MUI Ingatkan Tak Perlu Aksi Sweeping di Bulan Ramadan
Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyebut bahwa tak perlu ada tindakan penyisiran (sweeping) saat Ramadhan. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyebut bahwa tak perlu ada tindakan penyisiran (sweeping) saat Ramadhan.
Dia menyampaikan bahwa pemerintah diharapkan sudah memberikan pengertian kepada masyarakat terkait sikap saling menghormati.
“Saya rasa tidak perlu ada sweeping-sweeping-an, karena pemerintah sebelum puasa kita harapkan sudah mensosialisasikan dan memberi pengertian kepada rakyat dan masyarakat luas tentang perlunya ada sikap saling hormat-menghormati agama dan kepercayaan serta ibadah dari agama lain,” kata Anwar kepada media, Selasa (17/2/2026).
Umat yang menjalankan ibadah tidak perlu merasa terganggu
Lebih jauh, Anwar meminta pemerintah diharapkan bisa hadir dalam mendukung sikap saling hormat antar umat beragama tersebut.
Dengan begitu, menurut dia, umat yang menjalankan ibadah puasa tidak perlu merasa terganggu.
“Umat dari kalangan yang akan melaksanakan ibadah tersebut tentu tidak usah merasa terganggu karena pemerintah sudah hadir untuk menjaga dan memelihara situsasi yang ada, sehingga umat dari agama yang akan melaksanakan ibadah dapat beribadah dengan baik, khusyu, dan tenang,” ucap Anwar.
Dia menilai, umat Islam tidak perlu melakukan sweeping karena pemerintah telah menjamin hadirnya kekondusifan selama bulan Ramadhan.
Pemerintah diharapkan bisa mengatur situasi dan keadaan yang ada, sehingga diharapkan umat Islam akan bisa melaksanakan ibadahnya dengan baik dan lancar.
“Karena berkat usaha pemerintah bersama para pemeluk agama yang ada, sudah ada kesamaan sikap untuk saling hormat-menghormati,” ujar Anwar.
Larangan sweeping oleh Pramono Anung
Sebelumnya, Gubernur Jakarta Pramono Anung menegaskan tidak mengizinkan ormas untuk sweeping ke rumah makan selama bukan suci Ramadhan.
Kebijakan itu ditegaskan demi menjaga ketertiban umum serta menciptakan suasana ibadah yang aman dan damai bagi seluruh warga.
Dengan begitu, warga Jakarta dapat menyambut Ramadhan dengan penuh toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
"Tentunya saya sebagai gubernur bertanggung jawab untuk itu dan saya tidak mengizinkan untuk ada sweeping," kata Pramono dikutip dari media, Sabtu (14/2/2026).
Selain itu, Pramono juga menyampaikan komitmennya untuk menata wajah Jakarta agar selaras dengan momentum hari besar keagamaan. Penyesuaian tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman warga Jakarta.
Dia menyebut, ketika memasuki Ramadhan, ornamen-ornamen yang identik dengan Islam akan menghiasi berbagai sudut kota. Persiapan ini dilakukan secara matang mengingat mayoritas penduduk Jakarta beragama Islam.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta juga sejumlah agenda kegiatan besar yang akan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk ormas.
Pramono berencana mengusulkan haul ulama besar serta tokoh-tokoh nasional Betawi yang rencananya dipusatkan di kawasan Monas.
Lalu, ada rencana pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat provinsi dengan pendekatan baru yang lebih inklusif.
"Termasuk MTQ yang sekarang ini hanya pada level provinsi kami mulai kembali dari bawah dari akarnya untuk memberikan kesempatan itu," beber Pramono.(R-04)

