Ribuan Korban Berjatuhan, Paus Leo XIV Desak Dunia Hentikan Konflik Timur Tengah
Paus Leo XIV. Foto: Dom SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Vatikan - Situasi keamanan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia setelah konflik bersenjata antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu gelombang kekerasan yang menewaskan ribuan orang serta memicu krisis kemanusiaan di berbagai negara kawasan. Dalam kondisi yang semakin mencekam ini, Paus Leo XIV menyerukan penghentian perang dan membuka kembali dialog damai sebagai satu-satunya jalan keluar dari konflik berkepanjangan.
Seruan tersebut disampaikan Paus Leo XIV dalam doa Angelus mingguan di Vatikan pada Minggu (15/3/2026). Di hadapan ribuan umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, pemimpin Gereja Katolik dunia itu menyampaikan keprihatinan mendalam atas penderitaan yang dialami masyarakat sipil di kawasan Timur Tengah.
“Saudara-saudari terkasih, selama dua minggu rakyat Timur Tengah telah menderita kekerasan perang yang mengerikan. Ribuan orang tak berdosa telah terbunuh, dan banyak lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka,” kata Paus Leo XIV seperti dikutip dari AFP.
Konflik yang meletus sejak akhir Februari 2026 itu telah memicu ketegangan besar di kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan konflik di dunia. Serangan udara dan rudal terus terjadi di sejumlah wilayah, sementara warga sipil menjadi kelompok yang paling terdampak.
Paus Leo XIV menegaskan bahwa kekerasan yang terjadi saat ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga merenggut nyawa banyak orang yang tidak terlibat dalam peperangan. Ia menyebut ribuan korban jiwa dan kehancuran fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit sebagai tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan.
“Saya memperbarui kedekatan saya kepada semua orang yang telah kehilangan orang yang dicintai dalam serangan yang telah menghantam sekolah, rumah sakit, dan daerah pemukiman,” ujarnya.
Menurut laporan berbagai sumber pemerintah dan media di kawasan, konflik yang melibatkan Iran dan Israel tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 orang. Sebagian besar korban dilaporkan berada di wilayah Iran yang menjadi sasaran serangan militer dalam beberapa pekan terakhir.
Eskalasi konflik ini bermula ketika Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis dan memicu reaksi keras dari pemerintah Iran.
Dalam perkembangan yang mengejutkan dunia internasional, serangan itu juga dilaporkan menyebabkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kematian tokoh penting tersebut memicu kemarahan besar di Iran dan mempercepat eskalasi konflik.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara kawasan Teluk. Selain itu, Iran juga mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia.
Penutupan Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia. Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Di tengah situasi yang semakin memburuk, Paus Leo XIV menekankan bahwa kekerasan tidak akan pernah membawa solusi yang adil bagi semua pihak. Ia menyerukan agar para pemimpin dunia segera mengambil langkah untuk menghentikan pertempuran dan memulai kembali proses dialog.
“Atas nama umat Kristen di Timur Tengah dan semua perempuan dan laki-laki yang berkehendak baik, saya menyampaikan pesan kepada mereka yang bertanggung jawab atas konflik ini,” kata Paus Leo XIV.
“Hentikan tembakan! Biarkan jalan dialog dibuka kembali!” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa perdamaian hanya dapat tercapai melalui diplomasi, saling menghormati, dan komitmen untuk menghindari kekerasan.
“Kekerasan tidak akan pernah mengarah pada keadilan, stabilitas, dan perdamaian yang dinantikan rakyat,” ujar Paus Leo XIV.
Selain konflik antara Iran dan Israel, Paus Leo XIV juga menyoroti situasi di Lebanon yang menurutnya menjadi salah satu titik kekhawatiran serius dalam konflik regional ini. Negara tersebut selama ini berada dalam kondisi politik dan ekonomi yang rapuh, sehingga rentan terdampak oleh konflik di sekitarnya.
Ketegangan di Lebanon dikhawatirkan dapat memperluas konflik ke wilayah lain di Timur Tengah. Jika eskalasi terus berlanjut, banyak pengamat memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi berubah menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.
Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional juga telah menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya jumlah pengungsi dan kerusakan infrastruktur vital di kawasan konflik. Rumah sakit, sekolah, dan permukiman warga dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat serangan militer.
Banyak warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama di beberapa wilayah Timur Tengah.
Seruan Paus Leo XIV untuk menghentikan perang dan membuka dialog damai mendapat perhatian luas dari komunitas internasional. Banyak pihak berharap pesan tersebut dapat mendorong para pemimpin dunia untuk menahan diri dan mencari solusi damai melalui jalur diplomasi.
Di tengah situasi yang semakin tidak menentu, harapan akan perdamaian tetap menjadi suara yang terus disuarakan oleh berbagai tokoh dunia. Seruan Paus Leo XIV menjadi pengingat bahwa di balik konflik politik dan militer, jutaan warga sipil tetap menjadi korban yang paling merasakan dampak perang.
Dengan meningkatnya ketegangan dan jumlah korban jiwa yang terus bertambah, dunia kini menunggu langkah nyata dari para pemimpin global untuk menghentikan konflik dan membuka kembali jalan menuju perdamaian di Timur Tengah. (R-05)

