Hati-hati! Kebanyakan Makan Kue Kering Bisa Picu Penyakit, Ini Batas Amannya
Ilustrasi tampilan kue kering yang disajikan saat lebaran. Foto: SM News/Create by AI
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta – Kue kering selalu menjadi “bintang” di setiap meja tamu saat Idul Fitri. Mulai dari nastar, kastengel, hingga putri salju, semuanya menggoda untuk disantap tanpa henti. Namun di balik kelezatannya, kue kering menyimpan potensi risiko kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Lantas, berapa batas aman konsumsi kue kering saat Lebaran agar tetap sehat?
Pertanyaan ini penting, terutama karena kebiasaan “kalap” saat Lebaran kerap sulit dihindari. Dari satu rumah ke rumah lain, toples kue kering terus tersedia dan menggoda siapa saja yang datang bersilaturahmi. Tanpa disadari, jumlah yang dikonsumsi bisa jauh melebihi kebutuhan harian tubuh.
Dietisien dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Mutia Nur Amalina dan Pratiwi Dinia Sari, mengingatkan bahwa kue kering termasuk makanan tinggi kalori, gula, dan lemak. Oleh karena itu, konsumsinya perlu dibatasi secara ketat agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.
Dalam panduan yang mereka sampaikan, batas konsumsi kue kering idealnya hanya sekitar 10–20 persen dari total kebutuhan kalori harian. Jika diterjemahkan ke dalam porsi praktis, jumlah tersebut setara dengan maksimal lima keping kue kering per hari.
“Batas ini penting untuk mencegah lonjakan kalori berlebih yang bisa berdampak pada kenaikan berat badan maupun gangguan metabolisme,” jelas mereka dalam keterangan tertulis, Minggu (22/3/2026).
Kue kering memang tampak ringan dan kecil, tetapi kandungan energinya cukup tinggi. Satu keping kue kering bisa mengandung sekitar 50 hingga 100 kalori, tergantung bahan dan ukurannya. Jika dikonsumsi tanpa kontrol, dalam satu hari seseorang bisa mengasup ratusan kalori tambahan hanya dari camilan ini.
Tak hanya itu, tingginya kandungan gula dalam kue kering juga berisiko memicu lonjakan gula darah. Hal ini menjadi perhatian khusus, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki risiko penyakit metabolik.
Selain gula, kandungan lemak pada kue kering juga cukup tinggi karena penggunaan mentega atau margarin dalam proses pembuatannya. Jika dikonsumsi berlebihan, lemak ini dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Karena itu, pengendalian diri menjadi kunci utama dalam menikmati hidangan Lebaran. Mutia dan Pratiwi menekankan pentingnya kesadaran untuk tidak berlebihan, meskipun suasana perayaan seringkali membuat seseorang ingin menikmati semua hidangan yang tersedia.
“Lebaran bukan berarti bebas makan tanpa batas. Tetap perlu menyesuaikan asupan dengan kebutuhan tubuh,” ujarnya.
Salah satu strategi sederhana yang bisa diterapkan adalah menggunakan piring berukuran kecil saat mengambil makanan. Cara ini dinilai efektif membantu mengontrol porsi tanpa disadari.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk tidak menjadikan kue kering sebagai camilan utama sepanjang hari. Sebaiknya, konsumsi kue kering dijadikan sebagai pelengkap, bukan sumber utama energi.
Untuk menyeimbangkan asupan, perbanyak konsumsi makanan tinggi serat seperti buah dan sayur. Serat memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan pencernaan sekaligus membantu mengontrol rasa lapar.
Menghadirkan buah segar di meja tamu saat Lebaran bisa menjadi alternatif yang lebih sehat. Selain menyegarkan, buah juga memberikan manfaat nutrisi yang tidak dimiliki kue kering.
“Serat dalam makanan mampu membantu mengikat kelebihan glukosa dan kolesterol, sehingga dapat mengurangi penyerapan dalam tubuh,” jelas mereka.
Dengan kata lain, konsumsi buah tidak hanya membantu mengurangi keinginan makan berlebihan, tetapi juga berkontribusi menjaga kadar gula dan kolesterol tetap stabil.
Tak kalah penting, batasi juga konsumsi minuman manis yang biasanya turut disajikan saat Lebaran. Minuman dalam kemasan atau sirup sebaiknya hanya dikonsumsi maksimal satu kali sehari untuk menghindari asupan gula berlebih.
Kombinasi antara kue kering dan minuman manis dapat meningkatkan risiko lonjakan kalori secara signifikan dalam waktu singkat. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, kondisi ini bisa berdampak pada kenaikan berat badan pasca-Lebaran.
Para ahli juga menyarankan untuk tetap aktif bergerak selama masa libur Lebaran. Aktivitas ringan seperti berjalan kaki setelah makan dapat membantu tubuh membakar kalori dan menjaga metabolisme tetap optimal.
Kesadaran akan pola makan sehat selama Lebaran menjadi hal yang penting, terutama mengingat momen ini hanya berlangsung dalam waktu singkat. Dengan pengendalian yang baik, masyarakat tetap bisa menikmati hidangan khas tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Pada akhirnya, menikmati kue kering saat Lebaran sah-sah saja, selama dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan. Batas maksimal lima keping per hari bisa menjadi panduan sederhana untuk menjaga keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan.
Lebaran seharusnya menjadi momen kebahagiaan, bukan awal dari masalah kesehatan baru. Dengan mengatur konsumsi kue kering dan menjaga pola makan, masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan lebih sehat dan nyaman. (R-05)

