Debit Waduk PLTA Koto Panjang Meningkat Tajam Usai Hujan Deras di Hulu
Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Lonjakan signifikan terjadi pada debit air Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang pada Selasa (17/3/2026). Peningkatan ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah hulu sungai di Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya, debit air yang masuk ke waduk melonjak drastis hingga mencapai ratusan meter kubik per detik.
Manajer Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Air (ULPLTA) Koto Panjang, Dhani Irwansyah, mengungkapkan bahwa lonjakan debit air masuk atau inflow ke waduk mencapai angka yang cukup tinggi dalam 24 jam terakhir.
Menurutnya, inflow tercatat sempat menyentuh angka 606,65 meter kubik per detik (m³/s). Angka tersebut menjadi debit air terbesar yang tercatat dalam kurun waktu 24 jam terakhir, yakni sejak Senin (16/3/2026) hingga Selasa siang.
“Puncak kenaikan inflow terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Angkanya mencapai 606,65 meter kubik per detik,” ujar Dhani.
Lonjakan ini tergolong sangat signifikan. Sebelumnya, debit air yang masuk ke Waduk PLTA Koto Panjang hanya berkisar di angka sekitar 60 meter kubik per detik. Artinya, dalam waktu singkat terjadi peningkatan debit hingga hampir sepuluh kali lipat dari kondisi normal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pihak pengelola waduk karena perubahan debit yang drastis dapat berdampak pada pengelolaan bendungan dan operasional pembangkit listrik.
Selain inflow yang meningkat tajam, ketinggian permukaan air waduk atau elevasi juga mengalami kenaikan. Berdasarkan pemantauan terbaru, elevasi waduk tercatat berada di angka 78,20 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Dalam satu hari terakhir, elevasi tersebut naik sekitar 20 centimeter dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa volume air yang masuk ke waduk memang mengalami peningkatan cukup signifikan.
Meski demikian, pihak pengelola memastikan bahwa kondisi waduk masih berada dalam batas aman. Elevasi air saat ini masih berada pada level Low Water Level (LWL) atau batas air rendah.
Sebagai informasi, batas LWL Waduk PLTA Koto Panjang berada pada kisaran 73,50 hingga 80,59 meter di atas permukaan laut. Dengan posisi elevasi di angka 78,20 MDPL, kondisi waduk masih berada dalam kategori aman dan belum mendekati ambang batas maksimal.
Dhani menjelaskan bahwa lonjakan debit air yang masuk ke waduk sebagian besar berasal dari wilayah hulu sungai yang berada di Provinsi Sumatera Barat.
Wilayah tersebut memang menjadi daerah tangkapan air utama bagi Waduk PLTA Koto Panjang. Curah hujan tinggi yang terjadi di kawasan tersebut secara langsung meningkatkan volume air yang mengalir menuju waduk.
“Kenaikan debit air ini dipicu oleh hujan yang cukup tinggi di wilayah hulu, khususnya di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat,” jelasnya.
Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu daerah yang dilalui aliran sungai menuju Waduk Koto Panjang. Ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut, air dari kawasan pegunungan akan mengalir ke sungai dan akhirnya masuk ke waduk.
Fenomena ini memang sering terjadi pada musim hujan, terutama ketika intensitas hujan meningkat dalam waktu singkat. Volume air yang besar dari wilayah hulu dapat menyebabkan lonjakan inflow secara tiba-tiba.
Meski demikian, pihak pengelola waduk terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap kondisi debit air dan elevasi waduk. Pemantauan dilakukan secara berkala guna memastikan operasional PLTA tetap berjalan dengan aman dan optimal.
Selain untuk pembangkit listrik, Waduk PLTA Koto Panjang juga memiliki peran penting dalam pengendalian aliran sungai di wilayah Riau dan Sumatera Barat. Oleh karena itu, perubahan debit air harus dipantau secara ketat agar tidak menimbulkan dampak pada wilayah hilir.
Pengelola waduk juga berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait apabila terjadi perubahan kondisi debit air yang signifikan. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan peningkatan aliran sungai di wilayah downstream atau hilir waduk.
Dengan meningkatnya debit air saat ini, pihak pengelola tetap memastikan bahwa kondisi waduk masih terkendali. Operasional pembangkit listrik tenaga air juga masih berjalan normal.
Ke depan, pengelola waduk akan terus memantau perkembangan cuaca dan curah hujan di wilayah hulu. Jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi, bukan tidak mungkin debit air yang masuk ke waduk akan kembali meningkat.
Namun selama elevasi waduk masih berada dalam batas aman, kondisi tersebut justru dapat memberikan keuntungan bagi operasional pembangkit listrik tenaga air karena ketersediaan air menjadi lebih terjaga. (R-05)

