Daftar 49 Manusia dengan IQ Tertinggi di Dunia, Ada Ratu Cleopatra
William Shakespeare (Inggris) – IQ 210 (estimasi): dramawan legendaris. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Kecerdasan bukanlah sesuatu yang mudah diukur secara pasti. Meski demikian, berbagai tes intelligence quotient (IQ) berupaya menerjemahkan kemampuan berpikir manusia ke dalam angka, sehingga tingkat kecerdasan dapat dibandingkan secara kuantitatif.
Dilansir dari Reader’s Digest (22/10/2024), skor IQ rata-rata berada di angka 100. Sementara itu, skor 140 ke atas umumnya dikategorikan sebagai tingkat jenius.
Hingga kini memang belum ada standar tunggal dalam pengukuran IQ. Beberapa instrumen yang paling sering digunakan antara lain Wechsler Adult Intelligence Scale, Stanford-Binet Intelligence Scale, dan Peabody Individual Achievement Test.
Tes-tes tersebut umumnya menilai kemampuan penalaran logis dan pemecahan masalah. Padahal, kecerdasan manusia sesungguhnya mencakup banyak dimensi lain, seperti kecerdasan emosional, musikal, visual-spasial, naturalistik, hingga linguistik-verbal.
Karena itu, skor IQ perlu disikapi secara hati-hati. Sejak diperkenalkan pada 1905, tes IQ modern kerap menuai kontroversi, mulai dari persoalan bias budaya hingga perbedaan metode interpretasi.
Bahkan, skor IQ tokoh sebelum abad ke-20 sebagian besar hanya berupa estimasi. Meski demikian, daftar individu dengan IQ tertinggi tetap menarik perhatian publik karena dianggap mewakili puncak kapasitas intelektual manusia.
Daftar orang dengan IQ tertinggi di dunia
Deretan tokoh dengan skor IQ tertinggi di dunia kerap menarik perhatian karena dianggap mewakili puncak kapasitas intelektual manusia. Meski angka IQ bukan satu-satunya ukuran kecerdasan, berikut ini deretan 49 orang dengan IQ tertinggi di dunia.
- Young Hoon Kim (Korea Selatan) – IQ 276: diklaim Giga Society sebagai pemilik IQ tertinggi, penasihat kompetisi kecerdasan dunia.
- Marnen Laibow-Koser (AS) – IQ 268: anak ajaib musik, komposer dan lulusan New England Conservatory.
- Ainan Cawley (Singapura/Irlandia) – IQ 263: polimatik, kuliah kimia sebelum usia 10 tahun.
- William James Sidis (AS) – IQ 250–300: masuk Harvard usia 11 tahun, jenius matematika kontroversial.
- Terence Tao (Australia-AS) – IQ 225–230: “Mozart Matematika”, peraih Fields Medal.
- Marilyn vos Savant (AS) – IQ 228: pernah tercatat di Guinness, penulis kolom “Ask Marilyn”.
- Christopher Hirata (AS) – IQ 225: fisikawan, doktor Princeton, profesor astrofisika.
- Johann Wolfgang von Goethe (Jerman) – IQ 210–225: sastrawan dan ilmuwan lintas disiplin.
- Kim Ung-Yong (Korea Selatan) – IQ 210: mantan anak ajaib, insinyur sipil.
- William Shakespeare (Inggris) – IQ 210 (estimasi): dramawan legendaris.
- Edith Stern (AS) – IQ 200+: doktor matematika, eks peneliti IBM.
- Michael Grost (AS) – IQ 200+: matematikawan dan penulis.
- Dylan Jones (AS) – IQ 200+: kuliah sains usia 11 tahun.
- Sho Yano (AS) – IQ 200: dokter dan ahli neurologi anak.
- Nathan Leopold (AS) – IQ 200–220: dikenal karena kasus kriminal 1924.
- Thomas Wolsey (Inggris) – IQ 200: kardinal dan negarawan era Tudor.
- Evangelos Katsioulis (Yunani) – IQ 198–205: psikiater, pendiri World Intelligence Network.
- Christopher Michael Langan (AS) – IQ 195: penggagas teori CTMU.
- Rick Rosner (AS) – IQ 192–198: penulis TV dan peserta kuis kontroversial.
- Garry Kasparov (Rusia) – IQ 190-an: juara dunia catur termuda.
- Michael Kearney (AS) – IQ 190-an: lulusan sarjana usia 10 tahun.
- Voltaire (Prancis) – IQ 190–200: filsuf dan satiris Pencerahan.
- Isaac Newton (Inggris) – IQ 190–200: perumus hukum gravitasi.
- Srinivasa Ramanujan (India) – IQ 185: matematikawan teori bilangan.
- Adragon De Mello (AS) – IQ 185: lulusan matematika usia 11 tahun.
- Hugo Grotius (Belanda) – IQ 185–190: Bapak Hukum Internasional.
- Gottfried Wilhelm Leibniz (Jerman) – IQ 185–190: pengembang kalkulus.
- John Stuart Mill (Inggris) – IQ 180–190: filsuf dan ekonom liberal.
- Leonardo da Vinci (Italia) – IQ 180–220 (estimasi): seniman dan ilmuwan Renaisans.
- Marie Curie (Polandia-Prancis) – IQ 180–200: peraih dua Nobel.
- Blaise Pascal (Prancis) – IQ 180–195: matematikawan dan penemu kalkulator awal.
- Cleopatra (Mesir) – IQ 180 (estimasi): ratu multibahasa dan diplomat ulung.
- James Woods (AS) – IQ 180: aktor lulusan MIT.
- Hypatia (Yunani-Mesir) – IQ 170–210 (estimasi): filsuf dan matematikawan kuno.
- Ophelia Morgan (Inggris) – IQ 171: anggota Mensa sejak balita.
- John H. Sununu (AS) – IQ 176: politisi dan insinyur MIT.
- Jacob Barnett (AS) – IQ 170: fisikawan teoretis dengan autisme.
- Judit Polgar (Hungaria) – IQ 170: grandmaster catur wanita terbaik.
- John Quincy Adams (AS) – IQ 165–175: presiden AS ke-6.
- Samuel Taylor Coleridge (Inggris) – IQ 165–175: penyair Romantis.
- Fabiola Mann (Inggris) – IQ 162: dokter lulusan Imperial College.
- Adhara Pérez (Meksiko) – IQ 162: duta STEM dan mahasiswa muda.
- Ramarni Wilfred (Inggris) – IQ 162: lulusan Oxford, peneliti muda.
- Nikola Tesla (Serbia-AS) – IQ 160–310 (estimasi): pelopor arus bolak-balik.
- Rene Descartes (Prancis) – IQ 160–180: filsuf pencetus adagium “Cogito ergo sum” (aku berpikir, maka aku ada).
- Ada Lovelace (Inggris) – IQ 160 (estimasi): pelopor pemrograman komputer.
- Stephen Hawking (Inggris) – IQ 160 (perkiraan): kosmolog dan penulis sains.
- Nicolaus Copernicus (Polandia) – IQ 160: penggagas teori heliosentris.
- Albert Einstein (Jerman-AS) – IQ 160 (perkiraan): perumus teori relativitas.
Perkembangan pengukuran IQ dan kontroversinya Dilansir dari EBSCO, Konsep pengukuran kecerdasan terus berkembang dari masa ke masa.
Jika pada awalnya penilaian lebih menitikberatkan pada ciri-ciri fisik, kini metode modern mengandalkan beragam tugas kognitif untuk menilai kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan bernalar.
Di dunia pendidikan, tes IQ kerap dipakai untuk mengidentifikasi siswa dengan kebutuhan khusus sekaligus menjadi dasar penyusunan program belajar yang sesuai.
Sementara itu, di lingkungan kerja, hasil tes ini juga digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam proses rekrutmen dan promosi jabatan karena dinilai memiliki hubungan dengan performa kerja.
Meski begitu, penggunaan tes IQ tidak lepas dari kritik. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya potensi bias budaya dan latar belakang sosial-ekonomi, sehingga memunculkan perdebatan tentang keadilan serta akurasi tes dalam merepresentasikan kemampuan seseorang.
Seiring berkembangnya pemahaman tentang kecerdasan, banyak kalangan kini lebih memilih istilah “kemampuan kognitif” untuk menggambarkan kompleksitas intelektual manusia. Istilah ini dianggap lebih mencerminkan bahwa kecerdasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan dan pengalaman hidup. (R-03)

