Alumni Faperika Universitas Riau Buntora Pasaribu Terpilih Jadi Periset Muda Terbaik 2025, Ini Fokus Kajiannya
Sehari-hari Dr. Buntora Pasaribu merupakan dosen HQT Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) di Universitas Padjadjaran (Unpad). Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPK) Universitas Riau Dr Buntora Pasaribu mencetak prestasi gemilang dalam dunia riset. Buntora yang kini bertugas sebagai dosen bertalenta tinggi (High Quality Talent/HQT) di Universitas Padjadjaran (Unpad), dinobatkan sebagai periset muda terbaik Indonesia 2025.
Anugerah periset muda terbaik 2025 diberikan oleh Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam ajang Young Researcher Award (YRA) 2025 pada Selasa (16/12/2025) lalu. Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan oleh Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria.
Buntora Pasaribu, yang kini berusia 39 tahun, merupakan lulusan S1 Teknologi Perikanan Universitas Riau 2008. Gelar master bidang bioteknologi kelautan diperolehnya dari Universitas Nasional Dong Hwa, Taiwan, pada 2013. Kemudian pada 2017 ia meraih gelar doktor bidang bioteknologi di Universitas Nasional Chung Hsing, Taiwan, sambil bekerja di sana selama satu tahun.
Ajang Young Researcher Award (YRA) 2025 melibatkan ratusan pendaftar dari dalam dan luar negeri sebelum mengerucutkan menjadi 23 finalis terbaik, yang berasal dari sektor krusial pertanian, kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan. Buntora telah melalui tiga tahap seleksi yang ketat sebelum akhirnya dinyatakan menjadi pemenang.
Bagi PPI, kontribusi ilmiah Dr. Buntora mencerminkan wajah baru riset Indonesia yang kritis, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan masa depan.
Riset Kesehatan Laut Indonesia
Dr. Buntora konsisten mengembangkan riset kesehatan laut Indonesia melalui pendekatan molekular dan multidisipliner, yang mengaitkan isu energi, sumber daya air, polusi, hingga sekuester karbon laut.
“Pendekatan lintas-organisme dan multidisipliner ini membuka perspektif baru dalam memahami respons dan adaptasi ekosistem laut dangkal. Sekaligus memperkuat posisi riset kelautan Indonesia di tingkat nasional dan internasional,” ujar Buntora, dikutip dari situs Unpad.
Selama ini, Dr. Buntora fokus pada biosistem laut dangkal di departemen ilmu kelautan. Dr. Buntora sempat bekerja sebagai postdoctoral associate di Amerika Serikat, melanjutkan riset pemenang Wolf Prize (Nobel Prize bidang Pertanian) dengan misi memetakan kode genetik tanaman air untuk energi terbarukan.
Keberhasilan Buntora kini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi dunia. Menurutnya, untuk bisa sampai Nobel, riset harus didukung infrastruktur, tim, dan sistem yang bagus. Sebab tanpa itu periset tidak dapat membuat hal-hal baru.
Kesempatan Indonesia untuk menjadi “Nobel person” sangatlah tinggi karena kompleksitas lingkungan dan sistem sosial.
Bekerja 4 Tahun di Amerika Serikat
Usai menamatkan pendidikan doktoralnya, Buntora bekerja di Amerika Serikat pada 2018-2022.
“Saya ditantang untuk meneruskan proyek riset dari pemenang Wolf Prize 2013 Joachim W. Messing,” ujarnya.
Tugas Buntora pada riset itu adalah membuat peta genetik tanaman air yang saat itu belum terpecahkan hingga semuanya bisa terkuak untuk energi terbarukan.
Adapun puluhan publikasi risetnya yang terentang sejak 2014 sampai sekarang lebih banyak mengenai kelautan di Indonesia, khususnya kondisi kesehatan laut ditilik dari sejumlah biota laut sebagai indikatornya.
Tema penelitiannya yang berkolaborasi dengan peneliti kolega, antara lain terkait dengan perubahan iklim, polusi laut, juga biologi sel dan molekuler pada tumbuhan, biokimia dan bioteknologi pada tumbuhan dan organisme perairan.
Lokasi risetnya di laut sekitar Pangandaran, Laut Jawa, perairan Lombok, Flores, dan Bangka Belitung. Sejak 2013 sampai sekarang Buntora masih meneliti karang, juga mikroorganisme, dan tanaman di laut.
“Tingkat degradasi kualitas laut kita menurun karena buangan logam berat dari industri, sampah plastik, sehingga ikan-ikan berkurang,” kata Buntora. (R-03)

