Di Beranda NKRI, Festival Perang Air Tegaskan Kepulauan Meranti sebagai Ikon Budaya Nasional
Keseruan Festival Perang Air 2026 atau yang akrab dikenal sebagai Cian Cui di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Percikan air terakhir membasahi jalan-jalan protokol Selatpanjang, Sabtu sore (21/2/2026). Ember-ember mulai diturunkan, tawa perlahan mereda, dan langit kota sagu kembali cerah setelah sepekan diguyur keceriaan. Festival Perang Air 2026 atau yang akrab dikenal sebagai Cian Cui di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, resmi ditutup dalam suasana meriah dan penuh kebanggaan.
Penutupan festival budaya yang telah masuk kalender nasional ini tak kalah megah dari pembukaannya. Jika saat pembukaan dihadiri jenderal bintang satu dan dua dari jajaran Polda Riau yakni Irjen Pol. Herry Heryawan dan Brigjen Pol. Hengky Haryadi, maka pada penutupan kali ini hadir jenderal bintang tiga, yang menjabat sebagai Sekretaris Utama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, Komjen Pol. Makhruzi Rahman.
Kehadiran pejabat tinggi negara itu menjadi simbol bahwa Perang Air bukan lagi sekadar tradisi lokal, melainkan telah menjelma sebagai event strategis kawasan perbatasan yang diperhitungkan secara nasional.
Turut hadir Deputi Bidang Produksi Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsensius Jemadu, yang memberikan apresiasi atas konsistensi Kepulauan Meranti dalam menjaga dan mengemas tradisi menjadi daya tarik wisata unggulan. Hadir pula Kelompok Ahli BNPP RI Irjen Pol. (Purn) Hamidin dan Nur Kholis, perwakilan Konsulat Indonesia di Johor Bahru, serta jajaran Karo Ops dan Dirlantas Polda Riau.
Dari unsur pemerintah daerah, tampak Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar bersama Wakil Bupati Muzamil Baharuddin, Ketua DPRD Kepulauan Meranti Khalid Ali, Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi, pimpinan OPD, tokoh adat, tokoh agama, organisasi kepemudaan, hingga perwakilan masyarakat Tionghoa yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut sejarah Perang Air.
Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati lokasi acara, suasana terasa hangat. Penutupan bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan atas keberhasilan menjaga harmoni dan kebersamaan. Selama sepekan, air menjadi simbol persaudaraan yang menyatukan perbedaan dalam gelak tawa dan kebahagiaan.
Festival Perang Air 2026 kembali membuktikan dirinya sebagai panggung budaya lintas generasi dan lintas etnis. Dari anak-anak hingga orang tua, dari warga lokal hingga wisatawan mancanegara, semua larut dalam satu irama: kegembiraan yang bersih dari sekat.
Di balik kemeriahan itu, ada pesan kuat tentang Kepulauan Meranti sebagai daerah perbatasan yang tidak hanya strategis secara geografis, tetapi juga kaya secara budaya. Tradisi Cian Cui telah menegaskan bahwa identitas lokal mampu berdiri sejajar di panggung nasional.
Satu pesan yang tertinggal yakni Perang Air mungkin telah usai untuk tahun ini, tetapi semangat kebersamaan yang ditinggalkannya akan terus mengalir, sebagaimana air yang pernah membasahi kota kecil di tepian Selat Malaka itu.
Sekretaris Utama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, Komjen Pol. Makhruji Rahman, berdiri di hadapan ribuan masyarakat dengan wajah penuh kagum. Di penghujung Festival Perang Air 2026, ia menyaksikan langsung bagaimana kota kecil di beranda terdepan NKRI itu bertransformasi menjadi panggung kegembiraan yang luar biasa.
“Kota Selatpanjang hari ini telah bertransformasi menjadi panggung kegembiraan yang luar biasa. Saat ini kita berada di penghujung Festival Perang Air 2026. Saya berdiri di sini tidak hanya sebagai Sekretaris Utama BNPP RI, tetapi juga sebagai saksi betapa hebatnya potensi yang dimiliki beranda terdepan NKRI di Kepulauan Meranti yang berhadapan langsung dengan Malaysia dan Selat Malaka,” ujarnya.
Ia menyoroti momentum istimewa perayaan tersebut yang berlangsung beriringan dengan dua suasana sakral yakni Bulan Suci Ramadan bagi umat Muslim dan perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa. Menurutnya, harmoni itu adalah potret nyata Indonesia.
“Kita merayakan kegembiraan ini di bulan suci Ramadan. Di sisi lain, etnis Tionghoa juga sedang merayakan sukacita Imlek. Ini adalah harmoni yang luar biasa,” tuturnya.
Makhruji menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, aparat keamanan, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang terlibat. Ia menilai, keberhasilan festival ini menghadirkan ribuan orang dalam suasana aman dan damai merupakan bukti bahwa Meranti adalah wilayah perbatasan yang tertib, kondusif, dan ramah bagi siapa saja.
“Berkat dedikasi Bupati dan jajaran, ribuan orang datang dengan penuh sukacita, rasa aman, dan tawa. Ini bukti bahwa Meranti adalah wilayah perbatasan yang tertib dan ramah,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat menoleh ke akar tradisi Cian Cui. Menurutnya, Perang Air bukan sekadar ajang saling menyiram air, melainkan tradisi yang memiliki kedalaman filosofi—perpaduan akulturasi budaya Tionghoa dan kearifan lokal Melayu.
Festival ini, lanjutnya, lahir dari tradisi keluarga yang sederhana di halaman rumah warga Tionghoa saat merayakan Imlek, menggunakan gayung dan ember. Namun seiring waktu, tradisi itu berevolusi menjadi daya tarik wisata yang melintasi batas etnis dan agama, menyatu dengan deru becak motor khas Kepulauan Meranti.
“Sejarah mencatat bagaimana tradisi sederhana ini berevolusi secara unik. Apa yang bermula dari tradisi keluarga kini telah menjadi ikon pariwisata nasional. Kehadiran Deputi dari Kementerian Pariwisata hari ini membuktikan itu,” ujarnya.
Bagi pria asal Singkawang tersebut, Kepulauan Meranti bukan sekadar titik di peta. Ia adalah halaman depan rumah besar bernama Indonesia. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan berada di jalur strategis Selat Malaka serta dekat dengan Singapura memberi nilai geopolitik tersendiri bagi setiap event yang digelar.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan tiga pesan penting.
Pertama, perbatasan sebagai simbol harmoni. Dunia harus melihat bahwa di titik terluar Indonesia, perbedaan etnis, budaya, dan agama bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan bersama. Festival yang berakar dari tradisi Tionghoa kini telah menjadi milik seluruh elemen masyarakat baik Melayu, Jawa, Bugis, dan lainnya.
Kedua, kedaulatan ekonomi di daerah pinggiran. Ia berharap festival ini terus mendorong pertumbuhan UMKM lokal, termasuk pengembangan kuliner berbahan dasar sagu yang merupakan komoditas unggulan Meranti yang dikenal sebagai salah satu penghasil sagu terbesar di dunia.
Ketiga, peningkatan konektivitas dan pelayanan. BNPP berkomitmen mendorong perbaikan infrastruktur di wilayah perbatasan agar akses menuju Kepulauan Meranti semakin baik dan berkelanjutan. Ia bahkan menyampaikan harapan agar ke depan dapat dibangun bandara perintis untuk memperkuat konektivitas daerah.
Selain itu, pihaknya akan berkoordinasi lintas kementerian seperti Perhubungan, Imigrasi, dan Bea Cukai agar arus wisatawan yang masuk dapat terlayani optimal. Ia juga menggagas pembangunan Pos Lintas Batas Regional sebagai cikal bakal Pos Lintas Batas Negara (PLBN), yang akan dimasukkan dalam rencana detail tata ruang kawasan perbatasan.
“Saya berterima kasih kepada Pemkab Kepulauan Meranti yang telah mengemas tradisi ini menjadi aset nasional yang prestisius. Mari terus kita jaga keasrian dan kebersihan kota agar para tamu membawa cerita indah tentang keramahan masyarakat Kepulauan Meranti,” ungkapnya.
Di tengah tepuk tangan yang menggema, pesan itu terasa lebih dari sekadar pidato. Ia adalah pengakuan bahwa di tepi Selat Malaka, sebuah tradisi sederhana telah menjelma menjadi simbol harmoni, kekuatan ekonomi, dan kebanggaan perbatasan Indonesia.
Riuh tepuk tangan belum sepenuhnya reda ketika Deputi Bidang Produksi Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsensius Jemadu, berdiri menyampaikan sambutannya pada penutupan Festival Perang Air 2026 di Selatpanjang. Dengan nada santai namun penuh penekanan, ia membuka pidato dengan apresiasi khusus kepada tamu kehormatan yang hadir.
“Terima kasih Pak Jenderal. Ini jarang-jarang loh. Saya punya ratusan event berkelas di seluruh Indonesia, jarang dihadiri pejabat bintang tiga. Ini suatu kehormatan besar bagi Kepulauan Meranti. Luar biasa,” ujarnya, merujuk pada kehadiran Sekretaris Utama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, Komjen Pol. Makhruzi Rahman.
Menurutnya, kehadiran pejabat tinggi negara di sebuah festival daerah adalah sinyal kuat bahwa Perang Air atau Cian Cui bukan lagi sekadar pesta rakyat, tetapi telah naik kelas menjadi panggung nasional yang diperhitungkan.
Di tengah sambutan itu, Vinsensius juga menyapa sosok pengusaha asal Kepulauan Meranti yang dinilainya memiliki kontribusi besar bagi pariwisata Indonesia. Ia memanggilnya dengan sebutan khas anak kampung.
“Saya panggil pengusaha Akamsi, anak kampung sini. Saya sapa secara khusus Lamtono atau akrab disapa Ase, yang telah banyak berinvestasi di berbagai daerah di Indonesia dan sejak awal memperkenalkan daerah ini. Saya mengajak beliau untuk berinvestasi di sini,” ucapnya.
Nama Ase, menurut Vinsensius, bukanlah sosok sembarangan. Ia telah dikenal selama lebih dari satu dekade sebagai pelaku industri yang merintis penerbangan carter dari Tiongkok ke Indonesia. Bahkan baru-baru ini, turut meluncurkan carter penerbangan dari Jakarta ke Luwuk serta dari Guangzhou ke Palu.
“Jangan sampai bantu daerah lain, Meranti tidak dibantu. Saya mengajak beliau berinvestasi dan membangun hotel di Kepulauan Meranti,” katanya disambut tepuk tangan.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Perang Air tidak berdiri sendiri dalam peta nasional. Dari hampir 1.000 event di seluruh Indonesia yang bersaing, dan dari 38 provinsi yang berlomba-lomba mengusulkan kegiatan terbaiknya, Kepulauan Meranti berhasil menembus kurasi nasional.
“Alhamdulillah, Perang Air menjadi salah satu yang lolos kurasi. Dan perlu saya garis bawahi, kurasi ini bukan dilakukan oleh Kementerian Pariwisata, tetapi oleh kurator profesional independen—akademisi, ahli marketing, ahli keuangan, dan ahli event. Tidak ada campur tangan pemerintah. Patut kita bangga, Perang Air masuk dalam 125 event Karisma Event Nusantara,” ungkapnya.
Masuk dalam daftar 125 event Karisma Event Nusantara (KEN) bukan perkara mudah. Semua gubernur dan bupati di Indonesia ingin event daerahnya masuk dalam daftar tersebut. Sebab, ketika sebuah event terkurasi KEN, promosi nasional akan berjalan otomatis, menempatkan daerah itu sejajar dengan kota-kota besar yang telah memiliki reputasi event kelas nasional.
Namun, ia mengingatkan bahwa masuk KEN hanyalah awal. Tantangan terbesarnya adalah mempertahankan standar.
“Pesan dari Menteri Pariwisata, mari kita rawat event ini. Mari berkolaborasi dan bersinergi agar event ini berkesinambungan, tidak hanya seremonial, tetapi benar-benar memberi dampak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh pihak melakukan evaluasi bersama. Karena, menurutnya, banyak event nasional yang hanya sekali atau dua kali masuk KEN, lalu gagal mempertahankan konsistensi standar penyelenggaraan.
“Keterlibatan UMKM, komoditas lokal, dan masyarakat sangat penting. Event ini harus menjadi milik masyarakat, bukan sekadar panggung pertunjukan,” ucapnya.
Sebagai gambaran, ia menyebut capaian nasional tahun sebelumnya. Dari 110 event KEN yang digelar, tercatat 13,3 juta pengunjung dengan dampak ekonomi langsung mencapai Rp17,1 triliun dan dampak tidak langsung Rp20,23 triliun. Angka itu menunjukkan bahwa event bukan sekadar keramaian, tetapi instrumen nyata penggerak ekonomi daerah.
Di penghujung sambutannya, Vinsensius menatap jauh ke arah perairan Selat Malaka. Ia menyampaikan harapan agar Festival Perang Air tak hanya bertahan, tetapi naik kelas.
“Mari kita jaga event ini. Semoga tahun depan masuk lagi, bahkan naik menjadi event internasional. Ini wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Potensinya sangat besar. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan event perbatasan di Kepulauan Meranti,” pungkasnya.
Di antara percik air yang telah mengering dan lampion yang masih menyala, pesan itu terasa jelas bahwa Cian Cui bukan hanya kebanggaan lokal, tetapi peluang strategis. Jika dirawat dengan konsistensi dan kolaborasi, dari tepi Selat Malaka inilah Meranti dapat berbicara lebih lantang ke panggung dunia.
Sementara itu dalam sambutannya, Bupati Asmar menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan festival budaya tahunan tersebut.
“Terima kasih kepada panitia, relawan, aparat keamanan, dan seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi dengan penuh antusias. Tanpa kebersamaan, acara ini tidak akan berjalan seindah hari ini,” ujar Asmar.
Ia berharap semangat persatuan yang tercermin dalam festival dapat terus terjaga.
“Semoga semangat kebersamaan ini terus mengalir seperti air yang tak pernah berhenti, membawa kesejukan dan kedamaian bagi daerah kita tercinta,” tambahnya.
Bupati juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan kota dengan melakukan kerja bakti setelah kegiatan berakhir agar Selatpanjang tetap bersih dan asri. (Adv)

