Takbir dan Air Mata! Beginilah Lebaran di Wilayah Konflik yang Mencekam
Ilustrasi peperangan di Timur Tengah yang terjadi di hari raya. Foto: SM News/Create by AI
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Idul Fitri yang seharusnya menjadi simbol kemenangan dan kebahagiaan umat Islam, di banyak wilayah Timur Tengah justru berubah menjadi hari penuh duka. Dentuman bom, suara sirene, dan kehilangan orang tercinta kerap menggantikan takbir yang menggema.
Di saat sebagian umat Muslim di dunia merayakan Lebaran dengan sukacita, jutaan lainnya harus menjalani hari raya dalam bayang-bayang perang. Dari Palestina hingga Irak, sejarah panjang konflik menunjukkan bahwa Idul Fitri kerap datang di saat yang paling kelam.
Fenomena ini bukan hal baru. Sejak puluhan tahun lalu, Lebaran di Timur Tengah sering hadir bersamaan dengan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka mendalam.
Lebaran Sebelum Tragedi Besar Palestina
Salah satu momen paling memilukan terjadi menjelang peristiwa Nakba pada 1948. Idul Fitri tahun 1947 menjadi Lebaran terakhir bagi banyak warga Palestina sebelum mereka kehilangan tanah air.
Perang Arab-Israel yang pecah pada 1948 menyebabkan sekitar 700 ribu hingga 750 ribu warga Palestina terusir dari rumah mereka. Desa-desa dihancurkan, keluarga tercerai-berai, dan krisis pengungsi besar pun dimulai.
Sejak saat itu, Lebaran bagi banyak warga Palestina bukan lagi sekadar perayaan, tetapi juga pengingat pahit akan kehilangan dan pengusiran. Takbir yang berkumandang sering kali bercampur dengan kenangan akan kampung halaman yang tak lagi bisa mereka kembali.
Perang Iran-Irak: Lebaran Tanpa Henti Tembakan
Konflik panjang antara Iran dan Irak pada 1980 hingga 1988 menjadi salah satu perang paling mematikan di kawasan tersebut. Selama delapan tahun, Ramadan dan Idul Fitri tidak pernah benar-benar menjadi momen jeda dari peperangan.
Pada 1982, Iran meluncurkan Operasi Ramadan, serangan besar yang terjadi bertepatan dengan bulan suci. Sementara pada 1988, Irak justru memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk melancarkan ofensif besar.
Di kota-kota garis depan seperti Basra dan Ahwaz, suara azan dan takbir sering kali bersaing dengan ledakan bom. Warga sipil harus menjalani ibadah dalam ketakutan, tanpa kepastian apakah mereka akan selamat hingga hari berikutnya.
Perang Teluk 1991: Lebaran dalam Kecemasan Global
Ketika Perang Teluk berakhir pada Februari 1991, dunia berharap situasi segera membaik. Namun saat Idul Fitri tiba pada April tahun yang sama, suasana masih dipenuhi kecemasan.
Ribuan korban jiwa dan banyaknya orang hilang membuat Lebaran jauh dari kata bahagia. Banyak keluarga tidak mengetahui nasib anggota keluarga mereka yang berada di wilayah konflik.
Bahkan di luar Timur Tengah, seperti di Amerika Serikat, komunitas Muslim merasakan dampaknya. Banyak yang menjalani Ramadan dan Lebaran dengan kegelisahan, menunggu kabar dari keluarga yang tak kunjung datang.
Irak Pasca 2003: Lebaran di Bawah Ancaman Bom
Setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, kekerasan sektarian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Idul Fitri pun tidak luput dari ancaman.
Serangan bom mobil kerap terjadi di pasar, taman, bahkan dekat tempat ibadah. Banyak warga memilih tidak keluar rumah selama Lebaran karena khawatir menjadi korban.
Masjid yang biasanya penuh saat salat Id menjadi sepi. Tradisi silaturahmi bergeser menjadi panggilan telepon atau pesan singkat. Rasa aman yang seharusnya hadir di hari raya justru berubah menjadi ketakutan kolektif.
Gaza: Lebaran yang Berulang Kali Berubah Jadi Duka
Di Gaza, konflik yang terus berulang menjadikan Lebaran sebagai momen yang penuh kesedihan. Pada perang 2014, banyak keluarga menghabiskan hari pertama Idul Fitri dengan menguburkan anggota keluarga mereka.
Alih-alih berbagi makanan atau hadiah, banyak anak harus mengunjungi makam orang tua atau saudara mereka. Reruntuhan bangunan menjadi pemandangan umum, bahkan saat takbir masih berkumandang.
Situasi serupa kembali terjadi pada konflik 2023 hingga 2024. Warga Gaza melaksanakan salat Id di antara puing-puing masjid yang hancur. Sebagian lainnya merayakan Lebaran di kamp pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Konflik Terbaru: Timur Tengah Kembali Membara di 2026
Memasuki tahun 2026, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Sejak 28 Februari 2026, konflik besar kembali pecah dan melibatkan kekuatan militer yang memperburuk situasi kawasan.
Serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat membuat wilayah tersebut memanas sejak Ramadan hingga Idul Fitri tiba. Hingga kini, konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Bagi warga sipil, kondisi ini berarti satu hal: Lebaran kembali dirayakan dalam ketidakpastian. Banyak keluarga yang terpisah, kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan orang-orang tercinta.
Di tengah situasi tersebut, makna Lebaran berubah drastis. Bukan lagi tentang kemenangan setelah berpuasa, melainkan tentang bertahan hidup di tengah konflik yang tak kunjung usai.
Lebaran yang Berbeda, Harapan yang Sama
Meski berada di tengah perang, harapan akan perdamaian tidak pernah benar-benar padam. Di balik reruntuhan dan suara ledakan, umat Muslim di Timur Tengah tetap berusaha menjalankan tradisi Lebaran semampu mereka.
Takbir tetap berkumandang, meski lirih. Doa tetap dipanjatkan, meski dengan air mata.
Lebaran di wilayah konflik menjadi pengingat bagi dunia bahwa di balik perayaan yang meriah, ada saudara-saudara yang menjalani hari raya dengan penuh perjuangan.
Hari kemenangan yang seharusnya dirayakan dengan kebahagiaan, bagi mereka justru menjadi simbol keteguhan dalam menghadapi ujian. (R-05)

