Hampir Dua Dekade Berdiri, Gedung RSUD Kepulauan Meranti Kini Dinyatakan Tidak Layak dan Berpotensi Ambruk
Bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti yang berdiri di Jalan Dorak, Desa Banglas, kini menyimpan kekhawatiran tersendiri. Gedung yang seharusnya menjadi tempat masyarakat mencari harapan kesembuhan itu justru berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Bangunan rumah sakit tersebut diketahui mulai dibangun pada tahun 2006, ketika wilayah Kepulauan Meranti masih berada di bawah administrasi Kabupaten Bengkalis. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2008, gedung itu diresmikan dan mulai difungsikan sebagai pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Namun setelah hampir dua dekade berdiri, kondisi fisik bangunan kini dinilai sudah tidak lagi layak digunakan.
Sejumlah bagian dinding terlihat mengalami keretakan cukup serius. Bahkan di beberapa titik, lapisan tembok yang mulai keropos membuat rangka besi di dalam struktur bangunan tampak terbuka.
Pemandangan itu tentu menimbulkan kekhawatiran, terutama mengingat bangunan tersebut merupakan fasilitas pelayanan publik yang setiap hari digunakan oleh tenaga medis, pasien, serta keluarga pasien.
Jika kondisi tersebut tidak segera diantisipasi melalui kebijakan yang tepat, dikhawatirkan kerusakan bangunan akan semakin parah dan berpotensi menimbulkan risiko yang lebih besar di masa mendatang.
Gedung yang terdiri dari tiga lantai itu kini berada dalam kondisi yang memerlukan perhatian serius. Kerusakan struktur yang terus terjadi membuat bangunan tersebut sewaktu-waktu berpotensi mengalami keruntuhan.
Situasi ini tentu tidak hanya menjadi persoalan infrastruktur semata, tetapi juga menyangkut keselamatan banyak orang yang setiap hari beraktivitas di dalamnya.
Karena itu, langkah antisipasi sejak dini dinilai sangat penting agar potensi risiko yang lebih besar dapat dicegah, sekaligus memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan dengan aman.
Direktur RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti, dr. Joko Santoso, mengaku pihaknya telah lebih dulu menyikapi kondisi bangunan rumah sakit yang mulai mengkhawatirkan tersebut dengan melakukan uji fungsi kelayakan bangunan.
Untuk memastikan kondisi struktur gedung secara objektif, manajemen RSUD menghadirkan tim konsultan teknis dari Konsultan Bangunan Teknik Gita Lestari, Pekanbaru, guna melakukan pemeriksaan terhadap kondisi fisik bangunan.
Hasil dari uji fungsi tersebut menunjukkan kondisi yang tidak menggembirakan.
Berdasarkan pemaparan tim konsultan, bangunan RSUD yang kini telah berusia hampir dua dekade itu dinyatakan tidak lagi memenuhi standar keamanan bangunan dan berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
“Kami sudah menyikapi persoalan ini dengan menghadirkan konsultan teknik bangunan, karena memang cukup riskan melihat kondisi bangunan seperti sekarang, apalagi kami yang berkantor di lantai tiga,” ujar Joko Santoso.
Ia menjelaskan, berdasarkan analisa teknis yang disampaikan tim konsultan, usia bangunan yang hampir mencapai 20 tahun menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi struktur gedung.
Selain itu, material bangunan yang sebagian berasal dari material laut seperti pasir dan batu juga disebut menjadi penyebab terjadinya keropos pada struktur bagian dalam bangunan.
Kondisi tersebut diperparah oleh karakteristik struktur tanah di lokasi bangunan yang turut memicu munculnya retakan pada sejumlah bagian dinding.
“Dari pemaparan tim teknis, bangunan ini usianya hampir dua puluh tahun. Materialnya sebagian menggunakan pasir dan batu dari laut sehingga menyebabkan keropos di bagian dalam, ditambah lagi dengan kondisi struktur tanah yang memicu terjadinya retakan,” jelasnya.
Atas hasil uji kelayakan tersebut, tim konsultan merekomendasikan agar dilakukan pembangunan gedung baru sebagai solusi jangka panjang untuk menjamin keamanan pelayanan kesehatan di RSUD Kepulauan Meranti.
Menurut Joko, pembangunan gedung baru perlu segera dipertimbangkan dan didorong pelaksanaannya mengingat kondisi bangunan yang terus mengalami penurunan kualitas.
Meski demikian, ia menyebutkan bahwa untuk saat ini lantai dasar bangunan masih dalam kondisi relatif baik dan masih dapat digunakan.
Namun jika dilakukan rehabilitasi pada bagian atas bangunan, terutama di lantai dua dan tiga, maka hal tersebut berpotensi mengganggu aktivitas pelayanan medis, khususnya ruang operasi yang berada di lantai dua.
“Untuk lantai dasar masih cukup bagus dan masih bisa digunakan. Tetapi jika dilakukan rehabilitasi pada lantai dua dan tiga, tentu akan mengganggu proses operasi yang berada di lantai dua,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan, pihak manajemen RSUD telah melaporkan hasil inspeksi dan rekomendasi dari tim konsultan tersebut kepada Bupati Kepulauan Meranti.
Meski demikian, terkait rencana pembangunan gedung baru, Joko mengakui hingga saat ini masih menunggu keputusan lebih lanjut mengingat kondisi keuangan daerah yang terbatas.
Karena itu, menurutnya pembangunan gedung RSUD yang baru kemungkinan besar membutuhkan dukungan dan intervensi dari pemerintah pusat agar dapat segera direalisasikan.
“Laporan hasil inspeksi sudah kami sampaikan kepada Bupati. Namun untuk rencana pembangunan tentu perlu melihat kondisi keuangan daerah, sehingga kemungkinan dibutuhkan intervensi dari pemerintah pusat,” pungkasnya.
Untuk diketahui, RSUD Kepulauan Meranti yang berada di Jalan Dorak, Desa Banglas, hingga kini masih menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan utama bagi masyarakat di kabupaten tersebut.
Fasilitas kesehatan ini selama bertahun-tahun menjadi tempat rujukan bagi sejumlah Puskesmas yang tersebar di berbagai kecamatan di Kepulauan Meranti.
Namun dengan kondisi bangunan yang kini dinilai tidak lagi layak berdasarkan hasil uji fungsi kelayakan bangunan, muncul kekhawatiran bahwa pelayanan kesehatan kepada masyarakat ke depan tidak dapat berjalan secara maksimal.
Apalagi RSUD tersebut selama ini memegang peranan penting dalam menangani pasien rujukan dengan berbagai kondisi medis.
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti sebenarnya telah menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Pratama yang berlokasi di Desa Penyagun, Kecamatan Rangsang.
Pembangunan rumah sakit tersebut merupakan salah satu proyek strategis daerah dengan nilai anggaran mencapai sekitar Rp42 miliar.
Meski bangunannya telah lama rampung, hingga saat ini rumah sakit tersebut belum dapat dioperasikan untuk melayani masyarakat.
Kendala utama yang dihadapi adalah masih menunggu proses perizinan operasional serta belum terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan yang akan bertugas di fasilitas kesehatan tersebut.
Akibatnya, rumah sakit yang diharapkan dapat membantu memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat itu hingga kini masih belum difungsikan sebagaimana mestinya. (R-01)

