Jejak Kota-Kota Indonesia yang Dibangun Belanda
Kota Semarang. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Jejak masa kolonial Belanda di Indonesia masih dapat dilihat hingga hari ini, terutama melalui bentuk kota-kota yang dibangun atau dirancang pada masa Hindia Belanda. Selama lebih dari tiga abad berkuasa, pemerintah kolonial tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga membangun sistem tata kota modern yang menjadi fondasi perkembangan sejumlah kota besar di Indonesia saat ini.
Banyak kota di Indonesia memiliki tata ruang yang dirancang dengan pendekatan urban planning khas Eropa pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas penting seperti kantor pemerintahan, kawasan permukiman orang Eropa, stasiun kereta api, pelabuhan, hingga jaringan jalan dan kanal. Bahkan, sebagian infrastruktur tersebut masih digunakan hingga sekarang.
Beberapa kota besar yang kini menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kota yang dikembangkan oleh Belanda sejak masa kolonial.
Salatiga: Kota Bernuansa Belanda di Jawa Tengah
Salatiga sering disebut sebagai kota dengan nuansa Belanda paling kuat di Jawa Tengah. Pada masa kolonial, kota ini memang dirancang sebagai kawasan permukiman orang Eropa karena lokasinya strategis di jalur penghubung antara Semarang dan Solo.
Terletak di lereng Gunung Merbabu dengan udara sejuk, Salatiga menjadi tempat favorit orang-orang Eropa untuk tinggal. Bahkan kota ini pernah dijuluki “De Schoonste van Midden Java” yang berarti kota terindah di Jawa Tengah.
Salah satu bangunan bersejarah yang masih ada hingga kini adalah rumah milik Baron Van Hakeren Van De Sloot yang dikenal sebagai Gedung Papak. Jalan-jalan di Salatiga juga dirancang dengan trotoar lebar dan deretan pepohonan peneduh, mencerminkan gaya perencanaan kota Eropa yang mengutamakan kenyamanan berjalan kaki dan bersepeda.
Bandung: Kota Rancangan Kolonial yang Kini Jadi Metropolis
Bandung juga merupakan kota yang berkembang pesat berkat perencanaan Belanda. Sebelum menjadi kota besar, kawasan ini hanya berupa wilayah pedesaan di daerah Priangan yang berhawa sejuk.
Perubahan besar terjadi pada tahun 1810 ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke wilayah Bandung saat ini karena daerah lama sering dilanda banjir.
Sejak saat itu, Bandung mulai dirancang sebagai kota modern dengan jaringan jalan yang tertata. Banyak kawasan permukiman Eropa dibangun, lengkap dengan trotoar dan taman kota. Kawasan Braga, misalnya, menjadi pusat perdagangan dan hiburan orang Eropa pada masa itu.
Namun, desain jalan yang relatif sempit pada masa kolonial kini menjadi tantangan tersendiri bagi Bandung yang berkembang pesat dengan jumlah kendaraan yang sangat tinggi.
Jayapura: Kota Pelabuhan yang Didirikan Belanda
Jayapura juga termasuk kota yang didirikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Kota ini awalnya dibangun oleh Kapten Infanteri Belanda F. J. P. Sachse pada 7 Maret 1910.
Pada masa itu, Jayapura dikenal dengan nama Hollandia dan berfungsi sebagai pelabuhan penting sekaligus pangkalan militer Belanda di wilayah yang disebut Netherland Nieuw Guinea.
Setelah wilayah Papua diserahkan kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), nama Hollandia sempat diubah menjadi Kota Baru. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, kota ini kemudian resmi dinamai Jayapura, yang berarti “kota kemenangan”.
Semarang: Kota Lama Bergaya Amsterdam
Semarang pada awalnya hanyalah perkampungan nelayan kecil di pesisir utara Jawa. Namun setelah dikuasai VOC, kawasan ini berkembang pesat menjadi kota pelabuhan penting.
Belanda kemudian membangun kawasan yang kini dikenal sebagai Kota Lama Semarang. Area ini dirancang menyerupai kota-kota di Belanda, khususnya Amsterdam, dengan kanal, bangunan bergaya Eropa, serta tata jalan yang teratur.
Kawasan yang sering disebut Outstadt ini memiliki luas sekitar 31 hektare dan menjadi pusat perdagangan pada masa kolonial. Hingga kini sejumlah bangunan ikonik peninggalan Belanda masih berdiri kokoh, seperti Lawang Sewu, Pelabuhan Tanjung Emas, Stasiun Tawang, dan Stasiun Poncol.
Medan: Kota Perkebunan yang Menjadi Pusat Ekonomi
Medan awalnya merupakan kawasan perkebunan tembakau milik Kesultanan Deli yang kemudian disewa oleh pihak Belanda. Pada awal abad ke-19, wilayah ini masih didominasi hutan dan rawa dengan sejumlah perkampungan nelayan dari suku Karo dan Melayu.
Perubahan besar terjadi pada tahun 1863 ketika Belanda mulai membuka perkebunan tembakau Deli yang sangat terkenal di pasar dunia. Keberhasilan komoditas ini membuat Medan berkembang pesat sebagai pusat ekonomi baru di Sumatera.
Pertumbuhan kota juga dipicu oleh kebijakan kolonial yang membuka investasi swasta. Banyak perkebunan didirikan dan tenaga kerja didatangkan dari berbagai daerah, termasuk dari Jawa, sehingga membentuk komposisi penduduk Medan yang beragam hingga saat ini.
Balikpapan: Kota Minyak yang Berkembang Pesat
Balikpapan dikenal sebagai salah satu kota yang berkembang pesat karena industri minyak bumi pada masa kolonial. Titik awal perkembangan kota ini dimulai dari pengeboran Sumur Mathilda pada 10 Februari 1897.
Nama Mathilda diambil dari putri J. H. Menten, pemilik perusahaan yang mendapatkan hak konsesi pengeboran minyak dari pemerintah Hindia Belanda setelah mengontrak wilayah tersebut dari Kesultanan Kutai.
Penemuan cadangan minyak dalam jumlah besar membuat Balikpapan berkembang sangat cepat, bahkan pada masa itu kota ini menjadi salah satu pusat industri minyak paling penting di Asia Tenggara.
Jakarta: Dari Batavia ke Ibu Kota Indonesia
Jakarta pada masa kolonial dikenal dengan nama Batavia. Sebelum dikuasai Belanda, kawasan ini merupakan pelabuhan bernama Sunda Kelapa yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda.
Pelabuhan tersebut kemudian direbut oleh panglima Kesultanan Demak, Fatahillah, pada tahun 1527. Peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai hari jadi Jakarta.
Ketika VOC menguasai wilayah tersebut, Belanda membangun kota baru di kawasan rawa yang kini dikenal sebagai Kota Tua Jakarta. Kota ini dirancang lengkap dengan benteng pertahanan serta jaringan kanal untuk mengatasi banjir.
Seiring pertumbuhan penduduk, Batavia kemudian berkembang ke arah selatan menuju kawasan Weltevreden, yang kini meliputi Menteng, Gambir, Tanah Abang, hingga Kemayoran.
Warisan tata kota kolonial ini menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia hingga sekarang. (R-03)

