahan kecepatan dan gerakan kendaraan, sehingga mengurangi risiko mabuk perjalanan.
Selain itu, desain interior dan sistem suspensi juga terus dikembangkan untuk menciptakan pengalaman berkendara yang lebih nyaman dan minim gangguan sensorik.
Bagi masyarakat yang baru beralih ke mobil listrik, ada beberapa cara sederhana untuk mengurangi risiko mabuk perjalanan. Misalnya, duduk di kursi depan, menjaga pandangan tetap fokus ke jalan, serta menghindari penggunaan ponsel selama perjalanan.
Membuka jendela atau memastikan sirkulasi udara yang baik juga dapat membantu mengurangi rasa mual. Selain itu, tubuh yang dalam kondisi prima dan tidak kelelahan akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan.
Pada akhirnya, fenomena pusing dan mual saat naik mobil listrik merupakan bagian dari proses adaptasi manusia terhadap teknologi baru. Meski awalnya terasa tidak nyaman, kondisi ini bukanlah sesuatu yang berbahaya.
Dengan waktu dan pengalaman, otak akan belajar memahami pola gerakan mobil listrik, sehingga perjalanan kembali terasa nyaman.
Di tengah pesatnya perkembangan kendaraan listrik, pemahaman tentang efek ini menjadi penting agar masyarakat tidak salah persepsi. Mobil listrik tetap menawarkan banyak keunggulan, mulai dari ramah lingkungan hingga efisiensi energi.
Hanya saja, seperti halnya teknologi baru lainnya, tubuh manusia membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. (R-03)

