"Tentang Rasa" Tumbuh Pesat dan Perluas Sayap Jadi Etalase Utama Produk UMKM Meranti, Kini Omzet Miliaran Rupiah
Toko Kuliner di Kepulauan Meranti "Tentang Rasa" di Banglas dan Alah Air. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di tengah denyut kehidupan Kota Selatpanjang, ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti yang terus bergerak, sebuah ruang kecil bernama “Tentang Rasa” tumbuh menjadi lebih dari sekadar tempat menjual makanan. Ia menjelma sebagai perjumpaan rasa, cerita, dan harapan para pelaku usaha lokal.
Berawal dari sebuah toko di Jalan Banglas, Kelurahan Selatpanjang Timur, Kecamatan Tebingtinggi, “Tentang Rasa” resmi melakukan grand opening pada 11 November 2025 lalu. Tempat ini hadir sebagai etalase kuliner dan jajanan lokal Kepulauan Meranti, menawarkan cita rasa daerah yang akrab di lidah, namun sarat makna bagi mereka yang menggantungkan hidup pada usaha kecil dan menengah.
Waktu berjalan cepat. Empat puluh sembilan hari setelah peresmian perdananya, semangat itu tak surut dan justru semakin menguat. Pasangan suami istri Husnuzon dan Viola Natassa, sosok di balik lahirnya “Tentang Rasa”, kembali melangkah lebih jauh dengan membuka cabang baru yang berlokasi di Jalan Alah Air. Tempat kedua ini resmi beroperasi pada 30 Desember 2025, menandai babak baru perjalanan mereka dalam merawat rasa dan memberdayakan sesama.
Kini, “Tentang Rasa” menjadi rumah bagi ribuan produk UMKM daerah. Di dalamnya, aroma khas sagu, kopi lokal, dan rempah Nusantara berpadu dalam satu ruang yang hangat dan bersahabat. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang dapur-dapur kecil, tangan-tangan ulet, dan mimpi sederhana yang ingin bertahan di tengah arus zaman.
Tempat ini tak sekadar menjajakan produk. Ia menyuguhkan kisah perjuangan dan semangat kolaborasi yang tumbuh dari kebersamaan. Kehadiran “Tentang Rasa” menjadi langkah baru yang memberi warna dalam geliat ekonomi kreatif Kepulauan Meranti—sebuah ikhtiar nyata untuk memperkuat ekonomi lokal dari akar rumput.
Di tengah dinamika kota kecil Selatpanjang, “Tentang Rasa” hadir sebagai ruang kuliner yang menjual lebih dari sekadar rasa. Ia menjual cerita -cerita tentang daerah, tentang orang-orangnya, dan tentang keyakinan bahwa usaha bersama mampu menciptakan perubahan.
Dengan mengusung motto “Kolaborasi untuk Tumbuh Kembang Bersama UMKM Meranti”, “Tentang Rasa” membuka pintu lebar bagi para pelaku UMKM untuk menitipkan dan memasarkan hasil olahan mereka. Setiap produk yang terpajang di etalase bukan hanya barang dagangan, melainkan simbol perjuangan, harapan, dan cinta terhadap tanah kelahiran.
Langkah ini menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah kekuatan. Melalui “Tentang Rasa”, potensi kuliner lokal Kepulauan Meranti menemukan panggungnya sendiri untuk memperkenalkan cita rasa daerah ke lebih banyak lidah, sekaligus membawa semangat kolaborasi dalam setiap sajian yang dihidangkan.
Di balik etalase yang dipenuhi aneka kuliner lokal, ada yang bekerja dalam diam namun penuh keyakinan. Husnuzon dan Viola Natassa, pasangan suami istri yang menjadi owner “Tentang Rasa”, bukan sekadar pebisnis yang mengejar keuntungan. Mereka adalah penggerak perubahan kecil yang tumbuh dari niat sederhana dengan memberi ruang bagi UMKM lokal untuk bertahan dan berkembang.
Dengan mimpi yang mereka rajut bersama, ratusan produk kuliner dan hasil olahan UMKM kini terpajang rapi di toko yang dibangun dengan cinta dan kerja keras. Setiap produk bukan hanya hasil olahan, melainkan jejak perjuangan para pelaku usaha kecil yang selama ini mencari tempat untuk dikenal.
Bagi Viola Natassa, kehadiran “Tentang Rasa” jauh melampaui urusan bisnis. Tempat ini lahir dari niat baik untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan, dimulai dari langkah-langkah kecil yang nyata.
“Hadirnya kita memang untuk membantu UMKM, itu salah satu niatnya. Dari hal kecil dulu untuk membangkitkan perekonomian masyarakat. Kalau belum bisa dari hal besar, setidaknya kita mulai dari kecil terlebih dahulu,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.
Semangat itulah yang membuat “Tentang Rasa” menjelma menjadi lebih dari sekadar toko kuliner. Ia tumbuh sebagai wadah pembelajaran, ruang kolaborasi, sekaligus simbol optimisme bahwa ekonomi lokal dapat berkembang dari akar yang sederhana—asal dirawat dengan rasa, ketekunan, dan keikhlasan.
Di gerai “Tentang Rasa” yang berlokasi di Jalan Banglas, geliat itu terlihat nyata. Hingga kini, tercatat 240 mitra UMKM telah bergabung dengan 1.329 jenis produk yang beragam. Dalam kurun waktu 20 hari, sebanyak 51.454 produk berhasil terjual.
Angka-angka tersebut bukan sekadar data, melainkan cerminan besarnya antusiasme masyarakat Kepulauan Meranti terhadap wadah baru yang memberi ruang bagi cita rasa lokal untuk bersinar dan dikenal lebih luas.
Menariknya, dalam mengelola perhitungan omzet dan arus produk, Husnuzon dan Viola tak hanya mengandalkan cara konvensional. Mereka menggandeng programmer anak lokal untuk menciptakan sebuah aplikasi khusus yang membantu proses pencatatan dan transparansi usaha.
“Saat ini ‘Tentang Rasa’ yang berada di Jalan Banglas sudah ada sebanyak 240 mitra UMKM dengan 1.329 jenis produk. Dalam penghitungan, ada lebih dari 50 ribu produk terjual yang diinput melalui aplikasi karya anak lokal. Setiap 20 hari omzetnya mencapai Rp 700 juta dan jika dikalkulasikan sebulan bisa mencapai estimasi Rp 1 miliar. Untuk satu produk, omzet terkecil ada sekitar Rp 8,9 juta, Rp 21 juta, bahkan ada yang mencapai Rp 30 juta,” jelas Viola.
Dari sebuah niat sederhana, “Tentang Rasa” kini tumbuh menjadi denyut baru perekonomian lokal. Ia membuktikan bahwa ketika kolaborasi, kepercayaan, dan cinta pada daerah disatukan, maka usaha kecil pun mampu memberi dampak besar dan bukan hanya bagi pelaku UMKM, tetapi bagi masa depan ekonomi Kepulauan Meranti itu sendiri.
Keputusan membuka cabang baru “Tentang Rasa”, meski usia gerai pertamanya belum genap dua bulan, bukanlah langkah gegabah. Di balik keputusan itu, ada desakan antusiasme para mitra UMKM yang terus tumbuh hingga ruang yang tersedia tak lagi mampu menampung semuanya.
Viola Natassa mengungkapkan, sejak awal beroperasi, minat pelaku UMKM untuk bergabung meningkat signifikan. Namun keterbatasan tempat memaksa pengelola melakukan pembatasan.
“Kenapa kita buka cabang lagi meskipun belum lama 'Tentang Rasa’ yang pertama beroperasi, itu karena antusiasme para mitra yang terus bertambah. Sampai-sampai kita harus menolak karena space tidak cukup. Untuk satu mitra pun kita batasi maksimal tujuh produk saja, tidak boleh lebih, supaya bisa memberi peluang bagi yang lain,” ujarnya.
Cabang baru ini bukan sekadar penambahan ruang, melainkan jawaban atas kebutuhan pelaku UMKM yang ingin berkembang. Di dalamnya, “Tentang Rasa” tak hanya menyediakan rak etalase, tetapi juga showcase dan chiller bagi produk makanan beku yang membutuhkan suhu tertentu. Semua fasilitas itu disiapkan agar produk UMKM tampil lebih profesional layaknya produk siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Bagi Viola, kualitas bukan persoalan utama bagi kuliner lokal Kepulauan Meranti. Justru sebaliknya, banyak produk memiliki rasa dan mutu yang sangat baik, namun belum dikenal luas karena minimnya akses promosi dan pemasaran.
“Konsepnya kita menjual semua produk makanan dan minuman dengan menyediakan tempat seperti rak etalase, showcase, dan chiller. Kita ingin menjual produk kuliner oleh-oleh Nusantara sekaligus mengakomodir UMKM lokal yang selama ini terkendala penjualan, supaya ekonomi masyarakat bisa bangkit,” tutur Viola.
"Selama ini produk UMKM kita banyak yang enak dan berkualitas, hanya saja banyak yang nggak tahu. Dengan begini, harapannya UMKM kita bisa maju," tuturnya lagi.
Kini, gerai kedua “Tentang Rasa” yang berlokasi di Jalan Alah Air telah menaungi 220 mitra UMKM dengan 780 jenis produk, lengkap dengan ketersediaan buah-buahan segar. Kehadirannya semakin memperkaya pilihan bagi masyarakat maupun wisatawan yang mencari oleh-oleh khas daerah.
Kebanggaan tersendiri dirasakan Viola ketika mengetahui bahwa “Tentang Rasa” mulai dikenal hingga ke luar negeri. Ia menyebut, sejumlah pengunjung bahkan datang dari Malaysia dan menjadikan tempat ini sebagai rujukan utama untuk berburu oleh-oleh khas Kepulauan Meranti.
Namun bagi Viola Natassa, perjalanan usaha tidak pernah dipandang sebagai jalan yang selalu menanjak. Ia memahami betul bahwa dalam dunia bisnis, pasang surut adalah keniscayaan. Yang terpenting, menurutnya, bukan bagaimana menghindari tantangan, melainkan bagaimana tetap melangkah dengan strategi dan semangat yang tak pernah padam.
Sebagai bagian dari upaya memperluas pasar UMKM, “Tentang Rasa” tidak berhenti pada penyediaan ruang fisik semata. Promosi terus digencarkan agar produk lokal semakin dikenal dan memiliki daya saing.
Viola dan tim “Tentang Rasa” juga menyiapkan langkah lebih jauh. Mereka memanfaatkan jaringan 1.000 reseller yang telah terbentuk dari usaha sebelumnya, “Serba Murah”, untuk mendistribusikan produk-produk UMKM Meranti ke berbagai daerah.
Dengan pendekatan tersebut, “Tentang Rasa” tidak hanya berfungsi sebagai etalase penjualan, tetapi juga menjadi penggerak dari sisi hulu mendorong UMKM agar tumbuh, terhubung dengan pasar yang lebih luas, dan berdiri lebih kokoh di tengah persaingan.
Dengan semangat itu pula, kehadiran “Tentang Rasa” bukan hanya sekadar toko kuliner, tetapi juga diharapkan menjadi ikon baru kuliner daerah dan pusat kolaborasi ekonomi rakyat tempat para pelaku UMKM saling menguatkan dan menumbuhkan identitas kuliner Kepulauan Meranti.
Di balik deretan rak yang dipenuhi aneka makanan titipan para mitra, “Tentang Rasa” menegakkan satu prinsip yang tak bisa ditawar yakni kualitas. Bagi Viola Natassa, menjual produk UMKM bukan sekadar menyediakan ruang, tetapi juga menjaga kepercayaan pelanggan yang datang dengan harapan pulang membawa kepuasan.
Viola menegaskan, setiap produk yang masuk tetap harus memenuhi standar rasa. Bahkan, pihaknya berani memberikan garansi kepada pelanggan. Jika rasa yang diterima tidak memuaskan, konsumen berhak menukar produk atau meminta uang kembali.
Komitmen itu tak hanya diucapkan, tetapi dituliskan secara jelas dan terbuka di dalam toko. Sebuah tulisan yang mudah terbaca pengunjung terpampang di dinding, berbunyi: “Garansi Rasa 100 Persen. Kami memberikan GARANSI RASA untuk semua produk. Jika rasa tidak memuaskan, boleh ditukar atau uang kembali. Karena kepuasan Anda adalah prioritas kami.”
“Kami memang memberikan garansi rasa 100 persen. Itu supaya pelanggan tidak sampai kecewa,” ujar Viola.
Ia menjelaskan, demi menjaga mutu, produk yang kualitasnya mulai menurun tidak akan ditampilkan di etalase. Pasokan dari mitra pun diatur dengan ritme tertentu agar makanan tetap segar, sekaligus mencegah kerugian di pihak pelaku UMKM.
“Semua kita atur sedemikian rupa. Mitra tidak kita minta memasok terlalu banyak, supaya kualitas terjaga dan mereka juga tidak rugi,” ungkapnya.
Namun bagi Viola, komitmen terhadap kualitas hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang yang baru saja dimulai. Ia menyadari, pertumbuhan UMKM tidak cukup hanya dengan menyediakan etalase dan niat baik. Dibutuhkan dukungan berkelanjutan agar para pelaku usaha benar-benar mampu naik kelas.
“Setelah kami bergerak mengakomodir pelaku UMKM, kami juga berharap mereka dilatih agar lebih terampil dan punya keahlian. Di sinilah peran pemerintah diharapkan hadir, supaya pemerintah dan swasta bisa berjalan beriringan membina UMKM,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya dorongan agar para mitra memiliki sertifikat halal, sebagai bagian dari jaminan kualitas dan kepercayaan konsumen. Menurutnya, seiring permintaan standar yang semakin tinggi, pendampingan menjadi hal yang tak terpisahkan.
“Peran pemerintah daerah dan lembaga pendukung UMKM sangat penting. Kami berharap ‘Tentang Rasa’ bisa menjadi mitra sinergi dalam upaya bersama membesarkan UMKM Meranti,” tambahnya.
Viola juga berharap instansi terkait dapat turut memfasilitasi perkembangan UMKM lokal, mulai dari kemudahan perizinan, pendampingan izin edar dan BPOM, hingga pelatihan peningkatan kualitas produk serta akses permodalan yang lebih terbuka.
Lebih dari sekadar ruang kuliner, kehadiran “Tentang Rasa” membawa angin segar bagi para pelaku UMKM Kepulauan Meranti yang selama ini berjuang dalam keterbatasan. Kini, mereka memiliki wadah untuk menampilkan karya, memperluas pasar, dan menumbuhkan harapan untuk berkembang bersama—dengan rasa, kepercayaan, dan kolaborasi sebagai fondasinya.
Di balik kesibukan melayani pelanggan dan mengelola ratusan produk UMKM, Viola Natassa bersama suaminya, Husnuzon, kerap larut dalam rasa haru. Bukan karena angka penjualan atau capaian omzet, melainkan karena testimoni para mitra yang datang silih berganti dan cerita-cerita kecil yang membawa makna besar.
Bagi pasangan ini, bisnis tidak pernah semata soal untung dan rugi. Lebih dari itu, mereka memaknainya sebagai jalan untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Dari mengajak ibu rumah tangga berkarya di dapur mereka sendiri, membuka ruang kerja bagi warga setempat, hingga membangun ekosistem usaha yang saling menguatkan dan tumbuh bersama.
“Bagi kami, yang penting adalah bagaimana sebuah usaha bisa bermanfaat, memberi peluang bagi banyak orang, dan membawa dampak baik,” ujar Husnuzon.
Nilai itulah yang melahirkan “Tentang Rasa” sebuah toko yang kini menaungi ratusan produk lokal dan kuliner lokal dan Nusantara. Setiap produk dikurasi dengan cinta dan kepercayaan, menjadi wadah bagi cita rasa terbaik para pelaku UMKM Kepulauan Meranti untuk menemukan jalannya ke pasar yang lebih luas.
Bagi sebagian orang, “Tentang Rasa” mungkin hanya tampak sebagai toko kuliner. Namun bagi Husnuzon dan Viola, tempat ini adalah wujud nyata dari mimpi kecil yang ingin mereka bagikan kepada banyak orang tentang bagaimana rasa dapat menyatukan, dan bagaimana dari sebuah rasa, harapan baru bagi ekonomi lokal dapat tumbuh.
“Melalui ‘Tentang Rasa’, kami ingin menghadirkan bukan hanya rasa yang lezat, tapi juga semangat kebersamaan. Toko ini kami bangun sebagai wadah tumbuh bersama, agar produk UMKM Meranti bisa dikenal lebih luas, dijual lebih layak, dan menjadi kebanggaan daerah kita sendiri,” tutur Husnuzon.
Cerita-cerita para mitra menjadi bukti bahwa mimpi itu perlahan menemukan bentuknya. Salah satunya datang dari seorang pelaku UMKM yang sempat terlilit hutang dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Produk yang ia titipkan di beberapa tempat sebelumnya tak kunjung laku. Hingga akhirnya ia mencoba menitipkan produknya di “Tentang Rasa”.
“Ada seorang mitra yang awalnya terlilit hutang. Produknya sudah dititipkan di beberapa tempat tapi tidak laku. Setelah mencoba di ‘Tentang Rasa’, perlahan produknya disukai dan akhirnya laku keras,” tutur Viola.
Perubahan itu membawa dampak besar. Dari yang sebelumnya kesulitan makan, kini ia mampu mencicil hutangnya hingga lunas. Bahkan, Viola mengisahkan, anak mitra tersebut yang sempat sakit kini telah sembuh, dan keluarga itu perlahan bangkit serta mampu berdiri sendiri meningkatkan taraf ekonominya.
Kisah lain datang dari seorang ibu rumah tangga yang memendam keinginan sederhana yakni ingin memiliki dapur sendiri yang layak dan nyaman. Niat itu lama tersimpan karena keterbatasan ekonomi. Namun setelah bergabung dan menitipkan produknya di “Tentang Rasa”, impian itu mulai terwujud.
“Alhamdulillah, sedikit demi sedikit ia mewujudkan impiannya sebagai ibu rumah tangga dengan memiliki dapur yang nyaman. Berkat bergabung di ‘Tentang Rasa’, mimpi itu terwujud. Dua bulan empat belas hari ia mengumpulkan cuan dari makanan yang dititipkan di sini,” ungkap Viola dengan nada haru.
Cerita-cerita itulah yang menguatkan langkah Husnuzon dan Viola. Bahwa di balik setiap produk yang terjual, ada kehidupan yang berubah. Dan di balik sebuah toko bernama “Tentang Rasa”, ada keyakinan bahwa ketika usaha dijalankan dengan empati dan kebersamaan, rasa bukan hanya soal lidah—tetapi juga tentang harapan, martabat, dan masa depan.
Apresiasi terhadap kehadiran “Tentang Rasa” terus mengalir dari para mitra yang merasakan langsung dampaknya. Salah satunya datang dari Sarinah, pelaku UMKM pemilik Rumah Produksi Rengginang Ibu Sarinah. Ia tak mampu menyembunyikan rasa harunya ketika melihat produk hasil olahan tangannya kini terpajang rapi di etalase “Tentang Rasa”.
“MasyaAllah, Alhamdulillah. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya mewakili Rumah Produksi Rengginang Ibu Sarinah kepada Kak Olla dan tim ‘Tentang Rasa’ atas hangatnya menyambut produk UMKM kami. Semoga usaha kami bisa semakin maju, selangkah demi selangkah ke depan. Wadah yang kami impikan bersama UMKM lain di Meranti akhirnya terwujud juga. Sukses selalu untuk usahanya, semoga lancar untuk usaha kita bersama,” ujarnya penuh rasa syukur.
Ungkapan serupa juga disampaikan oleh pelaku UMKM lainnya yang telah bergabung. Bagi mereka, kehadiran “Tentang Rasa” terasa berbeda dibandingkan tempat penitipan produk lainnya. Konsep yang diusung tak semata berorientasi bisnis, melainkan dibangun dengan rasa kekeluargaan dan keadilan dalam bermitra.
“Dengan hadirnya ‘Tentang Rasa’, kami para UMKM merasa sangat senang, apalagi ketika diterima menjadi mitra. Tempat ini memberi peluang bagi kami untuk tampil satu langkah lebih maju, bersaing secara sehat, dan diperlakukan sama rata dengan produk lainnya,” ungkap salah seorang mitra UMKM.
Ia menambahkan, sistem kemitraan yang diterapkan jauh lebih bersahabat. Tidak ada kewajiban membayar rak khusus agar produk dipajang di bagian depan, dan sistem konsinyasi tidak dipatok dengan persentase kaku sebagaimana yang kerap ditemui di tempat lain. Semua dijalankan dengan fleksibilitas dan saling percaya.
“Tentang Rasa’ hadir dengan sistem kekeluargaan, tidak mematok banyak hal seperti di luar sana. Kami merasa diperlakukan sama rata dan lebih bersahabat. Semoga ‘Tentang Rasa’ terus berkembang bersama UMKM, sesuai dengan mimpi dan harapan owner-nya memberi arti dan manfaat bagi sesama,” tuturnya.
Dari setiap kata yang terucap, tampak jelas bahwa “Tentang Rasa” telah melampaui perannya sebagai toko kuliner. Ia menjadi ruang harapan—tempat para pelaku usaha kecil menemukan kembali semangat untuk melangkah, tumbuh, dan bermimpi.
Dari kisah puluhan pelaku UMKM lainnya, semakin terlihat bahwa “Tentang Rasa” hadir dengan jiwa yang berbeda. Ia tidak hanya menampung produk, tetapi juga menampung harapan, terutama bagi para perempuan yang ingin mandiri secara ekonomi tanpa harus meninggalkan peran mereka di rumah.
Kini, “Tentang Rasa” menjadi simbol bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kadang, ia berawal dari sebuah etalase sederhana dan dari ruang yang memberi kesempatan, kepercayaan, serta keyakinan bahwa setiap orang berhak tumbuh bersama.
Gerai “Tentang Rasa” yang berlokasi di Jalan Alah Air menjadi penanda babak baru perjalanan usaha Viola Natassa dan sang suami, Husnuzon. Cabang ini merupakan usaha keempat yang mereka rintis, dan hingga kini telah membuka lapangan pekerjaan bagi 40 karyawan. Sebuah capaian yang lahir dari proses panjang, bukan dari kemewahan atau kemudahan.
Perjalanan mereka tidak dimulai dari modal besar. Dengan segala keterbatasan, Viola dan Husnuzon melangkah perlahan, menata mimpi setapak demi setapak. Jalan yang mereka tempuh dipenuhi tantangan, namun tekad untuk bertahan dan keyakinan untuk terus mencoba menjadi bahan bakar utama hingga mereka sampai pada titik ini.
Sebelum “Tentang Rasa” dikenal luas, pasangan ini lebih dulu membangun Toko Serba Murah—usaha yang kini berkembang pesat dengan ribuan reseller di berbagai daerah. Kesuksesan tersebut menjadi bukti ketekunan dan keberanian mereka dalam membaca peluang, sekaligus pijakan kuat untuk melangkah ke usaha-usaha berikutnya.
Namun jauh sebelum itu, kisah mereka bermula dari sesuatu yang sangat sederhana. Dengan semangat muda dan keyakinan yang tak pernah padam, Viola dan Husnuzon pernah menjajakan barang-barang pecah belah kebutuhan rumah tangga di pinggir jalan. Panas terik matahari, hujan, hingga sepinya pembeli menjadi bagian dari keseharian yang mereka jalani tanpa keluh.
Dari keuntungan kecil yang disisihkan sedikit demi sedikit, mereka akhirnya mampu menyewa sebuah rumah agar bisa berjualan lebih leluasa. Ketekunan itu terus menuntun langkah mereka hingga mampu menyewa sebuah ruko, tempat usaha yang kini berdiri kokoh dan telah memasuki tahun ketujuh perjalanan.
Dari ruko pertama itulah lahir “Serba Murah Group”, yang berkembang menjadi jaringan usaha dengan puluhan karyawan, seluruhnya merupakan warga lokal. Tak berhenti di sana, Viola dan Husnuzon kembali memperluas sayap dengan membuka toko fesyen, membuktikan bahwa mimpi yang dirawat dengan kerja keras akan tumbuh melampaui batas awalnya.
Nilai ketulusan dan kebersamaan yang mereka pegang teguh menjadi fondasi kuat dalam mengelola usaha. Prinsip itu pula yang menjaga loyalitas para karyawan. Hingga kini, tidak satu pun dari mereka berhenti bekerja karena persoalan internal.
Sebagai bentuk apresiasi, Viola tak segan memberikan reward perjalanan ke luar negeri kepada para karyawannya setiap akhir tahun. Malaysia, Singapura, hingga Thailand telah mereka kunjungi bersama—bukan sekadar perjalanan, tetapi simbol penghargaan atas kerja keras yang dijalani bersama.
Bahkan, satu karyawan yang menjadi pekerja pertama sejak awal usaha kini mendapatkan hadiah istimewa yakni pemberangkatan umroh pada Februari ini.
“Ini bagian dari motivasi kepada karyawan kami. Umroh yang diberikan adalah bentuk penghargaan atas dedikasinya sebagai karyawan pertama yang berjuang bersama kami. Selain sebagai wujud syukur, ini juga titipan dari Allah SWT, karena kita tidak pernah tahu rezeki seseorang datang dari mana,” tutur Viola.
Kisah Viola Natassa dan Husnuzon bukan sekadar cerita sukses dalam berdagang. Lebih dari itu, ia adalah kisah tentang ketulusan, kebersamaan, dan kepercayaan serta nilai-nilai yang menumbuhkan harapan di tengah masyarakat Kepulauan Meranti. Dari pinggir jalan hingga membangun ruang usaha yang mapan, keduanya membuktikan bahwa ketika usaha dijalankan dengan hati, keberkahan akan tumbuh bersama semua yang terlibat di dalamnya. (R-01).

