Cadangan Minyak Dunia Dilepas Besar-Besaran, Harga Energi Global Tetap Melonjak
Ilustrasi cadangan minyak dunia. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Pasar energi global kembali dilanda ketidakpastian setelah pengumuman pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah oleh Amerika Serikat dan puluhan negara sekutunya. Langkah yang bertujuan menekan lonjakan harga energi dunia ini justru belum mampu meredakan gejolak pasar, bahkan harga minyak mentah tetap bertahan di level tinggi.
Lebih dari 30 negara di kawasan Eropa, Amerika Utara, hingga Asia Timur Laut sepakat untuk melepas sekitar 400 juta barel cadangan minyak ke pasar global. Kebijakan ini diambil sebagai upaya darurat untuk menstabilkan pasokan energi yang terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat menjadi pemimpin dalam langkah ini dengan melepas sekitar 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau cadangan minyak strategis nasionalnya. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 43 persen dari total cadangan minyak darurat yang dilepas secara terkoordinasi oleh negara-negara anggota International Energy Agency (IEA).
Langkah tersebut tercatat sebagai pelepasan cadangan minyak terbesar dalam 50 tahun sejarah IEA, lembaga internasional yang bertugas menjaga stabilitas pasokan energi global saat terjadi krisis besar.
Namun kenyataannya, pasar minyak dunia tidak langsung merespons secara positif.
Alih-alih menurun, harga minyak mentah global justru terus mengalami kenaikan. Harga minyak Brent yang menjadi patokan internasional bahkan ditutup di atas 100 dolar AS per barel selama dua hari berturut-turut. Secara keseluruhan, harga minyak global melonjak lebih dari 17 persen sejak pengumuman pelepasan cadangan darurat tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi dunia masih sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik yang belum mereda.
Analis energi dari perusahaan konsultan PVM di London, Tamas Varga, mengatakan ketegangan di kawasan Teluk Persia menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak tetap tinggi. Serangan terhadap kapal tanker serta situasi keamanan di jalur pelayaran strategis membuat pasar khawatir terhadap pasokan minyak global.
Kekhawatiran terbesar saat ini terfokus pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu titik vital perdagangan minyak dunia. Jalur ini dilalui oleh sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Penutupan atau gangguan di jalur tersebut dapat langsung memicu kekacauan pasokan energi global.
Tom Liles, Wakil Presiden Senior Riset Hulu di perusahaan konsultan energi Rystad Energy, menjelaskan bahwa selama jalur pelayaran utama itu belum kembali normal, kebijakan pelepasan cadangan minyak hanya akan memberikan dampak terbatas terhadap harga.
Menurutnya, sebelum konflik memanas, empat negara produsen utama di kawasan Teluk yakni Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mengekspor sekitar 14 juta barel minyak per hari ke pasar global.
Namun dalam situasi krisis saat ini, hanya sekitar 5 hingga 6 juta barel per hari yang masih dapat dialihkan melalui jalur pipa alternatif yang berakhir di Laut Merah dan Teluk Oman.
Artinya, sekitar 9 juta barel minyak per hari atau hampir 10 persen dari pasokan minyak dunia masih bergantung pada jalur Selat Hormuz yang kini terganggu.
Jika dihitung secara sederhana, pelepasan cadangan minyak darurat sebesar 400 juta barel memang tampak sangat besar. Volume tersebut secara teori mampu menutup sekitar 40 hari pasokan minyak yang hilang dari pasar global.
Namun kenyataannya jauh lebih kompleks. Liles menegaskan bahwa pelepasan cadangan minyak tidak dapat langsung mengalir seluruhnya ke pasar dalam waktu singkat.
"Ada batasan jumlah yang dapat dilepas setiap hari. Jadi bukan berarti 400 juta barel itu langsung muncul di pasar," ujarnya.
Kondisi ini membuat dampak kebijakan tersebut menjadi terbatas dalam jangka pendek.
Analis dari perusahaan riset energi Bernstein juga menyampaikan pandangan serupa. Mereka menilai bahwa jumlah pasokan yang terganggu akibat konflik jauh lebih besar dibandingkan volume minyak yang bisa dilepas setiap hari dari cadangan darurat.
Sebagai contoh, Amerika Serikat berencana melepas 172 juta barel minyak dalam waktu 120 hari. Jika dihitung, angka tersebut hanya setara dengan sekitar 1,4 juta barel per hari.
Jumlah ini hanya mampu menutup sekitar 15 persen dari pasokan minyak yang hilang akibat gangguan di Selat Hormuz.
Selain itu, minyak dari cadangan strategis juga tidak bisa langsung tersedia di pasar. Setidaknya dibutuhkan sekitar 13 hari sejak otorisasi presiden sebelum minyak tersebut benar-benar dapat mulai mengalir ke sistem distribusi global.
Sementara itu, International Energy Agency juga belum merinci secara detail jadwal pelepasan cadangan dari negara anggota lainnya.
Setiap negara anggota IEA memiliki kebijakan sendiri dalam menentukan waktu serta volume minyak yang akan dilepas ke pasar. Hal ini membuat aliran tambahan pasokan global terjadi secara bertahap dan tidak serentak.
Sebelumnya, IEA juga pernah melakukan pelepasan cadangan darurat saat terjadi krisis energi akibat invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Saat itu, negara-negara anggota berhasil mencapai tingkat pelepasan tertinggi sekitar 1,3 juta barel per hari pada September 2022.
Berdasarkan perkiraan analis, pelepasan cadangan minyak global saat ini kemungkinan dapat mencapai sekitar 2 juta barel per hari jika seluruh negara anggota meningkatkan kapasitasnya secara maksimal.
Meski demikian, para analis menilai kebijakan ini lebih bersifat sebagai langkah sementara untuk memberi waktu bagi pasar energi dunia.
"Langkah ini memberi waktu bagi pasar untuk menyesuaikan diri, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan krisis pasokan minyak global," kata analis Bernstein.
Dengan ketegangan geopolitik yang masih berlangsung serta jalur distribusi energi yang belum sepenuhnya normal, pasar minyak dunia diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi tidak stabil dalam waktu dekat.
Jika situasi keamanan di kawasan Teluk Persia belum membaik, harga minyak global berpotensi tetap bertahan di level tinggi, bahkan berisiko kembali melonjak dalam beberapa bulan mendatang. (R-03)

