15.963 Orang Padati Selatpanjang, Home Coming Imlek 2026 Dongkrak Denyut Ekonomi Kota Sagu
Festival Perang Air di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Kunjungan Imlek ke Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti pada Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili 2026 kembali menjanjikan pengalaman budaya yang unik dan tak terlupakan. Puncaknya adalah Festival Perang Air yang digelar selama sepekan, dari 17 hingga 22 Februari 2026. Tradisi khas yang telah mendunia ini bahkan telah masuk dalam kalender pariwisata nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, menegaskan posisinya sebagai salah satu event budaya unggulan Indonesia.
Perang Air atau Cian Cui bukan sekadar tradisi saling menyiram air. Ia telah menjelma menjadi atraksi budaya yang memikat dan identitas khas Kota Selatpanjang. Konvoi becak motor yang menjadi ikon transportasi unik daerah pesisir ini bergerak perlahan menyusuri jalan protokol. Di atasnya, beberapa orang berdiri membawa ember dan pistol air. Dari ketinggian becak, air disiramkan ke arah warga dan pengunjung yang telah bersiap di pinggir jalan. Tak ada amarah, yang ada hanya tawa dan teriakan riang. Air menjadi bahasa universal kegembiraan.
Suasana kota pun berubah total. Jalan-jalan utama dipadati warga lokal, perantau yang pulang kampung, hingga wisatawan domestik dan mancanegara yang penasaran ingin merasakan langsung sensasi festival ini. Basah kuyup bukan lagi gangguan, melainkan bagian dari cerita yang justru dinanti dan dirindukan setiap tahun.
Tak hanya perang air yang menjadi magnet. Imlek di Selatpanjang juga diramaikan bazar kuliner dengan aneka hidangan khas Tionghoa dan Melayu pesisir ditambahkan dengan Bazar Ramadhan serta night carnival yang menampilkan parade kostum, barongsai, dan pertunjukan seni peranakan. Rangkaian perayaan ini disebut-sebut sebagai salah satu perayaan Imlek terbesar di Indonesia, menghadirkan perpaduan tradisi, hiburan, dan pariwisata dalam satu momentum.
Saat malam tiba, suasana berubah menjadi magis. Ribuan lampion dan lampu hias menghiasi sudut-sudut kota. Warna merah mendominasi, berpadu dengan kuning keemasan dan ornamen khas Tionghoa yang tergantung rapi di atas jalan. Cahaya lampion memantul di aspal yang masih basah oleh siraman air siang tadi, menciptakan panorama yang memikat setiap mata yang memandang.
Festival Lampion sendiri telah menjadi agenda pariwisata budaya tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Ribuan lampion berwarna-warni dipasang di berbagai ruas jalan utama dan sudut kota, menjadikan Selatpanjang lautan cahaya setiap malam selama perayaan berlangsung.
Bagi diaspora Tionghoa di Kepulauan Meranti, Imlek bukan sekadar perayaan tahun baru. Ia adalah momentum spiritual dan emosional. Ini bukan hanya tentang pulang kampung, tetapi tentang nostalgia dan kebanggaan yang bertemu dalam satu waktu. Banyak diaspora yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Karimun hingga Singapura memanfaatkan momen ini untuk kembali ke tanah kelahiran, mengunjungi sanak famili, serta mempererat ikatan keluarga yang tak lekang oleh jarak dan waktu.
Imlek dan Cap Go Meh selalu membawa denyut ekonomi tersendiri. Barongsai, atraksi budaya peranakan, pasar malam, hingga tradisi belanja menjadikan periode ini salah satu momen perputaran ekonomi terbesar sepanjang tahun di Selatpanjang.
Jika Imlek dan seluruh rangkaian perayaan budaya ini dikelola dalam satu kerangka besar seperti “Meranti Reunion Festival”, maka Kepulauan Meranti berpeluang menjadi model “Home Coming Tourism” paling menarik di Riau. Sebuah konsep pariwisata yang tidak bergantung pada resor mewah atau atraksi mahal, melainkan bertumpu pada sesuatu yang jauh lebih kuat yakni kerinduan, akar budaya, dan ikatan emosional antara masyarakat dengan kampung halamannya.
Di Selatpanjang, Imlek bukan hanya dirayakan. Ia dirasakan, dalam percikan air, cahaya lampion, aroma kuliner, dan pelukan hangat keluarga yang akhirnya kembali berkumpul.
Event home coming bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah aset ekonomi yang tumbuh dari budaya, diperkuat oleh ikatan keluarga, dan menghidupkan denyut lokal tanpa memerlukan investasi raksasa. Kota Selatpanjang membuktikan hal itu. Dengan kebijakan yang terarah, festival-festival seperti Imlek dan Perang Air dapat menjelma menjadi sumber daya unggulan Kabupaten Kepulauan Meranti yang menggerakkan ekonomi sekaligus mempertegas identitas daerah.
Fenomena di kota sagu ini menunjukkan bahwa ekonomi daerah tak selalu harus bertumpu pada APBD besar atau megaproyek infrastruktur. Ada kekuatan lain yang tak kalah dahsyat, yakni ekonomi berbasis budaya dan nostalgia. Ketika diaspora pulang, mereka membawa lebih dari sekadar koper dan oleh-oleh. Mereka membawa daya beli, semangat, dan energi positif bagi pelaku usaha lokal. Perputaran uang meningkat, peluang usaha terbuka, dan rasa percaya diri masyarakat ikut terangkat.
Menariknya, gelombang pulang kampung seperti ini bukan kejadian tunggal. Meranti memiliki sedikitnya tiga momentum home coming besar yang telah hidup puluhan tahun dan berpotensi dioptimalkan sebagai mesin ekonomi daerah.
Dampak perayaan Imlek dan Festival Perang Air terasa nyata. Dari sisi budaya, ia memperkuat identitas dan harmoni masyarakat multietnis. Dari sisi ekonomi, efeknya merambat cepat. Tukang becak kebanjiran penumpang, pelaku UMKM laris manis, hotel dan penginapan penuh, hingga sektor transportasi dan perdagangan ikut merasakan berkahnya.
Di balik basahnya pakaian dan gemerlap lampion, ada denyut ekonomi yang bergerak stabil. Imlek di Selatpanjang bukan hanya tentang pergantian tahun, tetapi tentang bagaimana tradisi lokal mampu naik kelas menjadi panggung budaya nasional, bahkan dunia.
Deru mesin kapal cepat bersahut-sahutan di perairan Selatpanjang. Satu per satu penumpang turun membawa koper, kardus oleh-oleh, hingga tas besar berisi harapan untuk merayakan Imlek bersama keluarga. Sejak H-7 atau tepatnya 10 Februari 2026, arus kedatangan di Pelabuhan Tanjung Harapan—pintu gerbang utama Kota Selatpanjang—meningkat tajam.
Belasan ribu penumpang memadati pelabuhan jelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili 2026. Wajah-wajah penuh rindu tampak di antara kerumunan para perantau Tionghoa yang pulang kampung bercampur wisatawan yang ingin menyaksikan kemeriahan Festival Perang Air.
Data dari KSOP Kelas IV Selatpanjang menunjukkan lonjakan signifikan. Pada H-7 tercatat 942 penumpang turun. H-6 sebanyak 921 orang, H-5 mencapai 1.067 orang, dan H-4 melonjak menjadi 1.584 orang. Memasuki H-3, angka kedatangan menembus 2.269 orang, lalu memuncak pada H-2 dengan 3.100 orang. Pada H-1 tercatat 1.724 penumpang tiba.
Di hari H, 17 Februari 2026, sebanyak 1.500 penumpang datang. H+1 tercatat 1.203 orang dan H+2 sebanyak 1.653 orang. Total kedatangan sejak H-7 hingga H+2 mencapai 15.963 orang.
Dari angka tersebut, tercatat sebanyak 87 WNA tiba melalui Pelabuhan Internasional Tanjung Harapan. Dari total tersebut, 86 orang merupakan warga negara Malaysia dan 1 orang berasal dari Bangladesh.
Momentum Imlek di Selatpanjang memang selalu menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia yang memiliki kedekatan geografis dan historis dengan Kepulauan Meranti.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Selatpanjang, Dendi Surya Agung Nugraha, melalui Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Ibrahim Darussalam Siregar, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengawasan menyeluruh terhadap seluruh WNA yang datang selama momentum perayaan.
"Pengawasan dilakukan sejak kedatangan di Pelabuhan Internasional Tanjung Harapan. Tim Intelijen dan Penindakan Keimigrasian juga berkoordinasi dengan pihak penginapan serta melakukan pemantauan saat pelaksanaan Imlek dan Festival Perang Air, hingga para WNA tersebut meninggalkan Selatpanjang," ujar Ibrahim kepada wartawan.
Angka ini memang sedikit berbeda dibanding periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 17.440 orang, namun tetap menunjukkan antusiasme tinggi untuk kembali ke kampung halaman atau berwisata ke Selatpanjang.
Kepala KSOP Kelas IV Selatpanjang, Derita Adi Prasetyo, melalui petugas Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhan, Ade Kurniawan, menyebut lonjakan tersebut jauh melampaui hari biasa.
“Biasanya jumlah penumpang sekitar 1.000 orang per hari. Namun sejak beberapa hari terakhir, baik kedatangan maupun keberangkatan meningkat signifikan jelang perayaan Imlek,” ujarnya.
Lonjakan ini menjadi denyut awal bangkitnya ekonomi daerah. Transportasi laut bergerak lebih sibuk, penginapan mulai penuh, rumah makan kebanjiran pelanggan, dan pelaku UMKM bersiap menghadapi lonjakan permintaan.
Riuh Imlek tak hanya terasa di jalanan. Sektor perhotelan ikut mengalami lonjakan luar biasa. Bahkan dua pekan sebelum puncak perayaan, kamar-kamar hotel di Selatpanjang telah habis dipesan.
Mulai dari Grand Meranti Hotel, Indo Baru Hotel, Red 9 Hotel, Furama Hotel, Lily Hotel, AKA Hotel, hingga Diva Hotel, seluruhnya penuh. Hotel kelas melati pun tak menyisakan kamar kosong.
Ketua BPC PHRI Kepulauan Meranti, Raden Ulun Permadi Salis atau akrab disapa Uyung mengungkapkan total kamar hotel dan penginapan yang tercatat di Kota Selatpanjang berjumlah 406 kamar, dan seluruhnya telah terisi.
“Semua kamar hotel dan penginapan di Kota Selatpanjang sudah full booking sejak tanggal 17 sampai 22 Februari,” ujarnya.
Lonjakan okupansi ini bukan sekadar angka. Ia adalah cermin betapa kuatnya daya tarik budaya ketika dikemas dengan baik. Selatpanjang menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi bisa lahir dari kerinduan. Dari pelabuhan yang ramai, hotel yang penuh, hingga UMKM yang tersenyum—semuanya bergerak dalam satu irama yakni pulang kampung.
Di negeri sagu ini, nostalgia bukan hanya cerita lama. Ia adalah mesin ekonomi yang terus berputar. (R-03)

