Salah Pilih Jurusan? Ini 10 Jurusan Kuliah yang Dianggap Sulit Cari Kerja
Grafik jurusan kuliah yang banyam disesali setelah lulus. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Memilih jurusan kuliah sering dianggap sebagai langkah penting yang akan menentukan masa depan karier seseorang. Namun kenyataannya, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang justru menyesali pilihan jurusan yang mereka ambil setelah memasuki dunia kerja.
Fenomena ini terungkap dari survei yang dilakukan oleh platform pencarian kerja ZipRecruiter terhadap 1.500 lulusan universitas yang sedang mencari pekerjaan. Hasil survei menunjukkan bahwa sejumlah jurusan kuliah memiliki tingkat penyesalan yang cukup tinggi dari para lulusannya, terutama karena terbatasnya peluang kerja dan tingkat gaji yang relatif rendah.
Temuan ini menjadi perhatian karena selama masa kuliah, banyak mahasiswa memilih jurusan berdasarkan minat dan passion. Namun setelah lulus, realitas dunia kerja sering kali tidak seindah yang dibayangkan.
Ekonom utama ZipRecruiter, Sinem Buber, menjelaskan bahwa perbedaan antara ekspektasi dan realitas inilah yang membuat banyak lulusan merasa kecewa dengan pilihan studinya.
Menurutnya, ketika seseorang masih menjadi mahasiswa, fokus utama biasanya adalah ketertarikan terhadap bidang studi tertentu. Namun setelah lulus, kebutuhan ekonomi dan realitas kehidupan mulai menjadi faktor utama dalam menentukan kepuasan terhadap pekerjaan.
“Ketika masih kuliah, banyak orang memilih jurusan karena mereka menyukai bidang tersebut. Tetapi setelah lulus, kenyataan mulai terasa. Saat Anda kesulitan membayar tagihan, besaran gaji menjadi hal yang jauh lebih penting,” ujar Buber seperti dikutip dari CNBC Internasional.
Kondisi ini membuat sebagian lulusan merasa bahwa jurusan yang mereka pilih tidak memberikan prospek karier yang cukup menjanjikan.
Jurnalisme Jadi Jurusan Paling Banyak Disesali
Dalam hasil survei tersebut, jurusan jurnalisme menempati posisi pertama sebagai jurusan yang paling banyak disesali oleh para lulusannya.
Sebanyak 87 persen responden yang mengambil jurusan ini mengaku menyesal setelah lulus. Salah satu alasan utama adalah persaingan kerja yang sangat ketat di industri media, ditambah dengan perubahan besar dalam industri jurnalisme akibat perkembangan teknologi digital.
Banyak perusahaan media yang melakukan efisiensi, sehingga kesempatan kerja menjadi lebih terbatas dibandingkan jumlah lulusan yang terus bertambah setiap tahun.
Selain itu, gaji awal bagi lulusan jurnalisme di banyak negara juga relatif rendah dibandingkan profesi lain.
Jurusan Ilmu Sosial dan Seni Juga Tinggi Penyesalannya
Tidak hanya jurnalisme, beberapa jurusan yang masuk dalam kategori ilmu sosial dan seni juga memiliki tingkat penyesalan yang cukup tinggi.
Jurusan sosiologi dan seni berada di posisi kedua dengan tingkat penyesalan mencapai 72 persen. Lulusan dari kedua bidang ini sering menghadapi kesulitan menemukan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.
Banyak dari mereka akhirnya bekerja di bidang yang tidak berkaitan langsung dengan jurusan kuliah yang diambil.
Sementara itu, jurusan komunikasi menempati posisi berikutnya dengan tingkat penyesalan sebesar 64 persen. Meskipun bidang komunikasi sebenarnya cukup luas, namun persaingan kerja yang tinggi membuat banyak lulusan merasa peluang kariernya terbatas.
Hal yang sama juga terjadi pada jurusan pendidikan yang mencatat tingkat penyesalan sebesar 61 persen. Profesi guru sering dianggap sebagai pekerjaan yang mulia, tetapi di beberapa tempat masih menghadapi persoalan kesejahteraan yang belum memadai.
Jurusan Lain yang Masuk Daftar
Selain jurusan-jurusan tersebut, terdapat sejumlah program studi lain yang juga masuk dalam daftar jurusan yang paling disesali setelah lulus kuliah.
Berikut daftar lengkapnya berdasarkan hasil survei ZipRecruiter:
Jurnalisme – 87 persen
Sosiologi – 72 persen
Seni – 72 persen
Komunikasi – 64 persen
Pendidikan – 61 persen
Manajemen Marketing dan Riset – 60 persen
Pendamping Medis – 56 persen
Ilmu Politik dan Pemerintahan – 56 persen
Biologi – 52 persen
Sastra Inggris – 52 persen
Beberapa jurusan yang masuk dalam daftar ini sebenarnya memiliki nilai akademik yang tinggi. Namun tantangan utamanya terletak pada terbatasnya peluang kerja di bidang yang spesifik sesuai jurusan tersebut.
Sebagai contoh, jurusan biologi sering membutuhkan pendidikan lanjutan seperti program magister atau doktor agar lulusannya dapat memperoleh pekerjaan yang lebih stabil di bidang penelitian atau industri.
Sementara jurusan sastra Inggris sering kali menghasilkan lulusan dengan keterampilan bahasa yang kuat, namun peluang kariernya sering kali bersaing dengan berbagai bidang lain seperti komunikasi, pendidikan, hingga bisnis.
Pentingnya Mempertimbangkan Prospek Kerja
Temuan survei ini menjadi pengingat bagi calon mahasiswa untuk tidak hanya mempertimbangkan minat pribadi ketika memilih jurusan kuliah.
Para ahli karier menyarankan agar mahasiswa juga memperhatikan prospek pekerjaan, kebutuhan industri, serta perkembangan pasar tenaga kerja di masa depan.
Hal ini penting agar lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain itu, perkembangan teknologi dan ekonomi global juga mempengaruhi jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan.
Bidang-bidang seperti teknologi informasi, data science, kecerdasan buatan, hingga teknik saat ini dinilai memiliki peluang karier yang lebih luas dibandingkan beberapa jurusan tradisional.
Namun demikian, bukan berarti jurusan yang masuk dalam daftar tersebut tidak memiliki masa depan. Banyak lulusan yang tetap berhasil meraih kesuksesan dengan mengembangkan keterampilan tambahan, membangun jaringan profesional, serta memanfaatkan peluang kerja yang terus berkembang.
Pada akhirnya, pilihan jurusan kuliah tetap menjadi keputusan pribadi yang perlu dipertimbangkan secara matang. Kombinasi antara minat, bakat, dan peluang kerja menjadi kunci agar pendidikan yang ditempuh dapat memberikan manfaat maksimal bagi masa depan karier. (R-05)

