Aksi Emak-emak di UGM: Bongkar Dalang Teror Andrie Yunus!
Puluhan perempuan di bundaran UGM membawa poster menuntut pengusutan kasus teror penyiraman air keras aktivis KontraS, Andrie Yunus. (sumber: BBC)
SABANGMERAUKE NEWS, Yogyakarta - Puluhan ibu-ibu serta mahasiswa berdiri rapat membawa poster dan bunga, lalu membagikan takjil di tengah aksi solidaritas untuk aktivis KontraS, Andrie Yunus, di Bundaran Universitas Gadjah Mada, Sabtu, 14 Maret 2026. Nama Andrie mendadak jadi simpul luka baru demokrasi setelah tubuhnya disiram air keras di Jakarta.
Aksi ini bukan sekadar kumpul sore menjelang berbuka puasa. Ada cemas yang terasa dekat, nyaris menempel di kulit setiap peserta. Mereka menilai serangan terhadap Andrie bukan kriminalitas jalanan biasa, melainkan alarm keras untuk siapa pun yang masih nekat bersuara di ruang sipil.
"Jangan ada lagi intimidasi dan kriminalisasi," ujar Naysilla Rose, salah satu peserta aksi. Perempuan yang akrab disapa Cila ini menilai negara mesti hadir memberi jaminan aman bagi pejuang hak asasi manusia serta warga sipil. Baginya, teror yang menimpa Andrie terasa seperti ancaman yang bisa hinggap ke mana saja tanpa peringatan.
Cila mengungkapkan ketakutannya bahwa hari ini satu nama, namun besok bisa jadi nama lain yang akan menjadi korban. "Rasa-rasanya pisau itu sudah ada di dekat leher, dekat banget," ucapnya dengan nada bergetar. Di bundaran kampus, poster-poster diangkat tinggi menuntut keadilan bagi Andrie Yunus. Solidaritas tampil sederhana, namun pesannya galak: publik tidak mau kasus ini tenggelam seperti banyak teror lain yang hilang tanpa jejak.
Solidaritas Mengalir, Kemarahan Tak Lagi Sunyi
Aksi di UGM juga memantulkan ingatan lama yang pahit mengenai berbagai kasus yang tak tuntas. Cila menyebut banyak pelanggaran HAM yang bertahun-tahun dibiarkan menggantung, membuat publik makin curiga setiap kali ada janji pengusutan. Ia menuntut kasus ini dibuka secepat mungkin agar kebenaran tidak lenyap dalam tumpukan berkas perkara.
"Pemerintah seharusnya bisa menyelesaikan dan mengungkap siapa dalangnya," tegas Cila kembali. Nada lebih keras datang dari peserta aksi lain, Wasingatu Zakiyah, yang menilai kegagalan mengungkap kasus ini bakal menjadi penanda kelam bagi Indonesia. "Jika kasus ini tidak terungkap, negara memang benar-benar tidak ada," cetusnya di tengah orasi.
Tekanan untuk mengusut kasus Andrie datang dari koalisi sipil yang sangat masif. Sebanyak 310 organisasi serta individu yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil mengecam keras aksi penyiraman air keras ini. Koalisi menyebut serangan tersebut keji, pengecut, dan punya indikasi kuat dilakukan secara terencana.
Serangan brutal ini terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Saat itu, Andrie baru saja menyelesaikan perekaman siniar bertema remiliterisasi dan uji materi UU TNI di kantor YLBHI. Dua orang bersepeda motor mendekat lalu menyiramkan cairan kimia berbahaya ke tubuhnya sebelum kabur dengan kecepatan tinggi.
Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen, terutama di wajah, mata, dada, dan kedua tangan. Ia kini harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk memulihkan kondisi fisiknya yang hancur karena cairan tersebut. Koalisi menilai serangan ini tidak bisa dilepaskan dari kerja advokasi Andrie sebagai pembela HAM selama ini.
Selama bertahun-tahun, Andrie dikenal vokal mengkritik penyalahgunaan kekuasaan serta penyempitan ruang sipil. Ia juga aktif menyorot pembahasan revisi UU TNI yang dinilai tertutup, termasuk saat aksi protes di Hotel Fairmont Jakarta pada 15 Maret 2025 lalu. Kiprahnya yang tajam membuat banyak pihak merasa terganggu dan akhirnya memilih jalan kekerasan untuk membungkamnya.
Sorotan Dunia dan Ujian bagi Negara
Kasus ini kini tak cuma hidup di jalanan kampus dan ruang aktivisme domestik. Sorotannya melebar hingga level internasional dengan keprihatinan yang mendalam. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menyatakan sangat prihatin atas serangan air keras yang mengerikan tersebut. Ia menegaskan pelaku kekerasan harus dimintai pertanggungjawaban di mata hukum.
PBB juga mengingatkan bahwa pembela HAM harus bisa bekerja tanpa rasa takut saat mengangkat isu kepentingan publik. Pelapor Khusus PBB untuk Pembela HAM, Mary Lawlor, menyerukan penyelidikan menyeluruh segera dilakukan. Pesannya sangat jelas: impunitas dalam kekerasan terhadap pembela HAM tidak bisa diterima dalam masyarakat modern.
Sorotan dari luar negeri ini membuat kasus Andrie tak lagi sekadar berita kriminal lokal. Ini sudah menjadi cermin keras soal kondisi demokrasi Indonesia saat ini di mata internasional. Di tingkat nasional, Polri menyebut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan atensi khusus pada penanganan kasus ini.
Kadiv Humas Polri Irjen Jhonny Edison Isir mengatakan penyelidikan berjalan berlapis mulai dari Polres Jakarta Pusat hingga Bareskrim. Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, juga mengakui kekerasan itu diduga dilakukan secara terencana dan terorganisasi. Ia meminta pengusutan tuntas sampai ke aktor intelektual di balik layar.
Desakan tambahan datang dari gedung DPR yang meminta negara bertanggung jawab penuh. Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, meminta negara menanggung biaya pengobatan Andrie agar pemulihannya maksimal. Ia juga mendorong pengawalan ketat untuk mencegah ancaman susulan, sambil menegaskan kekerasan tidak boleh jadi jawaban atas perbedaan pendapat.
Di titik ini, kasus Andrie Yunus sudah berubah menjadi lebih dari sekadar perkara penyerangan individu. Ia menjadi ujian terbuka bagi keberanian negara dalam membela warga yang kritis. Dari Bundaran UGM, dari ruang perawatan rumah sakit, sampai suara PBB, pesan itu terus dipukul berulang-ulang.
Publik menuntut aparat tidak berhenti pada pelaku lapangan, namun juga berani membongkar otak di balik serangan. Jika tidak, luka di tubuh Andrie bisa sembuh lebih cepat daripada luka kepercayaan publik pada institusi negara. Inilah saatnya keadilan harus ditegakkan tanpa kompromi, karena demokrasi yang takut pada suara kritis hanyalah sekadar cangkang kosong tanpa nyawa. R-02
BERITA TERKAIT :
-
Hari Konsumen Sedunia
Slogan "Produk Aman" Cuma Pajangan? Konsumen Indonesia Masih Jadi Korban!

