Trump Mendadak Mau Stop Perang Iran, Tapi Ogah Damai? Ternyata Ini Alasannya!
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
SABANGMERAUKE NEWS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bikin geger dunia lewat pernyataan terbarunya soal konflik Iran. Trump mengaku sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer besar di Timur Tengah. Sinyal kuat ini muncul pada Sabtu dini hari, 21 Maret 2026, setelah perang berkecamuk selama tiga minggu.
Meski ingin berhenti, jangan harap ada jabat tangan atau tanda tangan surat perdamaian. Trump secara tegas menolak opsi gencatan senjata saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih. Ia merasa pasukan Amerika Serikat sudah menang telak dan berhasil menghancurkan kekuatan lawan sepenuhnya.
"Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika benar-benar menghancurkan pihak lain," ujar Donald Trump dengan gaya bicaranya yang khas. Menurutnya, tujuan utama mencegah Iran memiliki senjata nuklir hampir tercapai. Namun, situasi di lapangan masih tegang karena ribuan Marinir AS dilaporkan tetap menuju kawasan tersebut.
Hormuz Bukan Urusan Amerika?
Satu poin paling pedas dari ucapan Trump adalah soal pengamanan jalur minyak dunia. Ia menegaskan Selat Hormuz seharusnya menjadi tanggung jawab negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut. Trump meminta China hingga Inggris untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga keamanan di sana.
Trump bahkan melontarkan kritik sangat tajam kepada aliansi NATO yang dianggap tidak berani bertindak. Ia menyebut NATO hanya akan menjadi macan kertas tanpa dukungan militer dari Amerika Serikat. Baginya, AS tidak seharusnya menjadi pihak utama yang menjaga jalur pelayaran internasional secara gratis.
"Selat Hormuz harus dijaga negara-negara lain yang menggunakannya, Amerika Serikat tidak," tegas Trump pada Sabtu, 21 Maret 2026. Ia merasa pengawalan Selat Hormuz tidak diperlukan lagi setelah ancaman militer Iran berhasil dihilangkan. Klaim ini langsung memicu perdebatan panas di kalangan sekutu NATO seperti Jerman dan Prancis.
Balasan Pemimpin Iran
Pihak Iran tidak tinggal diam dan langsung memberikan balasan lewat pesan tertulis yang sangat berani. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyebut ucapan Trump hanyalah omong kosong belaka. Pesan itu dibacakan di televisi nasional Iran bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Persia atau Nowruz.
Mojtaba mengklaim rakyat Iran justru sudah memberikan pukulan telak yang membuat musuh mulai merasa ketakutan. Menurutnya, persatuan rakyat Iran tetap kokoh meski ada perbedaan latar belakang agama maupun politik. Ia menegaskan musuh telah gagal total dalam misi memecah belah kedaulatan negara para mullah tersebut.
"Musuh telah dikalahkan karena persatuan spesial yang tercipta di antara saudara sebangsa," tulis Mojtaba Khamenei. Sejak ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sosok Mojtaba memang belum pernah muncul langsung di depan publik. Namun, pesan tertulisnya membuktikan semangat perlawanan Iran masih membara di tengah gempuran rudal Amerika.
Harga Minyak Terguncang Parah
Konflik berdarah ini tidak hanya soal peluru, tapi juga soal isi dompet masyarakat dunia. Di Wall Street, saham-saham anjlok tajam karena investor khawatir soal pasokan minyak yang terganggu. Lonjakan harga BBM di berbagai negara mulai memberikan tekanan politik yang besar bagi pemerintahan Trump.
Serangan militer AS ke Pulau Kharg sempat dilaporkan terjadi meski Washington mencoba menghindari infrastruktur minyak. Trump sendiri memberikan jawaban ambigu saat ditanya soal rencana blokade total pusat minyak Iran tersebut. Ketidakpastian ini membuat pasar energi global terus bergejolak dan sulit untuk diprediksi arahnya.
Negara-negara seperti Jepang dan Inggris menyatakan kesiapan berkontribusi, namun belum memberikan komitmen militer konkret. Mereka memilih menunggu sampai ada kejelasan apakah perang ini benar-benar akan berakhir atau justru memanas lagi. Sementara itu, dunia kini hanya bisa menunggu apakah kode dari Trump bakal jadi kenyataan.R-02

